- Bersin.
- Batuk.
- Tenggorokan gatal.
- Mata berair.
- Hidung tersumbat.
- Sakit kepala.
- Kelelahan.
7 Penyebab Hilangnya Suara atau Afonia

Afonia adalah hilangnya suara total, sehingga penderita hanya bisa berbisik atau tidak bersuara; kondisi ini dapat mengganggu komunikasi dan kualitas hidup.
Pemicu umum meliputi alergi, infeksi saluran pernapasan, cedera atau penggunaan pita suara berlebihan, merokok, polutan, serta refluks asam.
Afonia juga dapat terkait masalah struktural, gangguan saraf, atau faktor psikologis seperti stres dan kecemasan; penanganan medis tepat waktu diperlukan.
Kehilangan suara bisa terasa mengkhawatirkan karena mengganggu komunikasi dan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini disebut afonia, yaitu hilangnya suara sepenuhnya sehingga seseorang hanya bisa berbisik atau bahkan tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Meski sering bersifat sementara, tetapi beberapa kasus memerlukan penanganan medis agar suara pulih kembali.
Apa saja penyebab afonia? Berikut ini beberapa penyebab potensialnya.
Table of Content
1. Alergi
Alergi dapat menyebabkan peradangan pada pita suara. Beberapa pemicu alergi di antaranya serbuk sari dan debu. Hal ini memicu gejala seperti suara serak, suara melemah, dan pada akhirnya, afonia. Selain kehilangan suara, alergi juga bisa disertai gejala lain, seperti:
2. Infeksi saluran pernapasan
Infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas, seperti pilek biasa, influenza (flu), COVID-19, atau pneumonia, juga dapat menyebabkan afonia. Saat mengalami infeksi ini, tenggorokan bisa mengalami peradangan yang menyebabkan hilangnya suara atau suara menjadi serak.
Infeksi saluran pernapasan juga dapat menyebabkan sakit kepala, hidung meler, batuk, bersin, dan kelelahan.
3. Kerusakan parah pada pita suara

ilustrasi suara hilang (magnific.com/jcomp) Cedera atau pembengkakan pada pita suara dapat menghambat produksi suara. Kondisi ini bisa disebabkan oleh:
- Berteriak atau menjerit secara berlebihan.
- Penggunaan suara secara berlebihan dalam jangka panjang (misalnya pada guru, penyanyi, atau pekerja call center).
- Merokok atau paparan polutan.
- Refluks asam yang mengiritasi tenggorokan.
4. Penggunaan suara yang salah
Sebagian orang mengalami afonia akibat ketegangan pada pita suara karena terlalu sering berbicara dengan suara keras, berteriak, atau menjerit. Pita suara dapat mengalami kelelahan, yang memengaruhi kemampuan untuk bersuara dengan baik. Orang yang secara rutin menggunakan pita suara secara berlebihan lebih rentan mengalami afonia.
5. Masalah struktural
Masalah struktural pada pita suara, yang sering kali muncul akibat pertumbuhan abnormal atau kanker, juga dapat menyebabkan afonia. Penyebab potensialnya, meliputi:
- Edema (pembengkakan): Edema Reinke adalah pertumbuhan nonkanker di laring yang dapat memengaruhi suara. Ini adalah kondisi langka yang dapat terjadi pada orang yang sering merokok atau sering terpapar asap rokok orang lain.
- Nodul: Nodul, kista, dan polip pada pita suara adalah pertumbuhan nonkanker yang terjadi akibat penggunaan suara yang salah, berbicara terlalu banyak dan keras, merokok, serta alergi. Selain hilangnya suara, nodul dapat membuat suara menjadi serak dan terasa kasar, menimbulkan sensasi adanya benjolan di tenggorokan, serta menyebabkan nyeri leher.
- Penuaan: Seiring bertambahnya usia, pita suara secara alami melemah dan mengalami perubahan struktur. Hal ini dapat menyebabkan afonia, suara serak, kelelahan pita suara, dan suara yang lemah.
- Kanker laring. Afonia dan suara serak juga bisa menjadi tanda awal kanker laring. Kondisi ini lebih umum terjadi pada orang yang mengonsumsi alkohol dan menggunakan produk tembakau. Selain hilangnya suara, kanker ini dapat menyebabkan nyeri saat menelan, sakit tenggorokan, nyeri telinga, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
6. Masalah neurologis

ilustrasi seorang pria kehilangan suara (magnific.com/Lifestyle memory) Masalah pada bagian otak atau saraf yang mengatur pita suara dapat menyebabkan jenis afonia yang disebut afonia neurogenik. Kerusakan pada saraf vagus—yang terletak di kedua sisi leher—dapat menyebabkan kelumpuhan pita suara, yaitu kondisi di mana pita suara sama sekali tidak dapat bergerak.
Beberapa kondisi dapat memengaruhi jalur saraf ini dan berdampak pada suara akibat hilangnya kendali motorik serta kelumpuhan, seperti:
- Multiple sclerosis.
- Penyakit Parkinson.
- Stroke.
- Tremor (gemetar).
- Disfonia akibat ketegangan otot (pita suara menegang).
- Gerakan pita suara paradoksikal (pita suara menutup saat seharusnya terbuka).
7. Faktor psikologis
Hilangnya suara juga bisa disebabkan oleh reaksi yang murni bersifat psikologis. Stres, trauma, ketakutan ekstrem, dan kecemasan berat terkadang dapat menyebabkan hilangnya suara. Orang dengan kondisi dan gejala berikut mungkin memiliki risiko lebih tinggi mengalami afonia psikogenik:
- Depresi.
- Kecemasan.
- Kesulitan motorik atau gerakan tak terkendali (tik).
- Kesulitan menelan (disfagia).
- Gangguan saat berjalan.
- Halusinasi.
- Demensia atau hilangnya ingatan.
Afonia mungkin tampak mengkhawatirkan, tetapi pada sebagian besar kasus, penyakit ini dapat diobati. Memahami penyebabnya dan mendapatkan perawatan medis tepat waktu dapat membuat perbedaan besar. Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami hal ini, dapatkan perawatan sesegera mungkin.
Referensi
Health. Diakses pada Oktober 2026. "What Causes Aphonia (Loss of Voice)?"
Royal Pearl ENT & Dental. Diakses pada Oktober 2026. "Understanding Aphonia: Why Voice Loss Happens and How It Is Treated."













![[QUIZ] Pilih Ending atau Serial Favoritmu, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)










