ilustrasi memakai masker saat sakit (freepik.com/freepik)
Bagi orang-orang yang memiliki asma atau masalah pernapasan tertentu, kabut asap dapat menjadi lebih mengganggu karena saluran napas mereka lebih peka terhadap iritan. Gejala yang biasanya jarang muncul, seperti batuk, mengi, dada terasa berat, atau sesak, bisa menjadi lebih sering terjadi saat kualitas udara menurun. Hal ini tentu membuat aktivitas yang biasa seperti berjalan di luar rumah atau tidur malam terasa lebih melelahkan dari biasanya.
Kalau gejala mulai muncul kembali setelah terpapar asap, jangan tunggu hingga sesak napas menjadi parah untuk mengambil tindakan. Usahakan untuk menghindari paparan asap sebanyak mungkin dan gunakan obat yang telah diresepkan untuk kondisi tersebut sesuai dengan petunjuk dokter. Apabila gejala terus memburuk, sulit untuk dikendalikan, atau menyebabkan kesulitan bernapas, segera cari bantuan medis.
Terpapar asap karhutla memang bisa menimbulkan keluhan mulai dari batuk, mata perih, hingga sesak napas, tetapi gejala yang semakin berat sebaiknya gak dibiarkan begitu saja. Kenali perubahan kondisi tubuh dan segera periksa jika keluhan menetap, memburuk, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jadi, gak perlu menunggu sampai benar-benar tumbang untuk peduli pada kondisi tubuh sendiri, ya.
Referensi
“The association between fire smoke exposure and emergency department (ED) visits and hospital admissions (HA): A systematic review and meta-analysis.” Heliyon. Diakses Agustus 2026.
“Wildfire Smoke: Health Effects, Mechanisms, and Mitigation.” Environmental Science & Technology. Diakses Agustus 2026.
“Health Effects of Wildfire Smoke Exposure.” Annual Review of Medicine. Diakses Agustus 2026.
“Wildfires.” World Health Organization (WHO). Diakses Agustus 2026.
“Wildfire smoke: a frequently underestimated health risk.” World Health Organization Regional Office for Europe (WHO Europe). Diakses Agustus 2026.