Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Setelah Serangan Jantung, Bolehkah Lari Lagi?

Setelah Serangan Jantung, Bolehkah Lari Lagi?
ilustrasi serangan jantung (vecteezy.com/Napong Rattanaraktiya)
Intinya Sih
  • Banyak penyintas serangan jantung dapat kembali berlari, namun harus melalui proses pemulihan bertahap dengan fokus utama pada keamanan dan evaluasi kondisi jantung terlebih dahulu.
  • Rehabilitasi jantung menjadi kunci pemulihan, mencakup latihan fisik terstruktur, edukasi kesehatan, manajemen risiko, serta dukungan psikologis untuk mengembalikan kepercayaan diri pasien beraktivitas.
  • Sebelum kembali ke olahraga intensitas tinggi seperti lari, pasien wajib menjalani pemeriksaan medis menyeluruh dan menghentikan aktivitas bila muncul gejala seperti nyeri dada atau sesak napas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Setelah menjalani perawatan, memasang stent, atau pulang dari rumah sakit setelah mengalami serangan jantung, penyintas yang suka lari tidak cuma bertanya-tanya apakah mereka akan segera pulih, tetapi juga apakah mereka bisa lari lagi.

Di satu sisi, olahraga dikenal baik untuk kesehatan jantung. Di sisi lain, aktivitas seperti lari sering dianggap terlalu berat bagi orang yang baru mengalami serangan jantung.

Kabar baiknya, banyak penyintas serangan jantung bisa kembali lari. Bahkan, aktivitas fisik terstruktur merupakan bagian penting dari proses pemulihan jantung. Namun, perjalanan kembali berlari tidak boleh dilakukan secara gegabah. Tujuan pertama bukan kembali berlari secepat mungkin, melainkan kembali berlari dengan aman.

Table of Content

Apa yang terjadi pada jantung setelah serangan jantung?

Apa yang terjadi pada jantung setelah serangan jantung?

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung terhambat, sehingga jaringan jantung mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen. Tingkat kerusakannya bisa bervariasi.

Ada pasien yang mengalami kerusakan relatif kecil dan pulih dengan baik setelah pemasangan stent. Ada pula yang mengalami kerusakan luas sehingga fungsi pompa jantung menurun secara signifikan.

Karena itu, menjawab pertanyaan apakah boleh lari lagi setelah serangan jantung tidak cuma berdasarkan waktu sejak serangan jantung terjadi. Dokter perlu mengetahui:

  • Seberapa besar kerusakan jantung.
  • Apakah pembuluh darah yang tersumbat sudah ditangani.
  • Apakah masih ada gangguan irama jantung.
  • Bagaimana fungsi pompa jantung saat ini.
  • Apakah ada gejala saat beraktivitas.

Faktor-faktor tersebut lebih penting dibanding sekadar jumlah minggu atau bulan setelah serangan jantung.

Olahraga bisa menjadi bagian penting dari pemulihan

Dulunya pasien jantung sering dianjurkan untuk banyak beristirahat. Namun, sekarang pendekatannya berbeda.

Penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang terstruktur dapat membantu meningkatkan kualitas hidup, kapasitas fisik, dan bahkan menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Karena itulah para ahli merekomendasikan rehabilitasi jantung sebagai bagian penting dari pemulihan setelah serangan jantung.

Rehabilitasi jantung biasanya mencakup:

  • Latihan fisik yang diawasi.
  • Edukasi kesehatan jantung.
  • Pendampingan nutrisi.
  • Manajemen faktor risiko.
  • Dukungan psikologis.

Dalam banyak kasus, rehabilitasi jantung menjadi jembatan sebelum pasien kembali ke aktivitas yang lebih berat, seperti berlari.

Kapan bisa mulai lari lagi?

Seorang pria berbaring di ranjang pemeriksaan medis saat petugas memasang elektroda di dada untuk pemeriksaan jantung.
ilustrasi pemeriksaan jantung (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tidak ada satu angka pasti yang berlaku untuk semua orang. Sebelum kembali ke olahraga intensitas sedang hingga tinggi, pasien perlu menjalani evaluasi medis dulu. Evaluasinya dapat meliputi:

  • Pemeriksaan gejala

Dokter akan memastikan tidak ada nyeri dada, sesak napas yang tidak wajar, pusing, palpitasi, dan kelelahan berlebihan.

  • Tes latihan

Ini merupakan salah satu pemeriksaan yang paling penting. Tes ini membantu menilai respons jantung terhadap aktivitas fisik, kapasitas olahraga, adanya gangguan irama jantung, dan tanda kekurangan aliran darah ke jantung saat berolahraga.

  • Ekokardiografi

Pemeriksaan ini mengevaluasi fungsi pompa jantung dan membantu menentukan seberapa baik jantung pulih setelah serangan.

Tahapan kembali berlari setelah serangan jantung

Hindari langsung mencoba berlari begitu merasa tubuh sudah membaik. Ingat, pemulihan kardiovaskular membutuhkan proses bertahap.

  • Tahap 1: rutin jalan kaki

Pada fase awal, fokus utama biasanya adalah berjalan kaki. Berjalan kaki membantu memulihkan kapasitas aerobik, melatih sistem kardiovaskular, dan meningkatkan kepercayaan diri.

Banyak program rehabilitasi jantung memulai latihan dari aktivitas sederhana ini.

  • Tahap 2: jalan cepat

Ketika tubuh sudah mampu mentoleransi aktivitas ringan tanpa gejala, intensitas dapat ditingkatkan menjadi jalan cepat. Targetnya adalah konsistensi dan toleransi tubuh terhadap aktivitas, bukan kecepatan.

  • Tahap: jalan-lari

Setelah mendapat persetujuan dokter, sebagian pasien dapat mencoba metode run-walk/jalan-lari.

Contohnya jalan 4 menit, lari ringan 1 menit atau jalan 3 menit, lari ringan 2 menit. Durasi lari kemudian ditambah secara bertahap sesuai respons tubuh.

  • Tahap 4: lari santai berkelanjutan

Baru setelah tubuh menunjukkan toleransi yang baik terhadap latihan sebelumnya, lari kontinu dapat dipertimbangkan.

Pada tahap ini, intensitas ringan hingga sedang tetap lebih disarankan dibanding lari cepat.

Bagaimana jika ingin kembali ikut lomba lari?

Banyak penyintas serangan jantung berhasil kembali mengikuti lomba lari.

Sejumlah penelitian menunjukkan olahraga daya tahan dapat dilakukan secara aman pada pasien tertentu yang telah dievaluasi dengan baik. Namun ada beberapa syarat penting:

  • Penyakit jantung sudah stabil.
  • Tidak ada gejala saat latihan.
  • Tidak ditemukan aritmia berbahaya.
  • Fungsi jantung memadai.
  • Mendapat persetujuan dokter yang merawat.

Makin tinggi intensitas olahraga yang ingin dilakukan, makin penting proses evaluasinya.

Maraton, ultramaraton, atau lomba dengan tuntutan fisik tinggi biasanya memerlukan penilaian yang lebih mendalam dibanding lari rekreasional.

Tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan

Dua perempuan berolahraga di luar ruangan, satu bersepeda dan satu berlari di trotoar dengan latar pepohonan dan mobil terparkir.
ilustrasi kembali berlari setelah serangan jantung (pexels.com/AI25.Studio Studio)

Saat mulai kembali berolahraga, segera hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis jika mengalami:

  • Nyeri dada.
  • Tekanan atau rasa berat di dada.
  • Sesak napas yang tidak sesuai intensitas latihan.
  • Pusing atau hampir pingsan.
  • Jantung berdebar tidak teratur.
  • Kelelahan ekstrem yang tidak biasa.

Gejala tersebut dapat menandakan bahwa jantung belum siap menerima beban latihan yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan ketakutan untuk berlari lagi?

Banyak orang setelah serangan jantung merasa takut setiap kali detak jantung meningkat saat berolahraga, dan ini umum terjadi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan kehilangan kepercayaan diri terhadap aktivitas fisik cukup umum terjadi setelah kejadian kardiovaskular. Karenanya, rehabilitasi jantung tidak hanya penting untuk memulihkan kondisi fisik, tetapi juga membantu pasien kembali percaya pada kemampuan tubuhnya.

Latihan yang dilakukan secara aman dan diawasi sering kali menjadi langkah penting untuk mengurangi ketakutan tersebut.

Jadi, banyak orang bisa lari setelah serangan jantung, tetapi ini harus dilakukan secara aman dan bertahap. Kuncinya adalah evaluasi medis yang tepat, mengikuti program rehabilitasi jantung, memulai secara bertahap, dan mendengarkan sinyal tubuh. Penting untuk memastikan jantung memiliki kesempatan untuk pulih, beradaptasi, dan bekerja dengan aman dalam jangka panjang.

Referensi

Lindsey Anderson et al., “Exercise-based Cardiac Rehabilitation for Coronary Heart Disease,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 1 (January 5, 2016): CD001800, https://doi.org/10.1002/14651858.cd001800.pub3.

Antonio Pelliccia et al., “2020 ESC Guidelines on Sports Cardiology and Exercise in Patients With Cardiovascular Disease,” European Heart Journal 42, no. 1 (July 10, 2020): 17–96, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehaa605.

Kenneth E. Powell, Amanda E. Paluch, and Steven N. Blair, “Physical Activity for Health: What Kind? How Much? How Intense? On Top of What?,” Annual Review of Public Health 32, no. 1 (March 3, 2011): 349–65, https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-031210-101151.

Hasnain M Dalal, Patrick Doherty, and Rod S Taylor, “Cardiac Rehabilitation,” BMJ 351 (September 29, 2015): h5000, https://doi.org/10.1136/bmj.h5000.

Lluís Mont et al., “Pre-participation Cardiovascular Evaluation for Athletic Participants to Prevent Sudden Death: Position Paper From the EHRA and the EACPR, Branches of the ESC. Endorsed by APHRS, HRS, and SOLAECE,” European Journal of Preventive Cardiology 24, no. 1 (November 4, 2016): 41–69, https://doi.org/10.1177/2047487316676042.

Paul T. Williams and Barry A. Franklin, “Reduced Incidence of Cardiac Arrhythmias in Walkers and Runners,” PLoS ONE 8, no. 6 (June 7, 2013): e65302, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0065302.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More