"Prevalensi migrain dalam 1 tahun meningkat seiring usia antara laki-laki dan perempuan, mencapai maksimal usia 35–45 tahun. Prevalensi meningkat pada kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah," jelas dr. Devi.
Strategi Efektif Mengatasi Migrain Menurut Dokter Saraf, Cobain!

- Migrain menempati urutan nomor dua sebagai penyakit penyebab disabilitas tertinggi di dunia, baik pada perempuan maupun laki-laki.
- Migrain lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki, dengan rasio 3:1. Di Indonesia, prevalensi migrain berkisar antara 11.000–12.000 per 100.000 jiwa.
- Migrain bisa dipicu oleh faktor genetik, hormonal, stres, makanan tertentu, obat analgesik berlebihan, dan lainnya.
Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) didukung PT Pfizer Indonesia baru saja menggelar Acara Puncak Bulan Kesadaran Migrain pada Rabu (3/7/2024) di Jakarta.
Dalam diskusi edukatif bertajuk "Ambil Kendali, Atasi Migrain", acara ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya pengelolaan migrain yang tepat.
Berdasarkan studi Global Burden of Disease 2019, migrain menempati urutan nomor dua sebagai penyakit penyebab disabilitas tertinggi di dunia, baik pada perempuan maupun laki-laki. Studi menunjukkan, lebih dari 1 miliar orang di dunia setidaknya pernah mengalami satu kali episode migrain dalam hidupnya.
1. Prevalensi migrain di Indonesia

Ketua Pokja Nyeri Kepala PERDOSNI dr. Devi Ariani Sudibyo, SpN(K), menyampaikan bahwa angka insiden migrain secara global berkisar pada 8,1 per 1.000 orang setiap tahun.
Migrain lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki, dengan rasio 3:1. Di Indonesia, prevalensi migrain berkisar antara 11.000–12.000 per 100.000 jiwa.
Migrain juga dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama pada jenis migrain dengan aura. Ini adalah jenis migrain yang ditandai dengan permasalahan sensorik, seperti terdapat kilatan cahaya, kesulitan berbicara, atau sensasi kesemutan pada salah satu sisi wajah.
Sebanyak 25 persen dari penderita migrain akan mengalami 4 hari atau lebih (per bulan) serangan migrain dengan skala nyeri berat. Sekitar 35 persen hanya mengalami nyeri berat selama 3 hari, sedangkan 40 persen sisanya 1 hari setiap bulan.
2. Kenali pemicu migrain

Dalam sesi diskusi selanjutnya, dr. Isti Suharjanti, SpN(K) dari PERDOSNI menjelaskan bahwa migrain adalah kondisi yang sering kali disalahpahami. Kondisi migrain bisa berdampak signifikan pada semua aspek kehidupan, termasuk kemampuan untuk bekerja, hubungan sosial, dan kesehatan mental.
"Oleh sebab itu, sangat penting bagi penyandang migrain untuk mengembangkan strategi sesuai kondisinya untuk mencegah migrain atau mengelola gejala secara lebih baik saat serangan muncul,” jelas dr. Isti.
Migrain bisa dipicu oleh bermacam-macam faktor, termasuk perubahan hormonal, stres, konsumsi makanan tertentu (seperti keju, alkohol, kafein), istirahat tidak teratur, bau yang menyengat, cahaya terang, hingga konsumsi terlalu banyak obat.
Dalam mengatasi migrain, dr. Isti mengingatkan untuk tidak gampang mengonsumsi obat analgesik atau obat pereda nyeri. Dengan konsumsi obat analgesik yang berlebihan, ini malah bisa memperparah kondisi migrain.
Obat analgesik sebaiknya tidak digunakan lebih dari 5 hari. Jika migrain tak kunjung hilang walaupun sudah mengonsumsi obat, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
3.Tips mengelola migrain dari dokter saraf

Dalam berbagi pengalaman sebagai pejuang migrain, Prof. Dr. dr. Hasan Sjahrir, SpN(K), spesialis saraf dari PERDOSNI, menjelaskan beberapa strategi untuk mencegah serangan migrain.
Karena pemicu serangan migrain berebeda-beda bagi setiap individu, Prof. Hasan menyarankan untuk memahami kondisi migrain yang dialami. Untuk melakukannya, kamu bisa mencatat kapan migrain terjadi dan aktivitas apa yang kamu lakukan sebelum serangan migrain menghantam.
Prof. Hasan juga menyarankan untuk minum lebih banyak air, memperhatikan pilihan makanan, mempelajari teknik manajemen stres, memperhatikan cuaca, serta makan dan istirahat dengan jadwal reguler.
"Ini merupakan salah satu upaya untuk mengambil kendali dalam mengatasi migrain," jelas Prof. Hasan.
Migrain bisa menjadi kondisi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, dengan penanganan yang tepat, frekuensi serangan migrain bisa dikurangi secara signifikan. Mengenali pemicu pribadi dan mengambil langkah pencegahan melalui pola hidup sehat dan mengikuti perawatan dari dokter jika diperlukan merupakan kunci dalam mengelola migrain.




![[QUIZ] Dari Cara Kamu Mengisi Akhir Pekan, Ini Tingkat Kelelahan Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250528/pexels-ron-lach-8086364-5611c69f0b6b05a5c2fda3b1e8b2cb00.jpg)

![[QUIZ] Dari Outfit Gym Kamu, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260222/13746_6ad6395a-d1b1-411c-825c-b6d6f4dfc0c3.jpg)



![[QUIZ] Pilih Otot yang Ingin Dibentuk, Kami Rekomendasikan Latihannya](https://image.idntimes.com/post/20240705/anastase-maragos-fp7cfyppukm-unsplash-77608e651ffd65a27bc7ca3ab51d5a4c-9ee8fcedf24c176618a81cd66dfe2478.jpg)





![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Karakter Upin & Ipin Ini?](https://image.idntimes.com/post/20240731/kuis-tebak-karakter-upin-ipin-6-55566cf7f1ec9f5b672c87a76e3236d7.jpg)

