Referensi
Yasmeen Al-Hindawi et al., “Post-Tuberculosis Lung Disease,” Breathe 22, no. 1 (2026): 250243, https://doi.org/10.1183/20734735.0243-2025.
Joshua Taylor, Mayara Lisboa Bastos, Sophie Lachapelle-Chisholm, Nancy E. Mayo, James Johnston, and Dick Menzies, “Residual Respiratory Disability after Successful Treatment of Pulmonary Tuberculosis: A Systematic Review and Meta-Analysis,” eClinicalMedicine 59 (2023): 101979, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2023.101979.
Sharenja Ratnakumar et al., “Post-Pulmonary Tuberculosis Lung Function: A Systematic Review and Meta-Analysis,” The Lancet Global Health 13, no. 6 (2025): e1020–29, https://doi.org/10.1016/S2214-109X(25)00105-6.
G. B. Migliori et al., “Clinical Standards for the Assessment, Management and Rehabilitation of Post-TB Lung Disease,” The International Journal of Tuberculosis and Lung Disease 25, no. 10 (2021): 797–813, https://doi.org/10.5588/ijtld.21.0425.
World Health Organization, “Tuberculosis,” Fact Sheet, diakses 24 Oktober 2026.
Setelah Sembuh dari TBC, Ini yang Terjadi pada Paru-paru

TBC paru dapat meninggalkan perubahan pada paru meski pengobatan berhasil. Namun, ini tidak dialami oleh semua penyintas dan tidak otomatis berarti TBC masih aktif.
Bekas kerusakan dapat berupa jaringan parut, saluran napas yang melebar, atau penurunan fungsi paru. Keluhannya bisa berupa batuk, dahak, mengi, dan sesak.
Batuk yang menetap atau muncul kembali perlu diperiksa. Gejalanya bisa berasal dari kerusakan sisa, tetapi TBC aktif atau masalah lain juga perlu disingkirkan.
Bagi orang yang sudah menjalani pengobatan tuberkulosis (TBC) selama berbulan-bulan, dosis terakhir bisa terasa sangat melegakan.Namun, sebagian penyintas masih batuk, mudah lelah, atau sesak ketika berjalan cepat dan menaiki tangga. Pengobatan yang berhasil mengatasi kuman tidak selalu mengembalikan paru ke kondisi semula.
Kondisi ketika gangguan paru menetap setelah TBC paru berhasil diobati dikenal sebagai penyakit paru pasca-TBC atau post-tuberculosis lung disease (PTLD). Perubahannya dapat terlihat pada pemeriksaan paru, dirasakan sebagai gejala, atau keduanya. Kondisi ini tidak otomatis berarti TBC masih aktif atau pengobatan gagal.
Table of Content
Bekas kerusakan yang mungkin terjadi
Saat TBC meradang dan merusak jaringan paru, sebagian perubahan dapat menetap setelah kuman berhasil diatasi. Bekasnya bisa berupa jaringan parut atau fibrosis, rongga pada paru, maupun kerusakan saluran napas yang membuatnya melebar, yang disebut bronkiektasis. Saluran napas yang rusak bisa lebih sulit membersihkan dahak.
TBC juga dapat mengganggu aliran udara atau mengurangi kemampuan paru mengembang. Akibatnya, seseorang mungkin mengalami batuk berdahak, mengi, sesak saat beraktivitas, cepat lelah, atau infeksi saluran napas berulang. Ada pula penyintas yang tidak merasakan keluhan, tetapi hasil pemeriksaan fungsi parunya menunjukkan perubahan.
Metaanalisis terhadap 42 studi menemukan hasil spirometri abnormal pada sekitar 59 persen peserta yang pernah mengalami TBC paru, dibandingkan 5,4 persen pada kelompok pembanding. Namun, hasil antarstudi sangat bervariasi.
Tinjauan metaanalisis lain yang terbit pada 2025 juga menemukan bahwa fungsi paru penyintas TBC paru cenderung lebih rendah dibandingkan orang tanpa riwayat TBC.
Kapan perlu diperiksa?

ilustrasi pemeriksaan dokter pasca-TBC (pexels.com/Vitaly Gariev) Batuk atau sesak setelah pengobatan tidak selalu berarti TBC kambuh. Namun, gejala yang menetap, memburuk, atau muncul kembali perlu dibicarakan dengan dokter.
Dokter dapat menilai riwayat pengobatan dan menentukan pemeriksaan yang dibutuhkan, misalnya foto rontgen, spirometri untuk mengukur fungsi paru, atau pemeriksaan dahak bila ada kecurigaan TBC aktif. Standar klinis pasca-TBC menekankan penilaian gejala dan fungsi paru serta rehabilitasi sesuai kebutuhan pasien.
Jangan menunda pemeriksaan jika mengalami batuk berkepanjangan disertai demam, keringat malam, berat badan turun tanpa sebab, atau darah pada dahak. Gejala tersebut dapat menandakan TBC aktif atau gangguan lain yang memerlukan evaluasi. Pemeriksaan medis diperlukan untuk membedakannya dari kerusakan sisa.
Penanganan penyakit paru pasca-TBC bergantung pada jenis kerusakan paru dan gejala yang dialami. Sebagian pasien dapat memperoleh manfaat dari rehabilitasi paru, sementara yang lain memerlukan terapi untuk mengatasi gangguan saluran napas, membantu pengeluaran dahak, atau menangani infeksi yang sering kambuh. Karena itu, meski pengobatan TBC hingga tuntas sangat penting, pemulihan fungsi paru sering kali memerlukan penanganan lanjutan yang spesifik.
















![[QUIZ] Tes Buta Warna, Uji Kepekaan Matamu dengan Menebak Gambar Hewan Ini](https://image.idntimes.com/post/20241121/cara-lolos-tes-buta-warna-c8e8eb9980313e606e3628ef330fc5db.jpg)






