Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah Implan Koklea: Perjalanan Panjang Menuju Suara
ilustrasi seorang bayi menggunakan implan koklea (commons.wikimedia.org/Bjorn Knetsch)
  • Sejarah implan koklea berawal dari eksperimen listrik pada telinga, lalu berkembang lewat sejumlah tim peneliti dan dokter.

  • Perubahan besar terjadi ketika peneliti beralih dari satu elektroda ke perangkat multikanal yang dapat mengirimkan pola sinyal berbeda.

  • Implan koklea modern membantu memberi akses pada suara, tetapi tidak mengembalikan pendengaran normal. Penggunanya perlu belajar mengenali suara melalui perangkat tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 1957, di sebuah ruang operasi di Paris, harapan muncul dari sebuah percobaan yang sangat berani. Dua dokter, André Djourno dan Charles Eyriès, mencoba membantu seorang pasien yang tidak dapat mendengar dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka menempatkan elektroda di dekat saraf pendengaran dan mengalirkan arus listrik.

Lalu sesuatu terjadi. Untuk pertama kalinya, pasien itu merasakan sensasi suara.

Saat itu, hasilnya masih jauh dari sempurna. Suara yang terdengar belum menyerupai percakapan, nada sulit dibedakan, dan alat tersebut hanya berfungsi selama beberapa minggu. Namun bagi dunia kedokteran, momen itu menjadi bukti bahwa pendengaran bisa dibantu melalui rangsangan listrik. Dari percobaan sederhana dan penuh ketidakpastian itulah perjalanan menuju implan koklea modern akhirnya dimulai.

1. Sebelum ada implan, listrik lebih dulu menimbulkan sensasi

Jauh sebelum perangkat ditanam di telinga, para ilmuwan mencoba mengetahui apakah listrik dapat memicu sensasi pendengaran.

Pada tahun 1800, fisikawan Italia Alessandro Volta bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan percobaan. Ia mengalirkan listrik ke telinganya dan merasakan sensasi yang tidak nyaman. Namun di balik rasa sakit itu, ia mendengar sesuatu yang tidak pernah ia duga, yaitu bunyi seperti derak atau gelembung. Temuan tersebut membuka sebuah kemungkinan baru, bahwa listrik ternyata dapat memengaruhi sistem pendengaran.

Lebih dari satu abad kemudian, percobaan Djourno dan Eyriès di Paris, Prancis, membawa gagasan itu ke ruang operasi. Pada 1957, mereka mencoba merangsang saraf di dekat telinga dalam seorang pasien tuli menggunakan elektroda. Secara teknis, alat tersebut belum bisa disebut implan koklea modern karena elektroda tidak ditempatkan di dalam koklea, melainkan di dekat saraf yang berhubungan dengan keseimbangan tubuh.

Meski begitu, sesuatu yang penting terjadi. Pasien tersebut merasakan sensasi suara. Bagi dunia kedokteran dan mereka yang hidup dalam keheningan, sensasi suara yang muncul memberi harapan bahwa sinyal listrik dapat diteruskan ke jalur pendengaran.

2. Pada 1961, elektroda pertama kali masuk ke koklea

Kabar tentang percobaan di Paris sampai ke klinik dokter telinga William House di Los Angeles, Amerika Serikat. Terinspirasi oleh laporan itu, House bekerja bersama ahli bedah saraf John Doyle untuk mengembangkan perangkat yang elektrodanya benar-benar masuk ke koklea.

Pada 1961, mereka menanamkan elektroda berupa satu kawat melalui bagian telinga dalam. Langkah ini dianggap sebagai awal implan koklea dalam pengertian teknis, yang mana elektroda ditempatkan di dalam koklea, tak lagi di dekat saraf pendengaran.

Perangkat awal tersebut masih jauh dari implan masa kini. Satu saluran rangsangan listrik belum mampu menyampaikan banyak informasi tentang nada dan suara. Para dokter dan insinyur kemudian mencari cara agar perangkat bisa mengirimkan pola sinyal yang lebih kaya.

3. Banyak tim mencoba membuat suara lebih mudah dikenali

Prosesor implan koklea generasi keempat (sekitar 2021) yang dikenakan di belakang telinga. Perangkat ini mengirimkan data melalui gelombang radio ke implan yang ditanam di dalam tengkorak pengguna. (commons.wikimedia.org/MikeCore9918)

Pada tahun 1964, peneliti Blair Simmons dan Robert White menanamkan elektroda enam saluran. Pada tahun-tahun berikutnya, tim lain juga mengembangkan perangkat dengan beberapa elektroda.

Gagasan utamanya, apabila bagian koklea yang berbeda dirangsang, otak mungkin menerima informasi yang lebih beragam tentang tinggi-rendahnya suara.

Salah satu tonggak berikutnya datang dari Vienna, Austria. Pada tahun 1977, tim yang melibatkan Ingeborg dan Erwin Hochmair serta dokter Kurt Burian menanamkan perangkat mikroelektronik delapan saluran.

Setahun kemudian, tim Graeme Clark di Melbourne, Australia, menanamkan perangkat multikanal pada Rod Saunders. Perkembangan ini bukan hasil kerja satu orang saja: dokter, insinyur, peneliti, dan audiolog bekerja bersama untuk memperbaiki elektroda, keamanan, serta cara perangkat mengolah suara.

4. Rod Saunders menjadi bagian dari momen yang mengubah sejarah

Pada 1 Agustus 1978, Rod Saunders menerima implan multikanal dari tim Clark. Saunders kemudian menunjukkan bahwa ia dapat mendengar dan memahami ucapan. Bagi tim yang bertahun-tahun merancang, menguji, dan memperbaiki perangkat, momen itu menandai awal keberhasilan sebuah alat.

Clark mengenang dirinya begitu terharu hingga masuk ke laboratorium sebelah dan menangis bahagia. Pengalaman Saunders menunjukkan bahwa rangsangan listrik yang diatur melalui beberapa saluran dapat membantu seseorang menangkap ucapan dengan cara yang sebelumnya belum tercapai oleh perangkat awal. Perangkat yang dikembangkan tim Melbourne itu kemudian menjadi dasar implan multikanal komersial Cochlear/Nucleus.

5. Persetujuan regulator membuka jalan menuju penggunaan klinis

Setelah bertahun-tahun berada di laboratorium dan ruang operasi, implan koklea akhirnya mencapai titik penting. Pada 1984, FDA Amerika Serikat menyetujui sistem implan koklea yang dikembangkan William House. Setahun kemudian, persetujuan juga diberikan untuk Nucleus, salah satu implan koklea multikanal.

Bagi para peneliti, dokter, dan pasien yang menantikan terobosan ini, momen tersebut menandai awal babak baru. Implan koklea tidak lagi sekadar percobaan yang hanya tersedia dalam penelitian, tetapi mulai menjadi teknologi medis yang dapat digunakan secara klinis untuk membantu pasien yang memenuhi kriteria kembali terhubung dengan suara.

6. Implan membantu otak belajar mengenali sinyal suara

ilustrasi seorang anak menggunakan implan koklea (commons.wikimedia.org/Matt Ralph)

Implan koklea modern memiliki bagian luar yang menangkap dan mengolah suara, serta bagian dalam yang mengirimkan impuls listrik melalui elektroda di koklea untuk merangsang saraf pendengaran. Otak kemudian belajar menafsirkan sinyal tersebut sebagai suara.

Perangkat ini tidak mengembalikan pendengaran normal. Suara yang diterima melalui implan terasa berbeda dan perlu waktu untuk dipelajari. Setelah operasi, pengguna biasanya menjalani penyesuaian perangkat dan terapi bersama audiolog atau terapis wicara-bahasa. Hasilnya pun tidak sama pada setiap orang.

Implan koklea tidak dibangun dalam semalam. Teknologi ini lahir dari puluhan tahun percobaan, kegagalan, dan kerja sama banyak ilmuwan. Kini, implan koklea menjadi salah satu pilihan bagi sebagian orang dengan gangguan pendengaran berat atau tuli, meski manfaat dan pengalaman setiap penggunanya bisa berbeda-beda.

Referensi

Corinne Williams, “Hearing Restoration: Graeme Clark, Ingeborg Hochmair, and Blake Wilson Receive the 2013 Lasker–DeBakey Clinical Medical Research Award,” Journal of Clinical Investigation 123, no. 10 (October 1, 2013): 4102–6, https://doi.org/10.1172/JCI72707.

Albert Mudry and Mara Mills, “The Early History of the Cochlear Implant: A Retrospective,” JAMA Otolaryngology–Head & Neck Surgery 139, no. 5 (2013): 446–53, https://doi.org/10.1001/jamaoto.2013.293.

University of Melbourne, “Turning Silence into Sound,” diakses 10 Oktober 2026.

U.S. Food and Drug Administration, “3M Brand Cochlear Implant System/House Design,” Premarket Approval P830069, decision November 26, 1984, diakses Oktober 2026.

U.S. Food and Drug Administration, “Nucleus Multichannel Implantable Hearing Prosthesis,” Premarket Approval P840024, decision October 31, 1985, diakses Oktober 2026.

National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, “Cochlear Implants,” diakses Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article