Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sudah Vaksin HPV, Anak Laki-Laki Masih Bisa Tertular?
ilustrasi vaksinasi pemberian satu dosis vaksin HPV pada anak laki-laki (magnific.com/magnific)
  • Ya, anak laki-laki yang sudah divaksinasi masih mungkin terinfeksi HPV, terutama tipe yang tidak tercakup dalam vaksin. Namun, risiko infeksi persisten dan penyakit akibat tipe HPV yang menjadi target vaksin turun secara signifikan.

  • Vaksin HPV bersifat preventif, bukan pengobatan. Vaksin tidak membersihkan infeksi HPV yang sudah ada sehingga perlindungan paling optimal jika diberikan sebelum paparan.

  • Masih bisa tertular HPV bukan berarti vaksinnya gagal. HPV terdiri dari lebih dari 200 tipe, sementara vaksin melindungi terhadap sejumlah tipe yang paling berhubungan dengan kanker dan kutil kelamin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Satu suntikan vaksin HPV pada usia sekolah diberikan untuk melindungi anak dari penyakit yang mungkin baru muncul bertahun-tahun kemudian. Ketika anak tumbuh dewasa dan suatu hari terpapar human papillomavirus (HPV), sistem kekebalannya sudah memiliki bekal untuk menghadapi tipe virus tertentu yang menjadi sasaran vaksin.

Meski begitu, vaksinasi tidak membuat seseorang kebal terhadap semua jenis HPV. Jadi, anak laki-laki yang sudah mendapat vaksin HPV masih mungkin tertular HPV di kemudian hari. Yang berubah adalah kemungkinan terinfeksi secara persisten dan mengalami penyakit akibat tipe HPV yang dicakup vaksin.

1. Ada lebih dari 200 tipe HPV

HPV bukan satu jenis virus. Terdapat lebih dari 200 tipe HPV, dengan lebih dari 40 tipe dapat menyebar melalui kontak seksual langsung. Sebagian menyebabkan kutil, sementara sekitar selusin tipe dikategorikan berisiko tinggi karena dapat menyebabkan kanker.

Cakupan perlindungan bergantung pada vaksin yang diberikan. Vaksin HPV kuadrivalen, misalnya, menargetkan HPV 6, 11, 16, dan 18. Vaksin 9-valen mencakup empat tipe tersebut ditambah HPV 31, 33, 45, 52, dan 58.

HPV 6 dan 11 merupakan penyebab sebagian besar kutil kelamin, sedangkan tujuh tipe lain dalam vaksin 9-valen berkaitan dengan berbagai kanker akibat HPV.

Karena itu, anak yang sudah divaksinasi masih bisa terpapar dan terinfeksi tipe HPV lain yang tidak terdapat dalam vaksin.

Analisis uji klinis vaksin kuadrivalen menemukan perlindungan yang jelas terhadap penyakit yang disebabkan HPV 6, 11, 16, dan 18, tetapi tidak menemukan perlindungan signifikan terhadap penyakit akibat 10 tipe HPV lain yang tidak menjadi target vaksin.

2. Bahkan terhadap tipe target, perlindungannya bukan 100 persen

Tidak ada vaksin yang menjamin setiap orang tidak akan pernah mengalami infeksi.

Namun, pada HPV, perlindungan terhadap tipe yang ditargetkan tergolong tinggi, terutama ketika vaksin diberikan sebelum paparan.

Uji klinis acak terhadap 4.065 laki-laki usia 16–26 tahun menemukan bahwa vaksin HPV kuadrivalen memiliki efikasi 90,4 persen dalam mencegah lesi genital luar akibat HPV 6, 11, 16, atau 18 pada peserta yang mengikuti protokol dan sebelumnya belum terinfeksi tipe tersebut. Risiko infeksi persisten oleh empat tipe HPV tersebut juga berkurang 85,6 persen.

Pada studi khusus infeksi anal pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), vaksin yang sama menurunkan risiko infeksi anal persisten HPV 6, 11, 16, atau 18 sebesar 94,9 persen pada populasi per-protocol (analisis hanya pada peserta yang mengikuti protokol penelitian sesuai rencana).

Artinya, kemungkinan infeksi tidak menjadi nol, tetapi risiko terhadap infeksi persisten dan penyakit dari tipe yang menjadi sasaran vaksin turun drastis.

3. Inilah alasan vaksin diberikan sejak usia sekolah

ilustrasi pemberian vaksin HPV pada anak laki-laki (magnific.com/prostooleh)

Keunggulan vaksin HPV bukan terletak pada kemampuannya menghilangkan virus setelah seseorang terinfeksi. Vaksin HPV mencegah infeksi baru, tetapi tidak mengobati infeksi atau penyakit HPV yang sudah ada. Karena alasan itu, vaksin memberikan manfaat paling besar apabila diberikan sebelum seseorang pernah terpapar HPV. Itulah kenapa vaksinasi dimulai pada masa praremaja, bukan menunggu seseorang aktif secara seksual.

Penelitian yang mengikuti anak perempuan dan laki-laki yang menerima vaksin HPV 9-valen pada usia 9–15 tahun menemukan respons kekebalan bertahan sekitar satu dekade. Setelah median 10 tahun tindak lanjut, tidak ditemukan kasus lesi intraepitel derajat tinggi atau kutil kelamin akibat 9 tipe HPV dalam vaksin pada kelompok penelitian per-protocol.

Singkatnya, vaksin diberikan jauh sebelum risiko paparan meningkat agar perlindungan sudah terbentuk ketika dibutuhkan.

4. Vaksin HPV satu dosis, apakah perlindungannya efektif?

Indonesia menggunakan satu dosis vaksin HPV sebagai jadwal program untuk anak laki-laki usia 11 tahun di wilayah yang telah mendapatkan perluasan imunisasi. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyatakan pelaksanaan vaksinasi HPV untuk anak laki-laki diperluas secara bertahap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memasukkan jadwal satu dosis sebagai alternatif untuk anak perempuan maupun laki-laki usia 9–20 tahun, sementara orang dengan gangguan kekebalan membutuhkan setidaknya dua dosis dan, jika memungkinkan, tiga dosis.

Rekomendasi dapat berbeda menurut program nasional, usia, kondisi kesehatan, dan produk yang digunakan. Untuk lebih jelasnya tanyakan kepada tenaga kesehatan.

5. Bagaimana kalau seseorang sudah terkena satu tipe HPV?

Vaksin HPV tidak akan menghilangkan infeksi tersebut. Namun, terinfeksi satu tipe HPV tidak berarti perlindungan terhadap tipe lainnya sia-sia.

Dalam uji klinis, orang yang sebelumnya sudah terinfeksi satu tipe HPV tetap mendapatkan perlindungan terhadap tipe lain yang terdapat dalam vaksin dan belum pernah menginfeksinya. Sebaliknya, vaksin tidak menunjukkan efek terapeutik terhadap penyakit yang disebabkan tipe HPV yang sudah ada saat vaksinasi.

Jangan langsung menganggap seseorang sudah terlambat hanya karena pernah terpapar HPV. Vaksin masih bisa melindungi terhadap tipe HPV lain yang belum pernah menginfeksi, meski perlindungan paling kuat didapat jika divaksinasi sebelum paparan pertama.

6. Apakah anak laki-laki perlu tes HPV setelah vaksin?

ilustrasi anak-anak usia sekolah (pexels.com/Ron Lach)

Tidak ada tes yang digunakan secara rutin untuk memastikan apakah seorang anak laki-laki bebas HPV setelah vaksinasi atau untuk mengecek apakah vaksinnya bekerja.

Tes HPV tidak direkomendasikan untuk skrining laki-laki maupun remaja. Tes HPV yang digunakan secara klinis terutama ditujukan untuk skrining kanker serviks pada populasi yang memenuhi kriteria.

Respons terhadap vaksin juga tidak dinilai dengan pemeriksaan antibodi rutin. Dalam penelitian, lebih dari 98 persen penerima vaksin membentuk respons antibodi terhadap tipe HPV yang dicakup setelah menyelesaikan rangkaian vaksin, tetapi belum ada batas kadar antibodi tertentu yang digunakan secara klinis untuk menyatakan seseorang kebal.

Jadi, apakah masih mungkin tertular?

Jawabannya, ya. Vaksin HPV tidak melindungi dari seluruh tipe HPV dan tidak menjamin risiko infeksi menjadi nol. Bukan berarti vaksin tidak efektif.

Pada laki-laki yang belum terpapar tipe HPV yang ditargetkan, penelitian menunjukkan penurunan besar pada infeksi persisten dan penyakit akibat tipe HPV yang terdapat dalam vaksin. Perlindungan juga dapat bertahan bertahun-tahun setelah vaksin diberikan sejak usia anak-anak.

Tujuan vaksinasi bukan memastikan seorang anak tidak akan pernah terpapar HPV sepanjang hidupnya, melainkan membangun perlindungan lebih awal terhadap tipe-tipe HPV yang dapat menyebabkan kutil kelamin serta kanker anus, penis, dan orofaring di kemudian hari.

Referensi

Stephen E. Goldstone et al., “Quadrivalent HPV Vaccine Efficacy against Disease Related to Vaccine and Non-Vaccine HPV Types in Males,” Vaccine 31, no. 37 (2013): 3849–55, https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2013.06.057.

Anna R. Giuliano et al., “Efficacy of Quadrivalent HPV Vaccine against HPV Infection and Disease in Males,” New England Journal of Medicine 364, no. 5 (2011): 401–11, https://doi.org/10.1056/NEJMoa0909537.

Joel M. Palefsky et al., “HPV Vaccine against Anal HPV Infection and Anal Intraepithelial Neoplasia,” New England Journal of Medicine 365, no. 17 (2011): 1576–85, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1010971.

Jaime Restrepo et al., “Ten-Year Follow-up of 9-Valent Human Papillomavirus Vaccine: Immunogenicity, Effectiveness, and Safety,” Pediatrics 152, no. 4 (2023): e2022060993, https://doi.org/10.1542/peds.2022-060993.

World Health Organization, “Human Papillomavirus Vaccines: WHO Position Paper, December 2022,” Weekly Epidemiological Record 97, no. 50 (2022): 645–72.

Curated For You

Editorial Team

Related Article