Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terjebak Salju Longsor (Avalanche), Apa yang Terjadi pada Tubuh?
ilustrasi papan peringatan longsor salju (unsplash.com/Nicolas Cool)
  • Ancaman utama ketika seseorang tertimbun longsoran salju adalah asfiksia atau kekurangan oksigen, baik karena jalan napas tertutup, karbon dioksida menumpuk, maupun dada sulit mengembang.

  • Peluang bertahan hidup pada korban yang kepala dan dadanya tertimbun masih sekitar 91 persen jika dievakuasi dalam 10 menit, tetapi turun menjadi 31 persen setelah 30 menit.

  • Adanya ruang udara di depan hidung dan mulut serta jalan napas yang tetap terbuka dapat memperpanjang waktu bertahan. Pada korban yang tertimbun lama, hipotermia kemudian ikut mengubah fungsi jantung, otak, dan metabolisme.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat longsoran salju atau avalanche berhenti bergerak, korban tidak cuma menghadapi suhu dingin ekstrem. Salju dapat menutup mulut dan hidung, membatasi gerakan dada, serta membuat udara yang baru saja diembuskan terhirup kembali. Pada saat yang sama, benturan selama terseret longsoran dapat menyebabkan cedera kepala, tulang belakang, dada, maupun anggota tubuh lainnya.

Dokter mengenal tiga ancaman utama dalam kecelakaan salju longsor, yaitu trauma, asfiksia, dan hipotermia. Dari ketiganya, asfiksia merupakan penyebab kematian yang paling sering.

Pedoman Wilderness Medical Society (WMS) memperkirakan sekitar 75 persen kematian terkait longsoran salju disebabkan oleh asfiksia dan sekitar 25 persen akibat trauma, meski proporsinya berbeda menurut kondisi geografis dan karakter longsoran.

Tubuh bisa mengalami trauma bahkan sebelum tertimbun

Cedera dapat terjadi ketika tubuh masih terseret bersama massa salju. Korban dapat terbentur pohon atau batu, jatuh dari tebing, atau terbawa melewati permukaan yang tidak rata.

Kepala, tulang belakang leher, dada, dan ekstremitas sebagai beberapa lokasi cedera serius yang sering ditemukan pada korban salju longsor. Dalam berbagai penelitian di Amerika Utara dan Eropa, trauma menyumbang sekitar 6–29 persen kematian.

Sebuah studi terhadap kematian akibat avalanche di Colorado, Amerika Serikat, misalnya, menemukan asfiksia sebagai penyebab kematian pada 65 persen kasus dan trauma pada 29 persen. Di antara kematian akibat trauma, cedera multipel, kepala, dan tulang belakang termasuk penyebab utama.

Trauma juga dapat memperburuk kemungkinan bertahan hidup meskipun cedera itu sendiri tidak secara langsung mematikan. Cedera kepala dapat menurunkan kesadaran sehingga korban tidak mampu melindungi jalan napas, sedangkan cedera dada dapat makin menyulitkan pernapasan.

Ketika kepala dan dada tertimbun, masalah terbesar adalah bernapas

Dalam kedokteran avalanche, critical burial berarti kepala dan dada berada di bawah salju. Dalam kondisi inilah risiko asfiksia meroket. Kenapa?

Pertama, salju atau debris dapat masuk dan menyumbat sebagian atau seluruh jalan napas.

Kedua, kalau sampai tidak ada ruang udara di sekitar hidung dan mulut, korban terus menghirup kembali udara yang baru saja dikeluarkan. Oksigen di sekitar wajah makin berkurang sementara karbon dioksida terus bertambah.

Ketiga, berat dan pemadatan salju dapat membatasi pengembangan dada sehingga menarik napas sangat sulit.

Masalah kedua, salju mengandung udara di antara kristalnya, sehingga dalam kondisi tertentu gas masih dapat berdifusi melalui lapisan salju. Namun, kemampuannya sangat dipengaruhi oleh kepadatan dan porositas salju. Makin padat salju, pertukaran oksigen dan karbon dioksida makin buruk.

Tubuh kemudian memasuki kondisi hipoksia/hipoksemia, yaitu kondisi ketika pasokan oksigen tidak mencukupi, sekaligus hiperkapnia, yang terjadi ketika karbon dioksida menumpuk.

Air pocket bisa menentukan seberapa lama seseorang bernapas

ilustrasi avalanche (unsplash.com/Krzysztof Kowalik)

Salah satu faktor terpenting adalah keberadaan air pocket, yaitu ruang udara di sekitar mulut dan hidung. Ruang tersebut dapat memberi akses terhadap udara di pori-pori salju dan menyediakan ruang untuk bernapas. Makin besar ruangnya dan makin mudah gas berdifusi melalui salju, makin lama pernapasan mungkin dipertahankan.

Eksperimen klasik terhadap 12 sukarelawan menunjukkan betapa cepat kondisi tubuh dapat berubah. Ketika peserta bernapas ke dalam ruang udara buatan berukuran satu atau dua liter di bawah salju, saturasi oksigen median turun dari 99 persen menjadi 88 persen hanya dalam 4 menit. Pada saat yang sama, kadar karbon dioksida yang diembuskan meningkat dan terjadi asidosis respiratorik. Sebanyak 17 dari 28 percobaan harus dihentikan lebih awal karena saturasi oksigen turun hingga 75 persen atau lebih rendah.

Penelitian lain menemukan bahwa bernapas tanpa ruang udara membutuhkan kerja pernapasan lebih besar dan menyebabkan hipoksia serta hiperkapnia berkembang lebih cepat.

Ketika karbon dioksida naik, respons tubuh adalah dorongan napas yang makin besar. Jika ini terus berlangsung, berkurangnya oksigen dan meningkatnya karbon dioksida mengganggu fungsi otak dan sistem kardiovaskular. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan kesadaran, henti napas, dan henti jantung akibat asfiksia. Pada korban longsoran salju, kombinasi hipoksia, hiperkapnia, dan hipotermia disebut sebagai “triple H syndrome”.

Selanjutnya, terjadi hipotermia

Orang yang terkubur salju akan mengalami kehilangan panas. Namun, pada kebanyakan kematian terkait avalanche, asfiksia terjadi lebih cepat daripada hipotermia berat.

Laju penurunan suhu inti korban sangat bervariasi, tetapi umumnya sekitar 1–3 derajat Celsius per jam. Biasanya dibutuhkan setidaknya 1 jam untuk mencapai suhu inti di bawah 30 derajat Celsius, ketika risiko gangguan irama jantung berbahaya makin besar.

Pada tahap awal, tubuh berusaha mempertahankan panas dengan menyempitkan pembuluh darah kulit dan menggigil. Ketika suhu makin rendah, aktivitas metabolik, fungsi saraf, kesadaran, denyut jantung, dan pernapasan ikut melambat.

Penurunan metabolisme akibat hipotermia berarti jaringan membutuhkan lebih sedikit oksigen. Pada keadaan tertentu, ini dapat membantu menjelaskan mengapa ada korban dengan jalan napas terbuka dan air pocket yang mampu bertahan sangat lama.

Studi di Swiss terhadap korban yang tertimbun setidaknya 1 jam menemukan 19 persen dari 140 korban masih bertahan hidup. Para peneliti menegaskan, korban yang tertimbun lama dengan jalan napas tetap terbuka tidak boleh langsung dianggap tidak bisa diselamatkan.

Namun, hipotermia bukanlah pelindung. Jika tubuh terlebih dahulu mengalami kekurangan oksigen berat, pendinginan tidak otomatis mencegah kerusakan otak. Hiperkapnia juga dapat memperburuk ketidakstabilan kardiovaskular selama hipotermia.

10 menit pertama sangat menentukan

Sebuah penelitian dalam jurnal JAMA Network Open tahun 2024 menganalisis 1.643 orang yang kepala dan dadanya tertimbun avalanche di Swiss selama empat dekade. Peluang bertahan hidup diperkirakan:

  • Sekitar 91 persen jika korban dievakuasi dalam 10 menit.

  • Sekitar 76 persen pada 15 menit.

  • Hanya sekitar 31 persen setelah 30 menit.

Walaupun demikian, kedalaman, cedera, posisi tubuh, jalan napas, keberadaan air pocket, serta sifat salju dapat membuat hasilnya berbeda. Namun, penurunan tajam antara menit ke-10 dan ke-30 menggambarkan periode ketika asfiksia menyebabkan korban jiwa.

Pertolongan dari teman yang berada di lokasi sangat penting. Tim penyelamat profesional butuh waktu untuk mencapai area longsor salju, sedangkan tubuh korban mungkin cuma memiliki waktu beberapa menit sebelum oksigen turun drastis.

Anjurannya, orang yang beraktivitas di medan berisiko longsor salju membawa avalanche transceiver, sekop, dan perlengkapan yang sesuai serta berlatih menggunakannya. Jika seseorang terseret dan tidak mampu menghindari tertimbun, lindungi jalan napas dan coba ciptakan ruang di depan wajah dengan menempatkan lengan melintang di depan mulut. Bukti untuk teknik ini masih berkualitas rendah, sehingga pencegahan dan menghindari medan berbahaya tetap menjadi langkah terpenting.

Keluar dari salju pun belum tentu bebas dari ancaman. Korban dapat mengalami cedera yang sebelumnya tidak disadari, aspirasi salju, hipotermia, dan pada kasus tertentu edema paru yang baru berkembang beberapa jam setelah penyelamatan. Korban yang kepala dan dadanya sempat tertimbun disarankan untuk dievaluasi di fasilitas medis walaupun tampak tidak mengalami cedera berat.

Referensi

Christopher Van Tilburg et al., “Wilderness Medical Society Clinical Practice Guidelines for Prevention and Management of Avalanche and Nonavalanche Snow Burial Accidents: 2024 Update,” Wilderness & Environmental Medicine 35, no. 1 suppl. (2024): 20S–44S, doi:10.1016/j.wem.2023.05.014.

Spencer McIntosh et al., “Causes of Death Among Avalanche Fatalities in Colorado: A 21-Year Review,” Wilderness & Environmental Medicine (2018).

Giacomo Strapazzon et al., “Effects of Snow Properties on Humans Breathing into an Artificial Air Pocket—An Experimental Field Study,” Scientific Reports 7 (2017): 17675, doi:10.1038/s41598-017-17960-4.

Hermann Brugger et al., “Hypoxia and Hypercapnia during Respiration into an Artificial Air Pocket in Snow: Implications for Avalanche Survival,” Resuscitation 58, no. 1 (2003): 81–88, doi:10.1016/S0300-9572(03)00113-8.

Karel Roubík, Ladislav Sieger, and Karel Sykora, “Work of Breathing into Snow in the Presence versus Absence of an Artificial Air Pocket Affects Hypoxia and Hypercapnia of a Victim Covered with Avalanche Snow: A Randomized Double Blind Crossover Study,” PLOS ONE 10, no. 12 (2015): e0144332, doi:10.1371/journal.pone.0144332.

Giacomo Strapazzon, Anna Taboni, Erik Sveberg Dietrichs, Andrew M. Luks, and Hermann Brugger, “Avalanche Burial Pathophysiology—A Unique Combination of Hypoxia, Hypercapnia and Hypothermia,” The Journal of Physiology 602, no. 21 (2024): 5785–5800, doi:10.1113/JP284607.

David Eidenbenz et al., “Survival Probability in Avalanche Victims with Long Burial (≥60 min): A Retrospective Study,” Resuscitation 166 (2021): 93–100, doi:10.1016/j.resuscitation.2021.05.030.

Simon Rauch et al., “Avalanche Survival Rates in Switzerland, 1981–2020,” JAMA Network Open 7, no. 9 (2024): e2435253, doi:10.1001/jamanetworkopen.2024.35253.

Curated For You

Editorial Team

Related Article