- Ketakutan akan nyawa bayi dan/atau kurangnya kepercayaan terhadap tenaga kesehatan
- Takut terhadap komplikasi terkait kelahiran, seperti preeklamsia dan kematian
- Takut merasakan sakit
- Takut akan hal-hal yang tidak diketahui, kehilangan kendali, dan privasi
- Memiliki riwayat kecemasan, depresi, atau pelecehan seksual pada masa kanak-kanak
- Mendengar cerita kelahiran yang menakutkan atau traumatis
- Perubahan hormonal yang membuat lebih sulit untuk mengelola kecemasan
- Faktor psikososial seperti hamil pada usia muda, kekurangan secara finansial, atau kurangnya dukungan sosial
Takut Berlebihan terhadap Hamil dan Melahirkan? Waspadai Tokofobia!

Tokofobia atau tokophobia adalah ketakutan patologis terhadap kehamilan dan persalinan. Berasal dari bahasa Yunani "tokos" yang berarti "melahirkan", dan "phobos" yang berarti "takut" takut. Fobia ini diakui secara resmi pada tahun 2000 dan menjadi perhatian di bidang medis, padahal fobia ini dulunya diabaikan.
Menurut sebuah laporan dalam JMIR Mental Health tahun 2018, fobia ini dikelompokkan dalam dua tipe.
Tipe pertama adalah tokofobia primer, yang mana ini terjadi pada perempuan yang belum pernah melahirkan sebelumnya, tetapi mengembangkan fobia. Tipe kedua adalah tokofobia sekunder, adalah fobia yang dialami perempuan yang sudah pernah mengalami persalinan dan ada rasa takut terhadap pengalaman hamil dan melahirkan.
Apakah kamu memiliki ketakutan yang sama? Yuk, simak gejala dan cara mengatasi tokofobia berikut ini.
1. Faktor penyebab tokofobia

Beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengembangkan tokofobia antara lain:
2. Gejala tokofobia

Dilansir Verywell Mind, tokofobia adalah jenis gangguan kecemasan yang membuat seseorang merasakan ketakutan yang tidak rasional dan tidak masuk akal tentang objek atau situasi tertentu.
Gejala tokofobia dapat berupa gangguan tidur, serangan panik, hingga mimpi buruk. Gejala lainnya yang juga bisa terjadi meliputi:
- Serangan panik atau peningkatan gejala kecemasan, seperti kelelahan, kekhawatiran, irasional, dan sakit kepala
- Berusaha keras untuk menghindari kehamilan. Misalnya dengan menggunakan kontrasepsi berlapis. Bahkan, seseorang bisa memilih untuk tidak melakukan hubungan seks sama sekali
- Menunda atau menghindari kehamilan meskipun ingin punya anak
- Selalu mencari tahu kesalahan atau kemungkinan buruk yang akan terjadi selama persalinan, seperti kematian ibu atau cacat lahir
- Meminta persalinan sesar (C-section) tanpa indikasi medis
3. Pentingnya mendapatkan dukungan dari keluarga

Menurut keterangan dari National Childbirth Trust, rasa cemas pada orang-orang dengan tokofobia bisa berkurang bila pasangan, ibu, saudara perempuan, atau teman dan lingkungannya memberikan dukungan.
Satu studi melaporkan penurunan sebanyak 50 persen dalam angka kelahiran caesar ketika perempuan menerima bantuan psikologis dan prenatal.
Bantuan profesional juga sangat membantu, misalnya dari dokter kandungan, psikolog, atau psikiater. Dengan keahlian mereka, penyebab tokofobia bisa ditemukan, mendapat penanganan yang tepat, termasuk jika kondisi depresi atau kecemasan ini sudah ada sejak dulu.
4. Terapi perilaku kognitif untuk tokofobia

Fobia adalah gangguan kecemasan yang intens. Kabar baiknya, kondisi ini bisa diatasi baik dengan terapi dan/atau konsumsi obat. Salah satu terapi untuk fobia ini adalah dengan terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).
Dilansir Choosing Therapy, CBT berfokus pada pikiran seseorang dan bagaimana pikiran dapat berkontribusi pada emosi negatif, seperti kecemasan.
CBT membantu seseorang untuk mengidentifikasi pola pikir negatif dan mempelajari cara untuk mengubah pikiran ini, sehingga tidak terlalu kaku dan tidak rasional. Dengan berpikir secara lebih rasional dan fleksibel, seseorang akan lebih mampu mengendalikan kecemasannya.
CBT juga melibatkan keterampilan mengajar untuk mengatasi kecemasan dan stres, seperti teknik pernapasan dalam dan kesadaran.
5. Terapi EMDR untuk tokofobia

Terapi lainnya untuk orang-orang dengan tokofobia adalah dengan teknik psikoterapi interaktif yang bertujuan untuk meredakan stres psikologis, yaitu terapi eye movement desensitization and reprocessing (EMDR).
Jenis terapi ini melibatkan seseorang yang mengingat peristiwa traumatis, seperti melahirkan, sementara terapis mendorong gerakan mata yang cepat dengan membuat gerakan tangan tertentu di depan wajah pasien. Teknik ini diyakini dapat membantu melepaskan emosi negatif yang berhubungan dengan peristiwa traumatis.
6. Pengobatan

Pengobatan juga dapat digunakan untuk mengobati fobia, termasuk tokofobia. Obat bisa diresepkan oleh dokter yang menangani pasien. Antidepresan dan obat anti-kecemasan adalah obat yang paling sering diresepkan untuk meredakan atau menangani kecemasan.
Tokofobia termasuk jenis fobia yang jarang terjadi, tetapi efeknya bisa berdampak sangat besar pada kehidupan perempuan yang menderitanya. Dukungan pengobatan yang tepat akan sangat membantu mengatasi fobia ini. Pastikan untuk mendapatkan bantuan dari dokter atau ahli kesehatan jiwa bila kamu khawatir memiliki tokofobia.













![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahragamu, Kami Tebak Kamu Sudah Siap Ikut HYROX atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260711/3b12b7e9-1964-4f46-987d-335389a347c0_813eb20e-af68-4319-a7b7-f6b7b9c50718.jpeg)






![[QUIZ] DOMS atau Cedera? Kenali dari Pola Nyeri Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)