Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

12 Tanda Osteoporosis yang Tidak Boleh Disepelekan, Silent Disease

11 min read
12 Tanda Osteoporosis yang Tidak Boleh Disepelekan, Silent Disease
ilustrasi nyeri pada tulang (pexels.com/Kampus Production)
  • Osteoporosis menurunkan kepadatan tulang, membuat tulang rapuh dan rentan patah; penyakit ini kerap tidak disadari hingga fraktur terjadi, terutama pada usia lanjut.
  • Tanda yang perlu diperhatikan meliputi fraktur kompresi, nyeri punggung kronis, tinggi badan berkurang, postur membungkuk, gangguan keseimbangan, kelemahan otot atau genggaman, serta mobilitas menurun.
  • Masalah rahang dan gusi, kuku rapuh saat menopause, sesak napas akibat kelengkungan tulang belakang, serta kekurangan vitamin D dapat berkaitan dengan risiko osteoporosis dan perlu diperiksakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seiring bertambahnya usia, tubuh kita mengalami perubahan. Hal ini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Salah satunya adalah osteoporosis. Penyakit tulang ini ditandai dengan menurunnya kepadatan tulang dan kemampuan untuk membentuk kembali tulang-tulang yang hilang. Akibatnya, tulang menjadi lebih lemah dan lebih rentan mengalami patah tulang.

Orang yang memiliki risiko tinggi terkena osteoporosis adalah perempuan di atas 50 tahun. Namun, satu dari empat laki-laki berusia 50 tahun ke atas diperkirakan akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis, sebagaimana yang dilaporkan National Osteoporosis Foundation. Osteoporosis disebut sebagai silent disease karena banyak yang tidak menyadari mengidapnya sampai mengalami patah tulang.

Namun, ternyata ada tanda-tanda untuk mendeteksi osteoporosis lebih awal dan mengelola gejalanya untuk menghindari cedera serta kerusakan tulang yang tidak bisa diperbaiki. Nah, berikut ini adalah beberapa tanda yang mungkin menunjukkan penurunan kepadatan tulang akibat osteoporosis.

  1. 1. Mengalami masalah pada sendi rahang

    ilustrasi sakit pada sendi rahang
    ilustrasi sakit pada sendi rahang (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Meskipun banyak orang yang mengaitkan osteoporosis dengan patah tulang pinggul dan pergelangan tangan, ternyata penyakit ini dapat memengaruhi tulang dan sendi lain di tubuh, lho. Pasalnya, osteoporosis membuat tulang menjadi lebih rapuh dan menyusut seiring waktu. Nah, hal ini juga berdampak pada struktur tulang pendukung di mulut dan rahang.

    Sebuah studi yang ditulis oleh Ali Qays Lilo, dkk., berjudul "The Temporomandibular Joints Disorders in Patients with Osteoporosis" (2021), yang dimuat dalam Journal of Oral and Maxillofacial Pathology mencatat bahwa penderita osteoporosis sering mengalami masalah dengan sendi temporomandibular (TMJ) dan mengalami keterbatasan fungsi rahang, termasuk rahang terkunci dan bunyi klik, nyeri, nyeri tekan, dan kekakuan rahang. Meskipun nyeri rahang dan masalah sendi rahang belum tentu menjadi perhatian serius, orang yang berisiko lebih tinggi terkena osteoporosis dan mengalami masalah TMJ sebaiknya menemui dokter, terutama jika tidak memiliki riwayat masalah rahang sebelumnya.

  2. 2. Gusi mengalami penyusutan

    ilustrasi gusi
    ilustrasi gusi (pexels.com/kaboompics.com)

    Kamu mungkin beranggapan kalau masalah gusi tidak ada kaitannya dengan osteoporosis. Namun, hal itu ternyata merupakan tanda bahaya yang menunjukkan adanya kepadatan tulang yang rendah. Menurut tinjauan penelitian yang ditulis oleh Vahid Esfahanian, dkk., berjudul "Relationship Between Osteoporosis and Periodontal Disease: Review of the Literature" (2012), yang diterbitkan dalam Journal of Dentistry of Tehran University of Medical Sciences, menjelaskan bahwa ada hubungan antara osteoporosis dan terjadinya penyakit periodontal, yang merupakan bentuk lanjut dari penyakit gusi yang berpotensi menyebar ke jaringan di bawah gigi, termasuk tulang rahang.

    Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Chin-Wei (Jeff) Wang dan Laurie K McCauley, berjudul "Osteoporosis and Periodontitis" (2017) di Current Osteoporosis Reports, mengungkapkan bahwa ketika tulang rahang mengalami masalah dan kehilangan kepadatan akibat osteoporosis, seseorang bisa kehilangan gigi dan kantung periodontal yang lebih dalam, yaitu ruang yang terbentuk antara gigi dan garis gusi tempat bakteri tumbuh. Gusi yang menyusut adalah tanda umum penyakit periodontal.

  3. 3. Kuku rapuh

    ilustrasi kuku
    ilustrasi kuku (pexels.com/Anna Shvets)

    Saat hormon berfluktuasi dan menurun selama menopause, banyak perempuan yang mengalami perubahan pada kuku tangan dan kaki mereka. Kuku seringkali rapuh dan cenderung patah, pecah, dan retak selama periode ini. Hal ini disebabkan oleh penurunan estrogen yang dikaitkan dengan hilangnya kepadatan tulang dan peningkatan kemungkinan terkena osteoporosis, menurut jurnal yang ditulis oleh Pouya Saeedi, dkk., berjudul "Nail Properties and Bone Health: A Review" (2018) dalam Journal of Functional Biomaterials.

    Estrogen punya peran penting dalam perkembangan seksual dan kesehatan reproduksi perempuan. Namun, menopause adalah proses transisi alami yang membuat kadar estrogen turun ketika perempuan mencapai akhir masa suburnya. Jika kamu merasa kuku tidak sekuat dulu, itu bisa menjadi tanda bahwa kadar estrogen kamu berubah. Bersamaan dengan perubahan tersebut, muncul peningkatan risiko kehilangan kepadatan tulang dan osteoporosis.

  4. 4. Faktur kompresi yang sering terjadi

    ilustrasi cedera tulang
    ilustrasi cedera tulang (pexels.com/Kampus Production)

    Salah satu tanda yang paling jelas bahwa kesehatan tulang kamu menurun adalah seringnya mengalami patah tulang. Aktivitas yang dulunya mudah dilakukan menjadi berbahaya karena tulang melemah dan mobilitas pun berkurang. Beberapa orang mungkin mengalami fraktur kompresi (patah tulang akibat tekanan) pada tulang belakang yang disebabkan oleh tekanan pada tulang yang memburuk akibat osteoporosis.

    Dikutip Cedars Sinai, penyebab paling umum dari fraktur kompresi adalah osteoporosis. Selain itu, satu fraktur kompresi yang terkait dengan osteoporosis membuat seseorang berisiko lebih tinggi mengalami fraktur kompresi lainnya. Ketika tulang kehilangan kepadatan dan menjadi lebih rapuh seiring perkembangan penyakit, bahkan berat badan pun bisa mematahkan tulang di tulang belakang. Beberapa gejala fraktur kompresi meliputi nyeri punggung saat berdiri, membungkuk, atau berputar, penurunan tinggi badan, mati rasa, kesemutan, masalah berjalan, dan masalah dengan kontrol buang air besar dan buang air kecil.

  5. 5. Kelemahan otot dan penurunan mobilitas

    ilustrasi kelemahan otot
    ilustrasi kelemahan otot (pexels.com/Ron Lach )

    Menurut sebuah studi yang ditulis oleh C Terracciano, dkk., berjudul "Differential Features of Muscle Fiber Atrophy in Osteoporosis and Osteoarthritis" (2012), yang diterbitkan di Osteoporosis International, terdapat hubungan antara kerusakan otot dan kehilangan tulang. Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang belakang, patah tulang pinggul, dan patah tulang lainnya. Hal ini menyebabkan nyeri hebat yang membatasi mobilitas dan fungsi muskuloskeletal. Akibatnya, serat otot mulai memburuk dan bahkan mengalami atrofi ketika tulang menjadi lebih rapuh. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kehilangan serat otot tipe II dikaitkan dengan osteoporosis, dan pengurangan otot berkorelasi dengan tingkat keparahan kehilangan tulang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa osteoporosis sangat terkait dengan sarkopenia, yaitu penurunan kekuatan, fungsi, dan massa otot pada lansia.

    Kurangnya mobilitas sangat berbahaya bagi penderita osteoporosis karena olahraga dan aktivitas fisik rutin biasanya merupakan cara terbaik untuk mencegah masalah pada tulang, otot, dan persendian seiring bertambahnya usia, sebagaimana yang dijelaskan MedlinePlus. Meskipun beberapa orang berasumsi bahwa istirahat sangat ideal ketika mengalami nyeri otot dan persendian, tapi penelitian justru menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas justru berdampak lebih buruk bagi penderita osteoporosis.

  6. 6. Masalah keseimbangan

    ilustrasi jatuh karena hilangnya keseimbangan
    ilustrasi jatuh karena hilangnya keseimbangan (pexels.com/Kampus Production)

    Menurut sebuah ulasan yang ditulis oleh Wei-Li Hsu, dkk., berjudul "Balance Control in Elderly People with Osteoporosis" (2014) di jurnal Formosan Medical Association, tanda peringatan lain dari kehilangan massa tulang dan potensi osteoporosis adalah memburuknya masalah keseimbangan atau sering jatuh. Para peneliti menemukan bahwa sering kehilangan keseimbangan mungkin berhubungan dengan kelemahan otot dan kelengkungan tulang belakang karena pengurangan massa tulang. Studi ini juga menunjukkan bahwa kelengkungan bagian atas tulang belakang yang lebih menonjol, yang dikenal sebagai kifosis, dapat mengganggu gerakan dengan mengurangi langkah, kecepatan berjalan, dan kemampuan seseorang untuk menaiki tangga karena keseimbangan yang buruk. Hal ini juga meningkatkan risiko jatuh yang dapat mengakibatkan patah tulang, terutama ketika kekuatan dan kepadatan tulang terganggu. Kifosis umumnya terlihat pada orang yang menderita osteoporosis.

    Nah, untuk mengatasi masalah keseimbangan dan risiko jatuh, dokter sering merekomendasikan untuk olahraga, latihan kekuatan, dan peregangan leher serta tulang belakang. Beberapa gerakan ini dapat mencegah dan memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang yang disebabkan oleh osteoporosis, seperti yang dijelaskan Spine-health. Hal ini penting diatasi karena patah tulang osteoporosis yang lebih parah, seperti patah tulang pinggul, berdampak signifikan pada kualitas hidup seseorang dan bahkan menyebabkan peningkatan angka kematian pada pasien osteoporosis.

  7. 7. Melemahnya genggaman

    ilustrasi genggaman
    ilustrasi genggaman (pixabay.com/Steve Buissinne)

    Sebuah artikel yang ditulis oleh Yi‐zhong Li, dkk., berjudul "Low Grip Strength is a Strong Risk Factor of Osteoporosis in Postmenopausal Women" (2018), yang diterbitkan di Orthopaedic Surgery menyebutkan bahwa melemahnya genggaman yang dialami perempuan menopause dapat menandakan rendahnya kepadatan mineral tulang, yang merupakan faktor risiko kuat untuk mengembangkan osteoporosis. Para peneliti dalam studi ini menguji beberapa perempuan pascamenopause dari berbagai usia untuk menentukan apakah ada hubungan antara kekuatan genggaman, kepadatan mineral tulang, dan kadar vitamin D. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang menunjukkan kekuatan genggaman yang lebih lemah juga memiliki kepadatan mineral tulang yang jauh lebih rendah di tulang belakang, leher, dan pinggul. Studi ini juga menemukan hubungan antara kadar vitamin D yang lebih rendah dan buruknya kepadatan mineral tulang.

  8. 8. Kehilangan tinggi badan

    ilustrasi nyeri pada tulang
    ilustrasi nyeri pada tulang (pexels.com/kaboompics.com)

    Tinggi badan rupanya bisa ngasih tahu banyak hal tentang kesehatan tulang, lho. Meskipun penurunan tinggi badan bisa jadi hal yang wajar selama proses penuaan alami, kehilangan lebih dari 3,81 cm menunjukkan penyebab yang mungkin lebih serius, seperti yang dijelaskan oleh NYS Osteoporosis Prevention and Education Program. Nah, karena tulang kehilangan kepadatan dan lebih rentan patah akibat osteoporosis, biasanya hal itu memengaruhi tulang belakang. Orang yang menderita osteoporosis sering mengalami fraktur kompresi tulang belakang yang menyebabkan penurunan tinggi badan beberapa cm dalam beberapa kasus.

    Namun, fraktur tulang belakang bukanlah satu-satunya hubungan antara osteoporosis dan tinggi badan, nih. Studi yang ditulis Seth M. Kantor MD, dkk., berjudul "Height Loss and Osteoporosis of the Hip" (2004) dalam Journal of Clinical Densitometry juga menemukan hubungan antara kepadatan mineral tulang yang rendah pada tulang pinggul dan penurunan tinggi badan 5 cm atau lebih.

  9. 9. Postur tubuh yang membungkuk

    ilustrasi nyeri pada tulang
    ilustrasi nyeri pada tulang (pexels.com/Kampus Production)

    Saat tulang melemah dan kehilangan kepadatan, postur tubuh menjadi salah satu hal pertama yang terpengaruh. Kifosis adalah melengkungnya tulang belakang bagian atas, yang sering kali merupakan indikasi fraktur kompresi akibat osteoporosis, menurut Bone Health & Osteoporosis Foundation. Fraktur vertebra ini menyebabkan penderita osteoporosis tampak membungkuk atau bungkuk karena tulang belakang melengkung ke depan. Nah, semakin parahnya kifosis, penderita akan merasa sakit karena otot dan tendon tegang di bawah tekanan. Kelengkungan tersebut juga dapat menjepit dan mengiritasi saraf di dalam dan di sekitar tulang belakang, sehingga semakin sulit untuk tetap aktif.

  10. 10. Masalah pernapasan

    ilustrasi sesak napas
    ilustrasi sesak napas (pexels.com/Engin Akyurt)

    Beberapa kondisi kesehatan dan faktor eksternal bisa menjadi penyebab sesak napas. Namun, kesulitan bernapas juga dapat menjadi komplikasi dari kerusakan dan kelengkungan tulang belakang yang disebabkan oleh osteoporosis. Ketika masalah pernapasan muncul bersamaan dengan tanda-tanda peringatan osteoporosis, mungkin sudah saatnya untuk memeriksakan kesehatan tulang ke dokter.

    Menurut sebuah studi yang ditulis oleh Malay Sarkar, dkk., berjudul "Osteoporosis in Chronic Obstructive Pulmonary Disease" (2015), yang diterbitkan dalam Clinical Medicine Insights: Circulatory, Respiratory and Pulmonary Medicine, kifosis lanjut, atau kelengkungan tulang belakang toraks bagian atas yang terkait erat dengan kepadatan tulang rendah dan osteoporosis, dapat mengganggu fungsi paru-paru dalam beberapa cara.

    Pertama, studi tersebut menemukan bahwa kelengkungan tulang belakang yang menonjol dapat memberi tekanan pada paru-paru, yang mengakibatkan sesak napas. Hal ini terutama berlaku pada orang dengan masalah pernapasan yang sudah ada seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kedua, orang dengan tulang yang lebih lemah dan rapuh karena osteoporosis rentan terhadap patah tulang rusuk yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang parah saat menarik napas dalam-dalam. Ketiga, patah tulang kompresi di tulang belakang dapat secara signifikan membatasi mobilitas pasien PPOK, dan meningkatkan risiko emboli paru.

  11. 11. Sakit punggung dan nyeri kronis

    ilustrasi sakit pinggang
    ilustrasi sakit pinggang (pexels.com/Kindel Media)

    Seseorang bisa saja berasumsi kalau nyeri punggung merupakan tanda pertama osteoporosis. Namun, tulang yang lemah dan rapuh umumnya tidak terasa sakit sampai terjadi fraktur. Bahkan setelah itu, mungkin butuh beberapa waktu sebelum patah tulang kecil tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman.

    Namun, sebuah tinjauan yang ditulis oleh Consalvo Mattia, dkk., berjudul "Bone Pain Mechanism in Osteoporosis: A Narrative Review" (2016), yang diterbitkan dalam Clinical Cases in Mineral and Bone Metabolism menunjukkan bahwa fraktur kompresi berulang pada tulang belakang memiliki efek jangka panjang yang menyakitkan pada tubuh. Menurut penelitian tersebut, fraktur tulang belakang dapat menyebabkan rasa sakit yang akhirnya menyebabkan sensitisasi sentral, yaitu peningkatan sensitivitas neuron tulang belakang. Hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa serabut saraf sensorik tulang termodifikasi dan tersensitisasi seiring perkembangan osteoporosis. Hal ini pada gilirannya, menyebabkan nyeri kronis dan parah di luar sakit punggung biasa.

    Seperti apa rasanya nyeri tulang akibat osteoporosis? Itu tergantung pada individu, tingkat keparahan fraktur, dan apakah ada kondisi lain yang dapat menambah ketidaknyamanan seseorang. Bagi banyak penderita osteoporosis, patah tulang dapat menyebabkan nyeri hebat dan kejang otot. Selain itu, nyeri dapat memburuk saat berdiri, berjalan, berputar, dan membungkuk.

    Seperti yang dijelaskan dalam ulasan yang ditulis oleh Teresa Paolucci, dkk., berjudul "Management of Chronic Pain in Osteoporosis: Callenges and Solutions" (2016) di Journal of Pain Research, pengelolaan nyeri osteoporosis kronis dapat mencakup olahraga, fisioterapi, terapi perilaku kognitif, dan intervensi lain yang berbasis pada kesadaran penuh (mindfulness). Terdapat juga terapi farmakologis yang melibatkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan opioid untuk meredam nyeri.

  12. 12. Kekurangan vitamin D

    ilustrasi suplemen vitamin D
    ilustrasi suplemen vitamin D (pexels.com/cottonbro studio)

    Meskipun kekurangan vitamin D dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan, hal ini sangat berkaitan dengan kesehatan tulang. Vitamin D memungkinkan tubuh kita menyerap kalsium, mendukung kepadatan mineral tulang, dan menurunkan risiko patah tulang. Orang yang tidak mendapatkan cukup vitamin D sering menderita masalah kesehatan tulang, termasuk osteoporosis, seperti yang dijelaskan Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism.

    Saat kamu periksa ke rumah sakit, biasanya perawat akan mengukur kadar vitamin D dalam darah menggunakan tes 25-hidroksi vitamin D. Nah, hal ini biasanya dilakukan jika kamu berisiko kekurangan vitamin D, termasuk jika tidak cukup terpapar sinar matahari langsung atau seorang lansia yang mengalami kelemahan tulang. Jika hasil tes menunjukkan kekurangan vitamin D, dokter akan menjelaskan tentang faktor risiko osteoporosis dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan tulang. Kamu mungkin diminta untuk mengonsumsi lebih banyak makanan yang mengandung sumber alami vitamin D atau mengonsumsi suplemen vitamin D agar menerima kalsium yang dibutuhkan untuk tulang yang kuat.

    Hari Osteoporosis Sedunia (World Osteoporosis Day) diperingati setiap tanggal 20 Oktober, ada baiknya kita lebih aware akan penyakit ini. Jadi, penting banget untuk kita menyadari pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit pengeroposan tulang ini sedini mungkin.

    Referensi

    “Osteoporosis Fast Facts.” Bone Health & Osteoporosis Foundation. Diakses Oktober 2026.

    “Osteoporosis.” MedlinePlus. Diakses Oktober 2026.

    “Knowing Your Risk Can Help You Catch Osteoporosis Early.” OSF HealthCare. Diakses Oktober 2026.

    “Understanding Osteoporosis — the Basics.” WebMD. Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More