Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dokter: TBC 1 Bulan Hanya untuk Infeksi Laten

3 min read
Dokter: TBC 1 Bulan Hanya untuk Infeksi Laten
Sejumlah obat TBC. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Terapi TBC satu bulan hanya ditujukan untuk pencegahan pada infeksi TBC laten, saat kuman belum menyebabkan gejala maupun penularan.

  • Sebelum terapi pencegahan dimulai, tenaga kesehatan perlu menyingkirkan kemungkinan TBC aktif dan menilai regimen yang sesuai.

  • Pengobatan TBC aktif umumnya berlangsung enam bulan; sebagian pasien yang memenuhi kriteria dapat menjalani regimen empat bulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabar tentang pengobatan TBC yang bisa berlangsung satu bulan bisa dengan mudah terdengar seperti semua pasien menuntaskan terapi lebih cepat. Namun, satu bulan yang dimaksud adalah terapi pencegahan untuk infeksi TBC (TBC laten), bukan pengobatan penyakit TBC aktif.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), dalam sebuah artikel mengingatkan bahwa kedua kondisi tersebut berbeda.

“Beberapa regimen pencegahan untuk TBC laten memang berlangsung satu bulan, tetapi tidak dapat dijadikan dasar bahwa TBC aktif sembuh dalam durasi sama,” katanya, mengutip situs resmi IPB University. “Jadi pengobatan 1 bulan, hanya untuk TBC Laten, bukan TBC aktif."

  1. 1. TBC laten dan TBC aktif bukan hal yang sama

    Pada TBC laten, kuman sudah masuk ke tubuh, tetapi belum menyebabkan sakit. Orang dengan TBC laten umumnya tidak bergejala dan tidak menularkan penyakit.

    Sebagian orang dapat mengalami perkembangan menjadi TBC aktif, yang dapat menimbulkan gejala dan, jika menyerang paru, menular melalui udara.

  2. 2. Terapi satu bulan ditujukan untuk pencegahan

    Salah satu regimen terapi pencegahan disebut 1HP, yaitu kombinasi isoniazid dan rifapentine yang diminum setiap hari selama satu bulan.

    WHO mencantumkannya sebagai salah satu pilihan terapi pencegahan. Pedoman teknis Kementerian Kesehatan RI tahun 2025 juga memasukkan 1HP untuk usia 13 tahun ke atas.

    Bukti uji klinis untuk regimen 1HP antara lain berasal dari studi pada orang dengan HIV. Dalam uji yang melibatkan 3.000 peserta, regimen satu bulan dibandingkan dengan isoniazid selama sembilan bulan untuk mencegah TBC. Angka penyelesaian terapi lebih tinggi pada kelompok 1HP, yaitu 97 persen dibanding 90 persen.

  3. 3. TBC aktif memerlukan regimen yang berbeda

    Ilustrasi obat untuk pasien tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari pengobatan dan perawatan kesehatan.
    ilustrasi obat pasien TBC (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Untuk TBC sensitif obat, pedoman Kemenkes mencantumkan regimen enam bulan, yaitu dua bulan kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol, kemudian empat bulan isoniazid dan rifampisin.

    Ada pula regimen empat bulan untuk pasien tertentu—misalnya pasien TBC paru berusia minimal 12 tahun dengan berat badan di atas 40 kilogram—tetapi pemilihannya bergantung pada kriteria klinis dan ketersediaan obat.

    Studi Study 31/A5349 yang terbit dalam The New England Journal of Medicine mendukung regimen empat bulan dengan kombinasi obat tertentu pada peserta yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil tersebut tidak berarti semua pasien TBC aktif dapat menggunakan regimen yang lebih singkat.

  4. 4. Jangan memulai atau menghentikan obat sendiri

    Terapi pencegahan baru diberikan setelah TBC aktif disingkirkan melalui penilaian oleh dokter dan pemeriksaan yang diperlukan. Sebaliknya, pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC aktif tidak sebaiknya menghentikan obat sendiri saat batuk mulai mereda. Menghentikan obat terlalu cepat atau tanpa arahan dokter dapat menyebabkan resistansi bakteri terhadap obat.

    “Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TBC paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,” kata Dr. Desdiani.

    Jika muncul efek samping atau kesulitan menjalani terapi, hubungi dokter yang menangani.

    Jadi, pengobatan TBC satu bulan merupakan terapi pencegahan untuk TBC laten pada orang yang memenuhi syarat. TBC aktif memerlukan regimen pengobatan tersendiri, yang durasinya ditentukan berdasarkan kondisi pasien.

    Referensi

    IPB University, “Pengobatan TBC Diringkas Jadi Satu Bulan, Dokter IPB University: Hanya untuk TBC Laten,” diakses 30 Oktober 2026.

    World Health Organization, “Tuberculosis,” diakses 30 Oktober 2026.

    World Health Organization, "WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 1: Prevention—Tuberculosis Preventive Treatment, 2nd ed.," diakses 30 Oktober 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, "Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia," diakses 30 Oktober 2026.

    Susan Swindells et al., “One Month of Rifapentine plus Isoniazid to Prevent HIV-Related Tuberculosis,” New England Journal of Medicine 380, no. 11 (2019): 1001–11, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1806808.

    Susan E. Dorman et al., “Four-Month Rifapentine Regimens with or without Moxifloxacin for Tuberculosis,” New England Journal of Medicine 384, no. 18 (2021): 1705–18, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2033400.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More