Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Selalu Aman, Ini 8 Suplemen yang Berisiko untuk Ginjal
ilustrasi jenis suplemen yang dapat membahayakan ginjal (unsplash.com/Sharon McCutcheon)
  • Tidak semua suplemen berbahaya, tetapi risiko meningkat jika dikonsumsi dosis tinggi, jangka panjang, atau saat fungsi ginjal sudah terganggu.

  • Suplemen herbal, vitamin dosis tinggi, mineral tertentu, dan produk pelangsing atau bodybuilding yang tidak jelas komposisinya paling perlu diwaspadai.

  • Orang dengan penyakit ginjal, diabetes, hipertensi, batu ginjal, atau sedang minum obat rutin sebaiknya berkonsultasi dulu sebelum minum suplemen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mengonsumsi suplemen demi mendukung kesehatan. Misalnya, minum multivitamin, omega-3, kreatin dan protein, hingga suplemen herbal. Namun, sayangnya label "alami" atau suplemen yang dijual bebas tidak selalu aman untuk semua orang.

Ginjal bekerja seperti penyaring yang terus-menerus memproses cairan, mineral, sisa metabolisme, dan zat dari obat maupun suplemen. Saat suatu zat dikonsumsi terlalu banyak, terlalu lama, atau oleh orang yang ginjalnya sudah rentan, beban ini bisa memicu masalah.

1. Suplemen herbal yang mengandung aristolochic acid

Aristolochic acid adalah senyawa alami pada beberapa tanaman, termasuk kelompok Aristolochia. Senyawa ini dikaitkan dengan kerusakan ginjal dan kanker saluran kemih.

Masalahnya, konsumen sering tidak tahu apakah produk herbal tertentu mengandung bahan ini, apalagi jika produknya tidak terstandar, tidak jelas komposisinya, atau dibeli dari sumber yang tidak tepercaya.

Amannya, hindari produk herbal dengan klaim bombastis seperti “membersihkan ginjal”, “detoks”, “pelangsing cepat”, atau “100 persen alami tanpa efek samping”.

Orang dengan penyakit ginjal sebaiknya tidak minum herbal apa pun tanpa izin dokter.

2. Vitamin C dosis tinggi

Vitamin C memang penting untuk tubuh. Namun, dalam dosis tinggi, sebagian vitamin C dapat diubah menjadi oksalat, lalu dikeluarkan lewat urine. Oksalat yang terlalu tinggi bisa meningkatkan risiko batu ginjal kalsium oksalat pada sebagian orang.

Dalam sebuah studi, konsumsi 2 gram asam askorbat per hari meningkatkan ekskresi oksalat urine sekitar 22 persen.

Risikonya lebih perlu diperhatikan pada orang yang punya riwayat batu ginjal, penyakit ginjal, kurang minum, atau terbiasa mengonsumsi vitamin C dosis tinggi setiap hari.

Sebaiknya jangan menjadikan vitamin C dosis tinggi sebagai kebiasaan harian tanpa alasan medis. Untuk kebutuhan biasa, makanan seperti buah dan sayur sering kali sudah cukup membantu.

3. Vitamin D dosis tinggi

ilustrasi minum suplemen (magnific.com/freepik)

Vitamin D sering dikaitkan dengan imun, tulang, dan kesehatan umum. Namun, vitamin D termasuk vitamin larut lemak, sehingga pemakaian dosis tinggi tanpa pemantauan bisa berbahaya.

Toksisitas vitamin D dapat menyebabkan hiperkalsemia, hiperkalsiuria, kadar 25(OH)D yang tinggi, dan pada kasus ekstrem dapat berujung pada gagal ginjal, kalsifikasi jaringan lunak, aritmia, hingga kematian.

Kasus seperti ini biasanya bukan dari makanan atau sinar matahari, melainkan dari konsumsi suplemen berlebihan atau kesalahan dosis.

Jangan asal minum vitamin D dosis tinggi selama berbulan-bulan. Idealnya, cek kadar vitamin D dan ikuti dosis dari tenaga kesehatan, terutama jika kamu juga minum suplemen kalsium.

4. Suplemen kalsium berlebihan

Kalsium dibutuhkan untuk tulang, tetapi terlalu banyak kalsium dari suplemen bisa meningkatkan risiko batu ginjal pada sebagian orang.

Risiko ini makin nyata jika dikombinasikan dengan vitamin D dosis tinggi, karena vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium.

Penggunaan suplemen kalsium bersama vitamin D dapat meningkatkan risiko efek samping tertentu, termasuk dalam konteks toksisitas vitamin D dan gangguan terkait kalsium.

Jangan mengombinasikan suplemen kalsium, vitamin D, multivitamin, dan produk kesehatan tulang sekaligus tanpa menghitung total dosis hariannya.

Jika punya riwayat batu ginjal, diskusikan dulu dengan dokter.

5. Suplemen kalium atau pengganti garam tinggi kalium

Kalium penting untuk fungsi saraf, otot, dan jantung. Akan tetapi, pada orang dengan penyakit ginjal, kelebihan kalium bisa sulit dibuang dari tubuh.

Pada orang dengan penyakit ginjal, tubuh bisa kesulitan mengeluarkan kalium ekstra sehingga kadar kalium darah naik dan menyebabkan masalah serius. Suplemen kalium, pengganti garam, dan beberapa herbal termasuk sumber yang perlu diperhatikan.

Ini juga penting bagi orang yang minum obat tertentu, misalnya beberapa obat tekanan darah, karena bisa memengaruhi kadar kalium.

Sebaiknya jangan minum suplemen kalium atau memakai garam diet tinggi kalium tanpa arahan dari dokter, terutama jika punya penyakit ginjal, hipertensi, diabetes, atau sedang rutin minum obat.

6. Bubuk protein dosis tinggi

ilustrasi bubuk protein (unsplash.com/Alex Saks)

Bubuk protein tidak otomatis merusak ginjal pada orang sehat. Namun, orang yang punya penyakit ginjal kronis perlu mengatur asupan proteinnya.

Orang dengan penyakit ginjal kronis yang belum dialisis biasanya perlu membatasi protein, sedangkan kebutuhan protein bisa berbeda pada pasien dialisis.

Studi membahas bahwa asupan protein tinggi dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada hiperfiltrasi glomerulus dan berpotensi berdampak pada kesehatan ginjal, terutama pada individu yang rentan.

Sesuaikan asupan protein dengan kebutuhan. Apabila hidup dengan diabetes, hipertensi, albumin urine, atau eGFR menurun, konsultasikan dulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum rutin mengonsumsi bubuk protein.

7. Produk bodybuilding, pelangsing, atau stamina yang tidak jelas

Produk seperti ini sering menjanjikan hasil cepat, seperti berat turun drastis, otot cepat besar, stamina meningkat, atau performa seksual lebih kuat. Masalahnya, beberapa produk suplemen terbukti mengandung bahan obat tersembunyi.

Sudah banyak laporan temuan berbagai produk suplemen yang mengandung bahan farmasi yang tidak disetujui. Kategori yang sering terlibat meliputi suplemen peningkat stamina seksual, penurun berat badan, dan pembentuk otot.

Produk bodybuilding dapat berisiko, terutama jika mengandung bahan tersembunyi seperti steroid atau zat mirip steroid. Efeknya tidak hanya bisa mengganggu hormon, tetapi juga meningkatkan risiko masalah hati, jantung, dan ginjal.

Curigai produk yang klaimnya terlalu berlebihan, terlalu ekstrem, tidak mencantumkan komposisi jelas, atau dijual tanpa izin dan pengawasan yang memadai.

8. Kunyit atau kurkumin dosis tinggi

Ada laporan kasus nefropati oksalat atau kerusakan ginjal akibat penumpukan oksalat yang dikaitkan dengan suplementasi kunyit dalam waktu lama, terutama pada orang dengan faktor risiko lain.

Kunyit aman sebagai bumbu masak. Masalahnya ada pada konsentrasi tinggi dalam bentuk kapsul, ekstrak, atau konsumsi berlebihan dalam jangka panjang.

Jika punya riwayat batu ginjal, penyakit ginjal, atau sedang banyak minum suplemen lain, jangan asal menambah kurkumin dosis tinggi.

Siapa yang harus ekstra hati-hati?

ilustrasi suplemen kunyit (freepik.com/freepik)

Orang dengan penyakit ginjal kronis, riwayat batu ginjal, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, usia lanjut, ibu hamil, serta orang yang minum obat rutin sebaiknya lebih berhati-hati.

Tanda yang perlu diwaspadai antara lain urine berbusa atau berdarah, bengkak di kaki atau wajah, tekanan darah naik, mual tanpa sebab jelas, sangat lemas, atau jumlah urine berkurang.

Suplemen sebaiknya diperlakukan seperti obat. Sebelum membeli, cek komposisi, hindari produk yang klaimnya berlebihan, jangan minum banyak suplemen sekaligus, dan bawa daftar suplemen saat konsultasi ke dokter. Lebih baik berhati-hati sebelum kamu terlanjur sakit.

Referensi

National Kidney Foundation. “Herbal Supplements and Kidney Disease.” Diakses Juli 2026.

National Cancer Institute. “Aristolochic Acids.” December 5, 2022. Diakses Juli 2026.

Ferraro, Pietro Manuel, Gary C. Curhan, Giovanni Gambaro, and Eric N. Taylor. “Total, Dietary, and Supplemental Vitamin C Intake and Risk of Incident Kidney Stones.” American Journal of Kidney Diseases 67, no. 3 (2016): 400–407. https://doi.org/10.1053/j.ajkd.2015.09.005.

National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (NIH, ODS) “Vitamin C: Fact Sheet for Health Professionals.” Diakses Juli 2026.

NIH, ODS. “Vitamin D: Fact Sheet for Health Professionals.” Diakses Juli 2026.

NIH, ODS. “Calcium: Fact Sheet for Health Professionals.” Diakses Juli 2026.

National Kidney Foundation. “High Potassium (Hyperkalemia).” Diakses Juli 2026.

National Kidney Foundation. “Potassium.” Diakses Juli 2026.

National Kidney Foundation. “CKD Diet: How Much Protein Is the Right Amount?” Diakses Juli 2026.

Ko, Gang Jee, Carine M. Rhee, Connie M. Kalantar-Zadeh, and Kamyar Kalantar-Zadeh. “The Effects of High-Protein Diets on Kidney Health and Longevity.” Journal of the American Society of Nephrology 31, no. 8 (2020): 1667–1679. https://doi.org/10.1681/ASN.2020010028.

Tucker, Jenna, Pieter A. Fischer, Alejandra Upjohn, Regan Mazzera, and Pieter A. Cohen. “Unapproved Pharmaceutical Ingredients Included in Dietary Supplements Associated with US Food and Drug Administration Warnings.” JAMA Network Open 1, no. 6 (2018): e183337. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2018.3337.

U.S. Food and Drug Administration. “Caution: Bodybuilding Products Can Be Risky.” September 20, 2024. https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/caution-bodybuilding-products-can-be-risky.

Washington, Olufemi, et al. “Oxalate Nephropathy and Chronic Turmeric Supplementation: A Case Report.” Clinical Nephrology Case Studies 12 (2024): 1–5. https://doi.org/10.5414/CNCS111296.

Curated For You

Editorial Team

Related Article