Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harapan Hidup Naik, Menkes Soroti Tantangan Alzheimer dan Demensia

Harapan Hidup Naik, Menkes Soroti Tantangan Alzheimer dan Demensia
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
  • Meningkatnya harapan hidup Indonesia mengubah pola penyakit pada usia lanjut, dengan Alzheimer, demensia, dan Parkinson menjadi tantangan kesehatan yang perlu diantisipasi.

  • Menteri kesehatan menekankan pencegahan serta deteksi dini, termasuk melalui PET-MR, pemeriksaan cairan serebrospinal, dan biomarker berbasis darah untuk Alzheimer.

  • Pemerintah mendorong riset otak, genomik, bioteknologi, AI kesehatan, robotika, serta kolaborasi internasional guna memperkuat pemahaman dan penanganan penyakit neurologis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Angka harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat. Namun, hidup lebih lama juga membawa tantangan baru di bidang kesehatan, terutama ketika bertambahnya usia diikuti meningkatnya risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, demensia, dan Parkinson.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai Indonesia perlu mulai bersiap menghadapi perubahan pola penyakit tersebut, salah satunya dengan memperkuat deteksi dini dan penelitian mengenai penyakit otak.

  1. Penyakit otak jadi tangangan baru

    Menkes Budi mengatakan peningkatan angka harapan hidup membuat pola penyakit di Indonesia ikut berubah. Ketika masyarakat hidup lebih lama, jenis penyakit yang muncul pada usia lanjut pun semakin beragam, termasuk penyakit yang berkaitan dengan fungsi otak dan sistem saraf.

    Ia mencontohkan demensia yang mencakup berbagai kondisi neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson. Menurutnya, penyakit-penyakit tersebut menjadi tantangan baru yang perlu mendapat perhatian karena Indonesia sedang memasuki fase penduduk yang mencapai usia lanjut.

    Perubahan ini membuat upaya menjaga kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan ketika seseorang sudah sakit. Menkes Budi menekankan pentingnya pendekatan preventif, yakni mencegah penyakit dan mengenalinya sedini mungkin sebelum kondisi berkembang lebih jauh.

    "Menjaga masyarakat tetap sehat sejak awal juga lebih efisien dibandingkan menunggu penyakit berkembang hingga membutuhkan penanganan kompleks. Karena itu, peningkatan angka harapan hidup idealnya berjalan beriringan dengan peningkatan healthy life expectancy atau harapan hidup sehat," kata Menkes yang dikutip dalam keterangan resmi.

    Gangguan seperti Alzheimer dan demensia tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga memengaruhi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup dalam jangka panjang.

  2. Sulitnya deteksi penyakit Alzheimer

    Ilustrasi demensia Alzheimer karya Aditya Pratama untuk IDN Times tentang kondisi penurunan fungsi kognitif pada otak.
    ilustrasi demensia Alzheimer (IDN Times/Aditya Pratama)

    Berbeda dengan stroke yang tanda dan pemeriksaannya relatif lebih mudah diarahkan setelah gejala muncul, penyakit seperti Alzheimer masih menyimpan banyak pertanyaan. Menkes Budi mengatakan hingga kini pemahaman mengenai penyebab, cara melakukan skrining, hingga pengobatan penyakit tersebut masih terbatas.

    “Ini penyakit yang lebih advance. Kita masih kurang pengetahuan tentang apa penyebab sebenarnya, bagaimana melakukan skrining dan bagaimana mengobatinya,” ujarnya.

    Karena itu, ia menilai pengembangan metode deteksi dini menjadi salah satu pekerjaan penting dalam menghadapi meningkatnya penyakit neurodegeneratif. Semakin awal suatu penyakit diketahui, semakin besar peluang intervensi dilakukan sebelum kondisi pasien berkembang lebih jauh.

    Menkes Budi mencontohkan penggunaan positron emission tomography magnetic resonance imaging (PET-MR) sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu mendeteksi perubahan di otak yang berkaitan dengan penyakit tersebut, termasuk keberadaan amyloid. Ia menyebut pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pengadaan PET-MR.

    Metode lain yang dapat digunakan yakni pemeriksaan cairan serebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF) untuk mengetahui kemungkinan adanya perubahan biologis yang berkaitan dengan Alzheimer.

  3. Deteksi dengan sampel darah

    Menkes Budi mengusulkan pengembangan blood-based biomarkers—diukur melalui sampel darah untuk membantu mendeteksi perubahan biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

    Teknologi ini menjadi salah satu bidang penelitian yang berkembang karena berpotensi menawarkan metode skrining yang lebih sederhana dan minim invasif dibandingkan pemeriksaan berbasis cairan serebrospinal.

    Pengembangan metode seperti ini sejalan dengan prinsip "screen early and treat early". Dengan mengetahui risiko atau tanda penyakit sedini mungkin, penanganan dapat dilakukan lebih cepat, sekaligus berpotensi mengurangi beban biaya dan mempertahankan kualitas hidup pasien lebih lama.

    Selain teknologi pencitraan dan biomarker, Menkes Budi juga mendorong pemanfaatan genomik untuk memahami penyakit otak. Menurutnya, penelitian mengenai karakteristik genetik masyarakat Indonesia dapat membantu menemukan perubahan biologis yang berhubungan dengan penyakit neurodegeneratif dan pada akhirnya membuka peluang untuk membuat metode deteksi yang lebih tepat sasaran.

  4. Riset otak diperkuat

    Seorang perempuan lanjut usia di kursi roda membaca buku bersama putrinya di taman sebagai ilustrasi demensia Alzheimer.
    ilustrasi pasien demensia Alzheimer (magnific.com/jcomp)

    Upaya menghadapi penyakit neurodegeneratif tidak cukup hanya dengan memperluas akses diagnosis dan layanan kesehatan. Menkes Budi negara kita perlu memperkuat riset untuk memahami bagaimana otak bekerja dan apa yang sebenarnya menyebabkan berbagai penyakit neurologis.

    Ia menilai masih banyak hal mengenai otak yang belum dipahami manusia, termasuk mekanisme yang menyebabkan kerusakan atau gangguan pada neuron. Pemerintah saat ini mendorong tiga inisiatif nasional yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kesehatan, yakni bioteknologi, akal imitasi (artificial intelligence/AI) di bidang kesehatan dan robotika.

    Indonesia juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah penduduk yang dapat menjadi sumber data dan objek penelitian dalam skala besar. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memahami karakteristik penyakit neurologis pada masyarakat sekaligus mengembangkan pendekatan kesehatan yang lebih sesuai dengan populasi lokal.

    Penguatan riset tersebut juga membutuhkan kolaborasi dengan institusi dan peneliti internasional. Hal ini menjadi salah satu fokus dalam The 1st International King's–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026, yang mempertemukan dokter dan ahli neurologi dari Indonesia dengan para pakar dari King’s College London.

    Menkes berharap kerja sama semacam ini dapat mempercepat pertukaran pengetahuan antara dokter dan peneliti Indonesia dengan komunitas ilmiah global.

    “Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” Menkes Budi mengatakan.

    Hal ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan dokter dalam menangani pasien, tetapi juga mendorong lahirnya penelitian mengenai penyakit otak yang lebih kuat. Dengan deteksi dini, riset, dan teknologi yang terus berkembang, Indonesia dapat mulai mempersiapkan diri menghadapi tantangan kesehatan yang muncul seiring usia hidup masyarakat yang lebih panjang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More