Dr Du Jingzeng, Konsultan Departemen Urologi, Singapore General Hospital. (Dok. SingHealth)
Pengobatan batu ginjal telah mengalami banyak kemajuan. Sebagian besar pasien sudah tidak lagi memerlukan sayatan besar. Prosedur dapat dilakukan menggunakan gelombang kejut, kamera fleksibel, laser, atau membuat lubang kecil dari punggung menuju ginjal.
“Prosedur yang direkomendasikan bergantung pada ukuran, lokasi, kekerasan dan komposisi batu, anatomi pasien, fungsi ginjal, serta ada atau tidaknya infeksi maupun penyumbatan,” jelas Dr. Jingzeng.
Departemen Urologi SGH menawarkan beberapa pilihan prosedur, antara lain:
Extracorporeal shockwave lithotripsy (ESWL) menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh untuk memecah batu menjadi fragmen kecil. Tidak ada sayatan dan pasien biasanya bisa pulang pada hari yang sama.
Kekurangannya, fragmen tidak langsung dikeluarkan. Pasien perlu mengeluarkannya bersama urine selama beberapa hari atau minggu.
ESWL juga kurang efektif untuk batu yang besar, sangat keras, atau berada di lokasi yang sulit dijangkau gelombang.
Dokter memasukkan kamera tipis melalui uretra, kandung kemih, ureter, hingga ke ginjal. Batu kemudian dihancurkan dengan laser dan sebagian fragmennya diambil menggunakan keranjang kecil.
Kelebihannya, tidak ada sayatan pada kulit dan dokter dapat mencapai banyak bagian di dalam ginjal. Namun, pasien biasanya memerlukan anestesi umum. Sebagian pasien juga dipasangi stent sementara yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sampai dilepas. Batu berukuran besar mungkin butuh lebih dari satu sesi.
Ada pula teknologi yang lebih baru dengan menggunakan teknologi irigasi dan penyedotan terkontrol dalam beberapa prosedur ureteroskopi. Sistem ini terus mengalirkan cairan agar pandangan dokter tetap jelas, sekaligus menyedot serpihan batu dan mengatur tekanan di dalam ginjal. Menjaga tekanan di dalam ginjal pada tingkat yang tepat dapat membantu mengeluarkan fragmen secara lebih efisien, mempersingkat operasi, dan mengurangi risiko infeksi.
Untuk batu yang sangat besar atau kompleks, dokter dapat membuat saluran kecil melalui kulit punggung langsung menuju ginjal. Teknik mini-PCNL di SGH menggunakan jalur sekitar 6 milimeter, lebih kecil daripada PCNL konvensional yang dapat mencapai sekitar 9 milimeter.
Lubang yang lebih kecil dapat mengurangi cedera jaringan, perdarahan, nyeri, dan lama perawatan. Namun, prosedur ini tetap lebih invasif daripada ureteroskopi karena dokter harus membuat akses langsung ke ginjal. Risiko perdarahan, infeksi, dan kebutuhan rawat inap tetap perlu dipertimbangkan.
Endoscopic combined intrarenal surgery (ECIRS) menggabungkan ureteroskopi fleksibel dari saluran kemih dengan akses kecil melalui punggung. Tim dokter bekerja dari dua arah sehingga bisa menjangkau batu di berbagai bagian ginjal.
Metode ini dapat meningkatkan kemungkinan membersihkan batu ginjal kompleks dalam satu sesi dan mengurangi kebutuhan akan beberapa operasi.
Apa pun pilihan prosedurnya, keputusan harus berdasarkan kondisi pasien.
“Keputusan harus didasarkan pada kondisi masing-masing pasien, bukan pada keinginan mencapai pembersihan total dengan mengorbankan keselamatan,” kata Dr. Jingzeng.