Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Ada Orang yang Bisa Tersesat di Rumah Sendiri?

Kenapa Ada Orang yang Bisa Tersesat di Rumah Sendiri?
ilustrasi tersesat di rumah sendiri (magnific.com/magnific)
  • Developmental topographical disorientation (DTD) membuat seseorang sangat kesulitan menemukan arah sejak masa kanak-kanak, bahkan di lingkungan yang sudah sangat familier.

  • Masalah utamanya pada banyak kasus adalah kesulitan membangun peta kognitif, yaitu representasi mental tentang bagaimana berbagai lokasi saling terhubung.

  • DTD berbeda dari disorientasi yang tiba-tiba muncul akibat stroke, cedera otak, atau penyakit neurologis. Jika kemampuan navigasi mendadak memburuk saat dewasa, penyebab medis lain perlu dicari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Rumah biasanya menjadi tempat yang paling mudah dinavigasi. Tanpa berpikir, seseorang tahu kamar mandi ada di sebelah mana, bagaimana menuju dapur dalam gelap, atau pintu keluar.

Namun, bagi sebagian orang dengan developmental topographical disorientation (DTD), rasa familier itu tidak otomatis berubah menjadi kemampuan mengetahui arah.

Dalam bentuk yang berat, seseorang dapat tersesat di lingkungan tempat ia tinggal atau bekerja bertahun-tahun—bahkan di dalam rumahnya sendiri.

Studi besar mengenai DTD menggambarkan penderitanya sebagai orang yang dapat kehilangan arah setiap hari di lingkungan sangat familier, seperti kompleks rumah, gedung kantor, dan, pada kasus ekstrem, rumah sendiri.

  1. Apa itu developmental topographical disorientation?

    DTD adalah gangguan kemampuan navigasi yang sudah muncul sejak masa perkembangan dan berlangsung seumur hidup, sementara kemampuan intelektual dan fungsi kognitif umum lainnya relatif terjaga.

    Kondisi ini pertama kali diberi nama DTD dalam laporan ilmiah tahun 2009. Pasien pertama yang dipelajari tidak memiliki cedera, kelainan struktural otak yang terlihat, maupun gangguan intelektual. Namun, ia sangat kesulitan membangun representasi mental lingkungan sehingga mudah kehilangan arah di tempat baru maupun familier.

    Kriteria yang banyak digunakan dalam penelitian mencakup:

    • Sering tersesat, termasuk di lingkungan yang sangat familier.
    • Masalah tersebut sudah dialami sejak masa kanak-kanak atau remaja.
    • Tidak ada masalah kognitif lain yang cukup untuk menjelaskan kesulitan navigasi.
    • Tidak ada riwayat cedera otak atau kondisi neurologis yang menjelaskannya.

    Meski demikian, DTD masih merupakan bidang penelitian yang relatif muda. Belum ada satu definisi klinis dan alat diagnostik standar yang disepakati untuk memastikan DTD.

  2. Kenapa seseorang bisa tersesat di tempat yang sudah dikenalnya?

    Salah satu penjelasan terkuat adalah masalah dalam membentuk peta kognitif.

    Peta kognitif adalah representasi mental mengenai hubungan antarlokasi: kamar ada di sebelah dapur, pintu keluar berada di belakang, jalan A bertemu jalan B, atau warung berada di sisi lain taman.

    Kemampuan tersebut memungkinkan seseorang tidak hanya menghafalkan satu rute, tetapi memahami bagaimana seluruh lingkungan tersusun. Jika jalan biasa ditutup, misalnya, orang dengan peta kognitif yang baik dapat mencari jalur alternatif.

    Tinjauan sistematis yang menelaah 15 penelitian menemukan masalah pada DTD paling konsisten terlihat pada kualitas peta mental, khususnya pengetahuan mengenai posisi lokasi satu terhadap lainnya dan hubungan antarjalur. Sebaliknya, kemampuan mengenali landmark sering kali masih relatif terjaga.

    Singkatnya, seseorang mungkin mengenali minimarket, gereja, atau gedung tertentu, tetapi tidak tahu bagaimana tempat-tempat itu saling terhubung.

  3. Bahkan denah rumah sendiri bisa sulit dibentuk

    Ilustrasi seseorang berdiri sendirian di tengah jalan bercabang sambil kebingungan mencari arah tujuan.
    ilustrasi orang tersesat (pexels.com/T Leish)

    Kasus yang dilaporkan pada 2010 memperlihatkan seberapa ekstrem DTD dapat terjadi.

    Seorang laki-laki berusia 22 tahun dengan perkembangan dan inteligensi normal mengalami gangguan navigasi sangat berat. Ia sulit mempelajari rute yang sudah berulang kali dilalui, tidak mampu menggunakan peta secara efektif, dan bahkan dapat tersesat di rumahnya sendiri.

    Tinjauan berikutnya menjelaskan bahwa ketika ia pindah rumah, masalah tersebut sangat terasa, khususnya pada malam hari. Ia juga kesulitan menggambar peta rumahnya dan menjelaskan hubungan spasial antara berbagai tempat yang sangat dikenal.

    Pada DTD berat, gambar peta rumah yang dibuat dapat menunjukkan urutan kamar, tetapi tidak ada informasi mengenai bentuk, proporsi, dan posisi relatif setiap ruangan.

  4. Otaknya rusak?

    Pada penelitian awal, MRI struktural tidak menunjukkan kerusakan otak yang dapat menjelaskan gejalanya. Namun, penelitian fMRI memberi petunjuk bahwa cara jaringan navigasi otak bekerja dapat berbeda.

    Pada kasus pertama DTD, peneliti menemukan kurangnya aktivasi pada kompleks hipokampus dan retrosplenial cortex ketika pasien mencoba membangun peta kognitif. Kedua area tersebut mempunyai peran penting dalam navigasi spasial.

    Studi tahun 2014 kemudian membandingkan kelompok DTD dengan kontrol dan menemukan konektivitas fungsional yang lebih rendah antara hipokampus kanan dan prefrontal cortex, meskipun tidak ditemukan perbedaan struktur otak secara keseluruhan.

    Penelitian anatomi yang lebih baru juga menemukan beberapa perbedaan morfologi hipokampus pada kelompok DTD, tetapi tidak menemukan perbedaan pada volume hipokampus secara keseluruhan atau sebagian besar subbagiannya. Temuan ini masih butuh penelitian lebih lanjut sebelum bisa dianggap sebagai penyebab DTD.

  5. Apa tandanya selain mudah tersesat?

    DTD dapat terlihat berbeda antara individu. Namun, studi terhadap lebih dari 1.200 orang yang memenuhi kriteria penelitian DTD menemukan beberapa pola yang umum.

    Mereka jauh lebih sering melaporkan:

    • Sulit mengingat rute meski sudah melewatinya berkali-kali.
    • Tersesat ketika menuju tempat yang sebetulnya familier.
    • Sangat bergantung pada GPS.
    • Kesulitan membedakan kiri dan kanan.
    • Kesulitan membayangkan atau menghubungkan berbagai lokasi secara mental.

    Pada penelitian tersebut, orang dengan DTD bahkan lebih sering melaporkan pernah kehilangan orientasi di rumahnya sendiri dalam setahun terakhir dibandingkan kelompok kontrol.

    Namun, kemampuan mengenali gedung atau landmark bisa tetap baik. Inilah sebabnya seseorang bisa tahu gedung A, tetapi tidak tahu jalan pulang dari sana.

  6. DTD tidak sama dengan demensia

    Seorang perempuan berdiri di luar ruangan sambil memegang peta, menggambarkan situasi bingung dan tersesat.
    ilustrasi tersesat (pexels.com/Leeloo Thefirst)

    Salah satu ciri penting DTD adalah masalah navigasi sudah ada sejak kecil atau remaja dan relatif menetap, bukan kemampuan yang tadinya normal lalu menghilang.

    Disorientasi topografis yang baru muncul pada orang dewasa mempunyai banyak kemungkinan penyebab lain. Gangguan navigasi dapat terjadi setelah stroke atau cedera pada bagian tertentu otak serta pada sejumlah penyakit neurologis dan neurodegeneratif.

    Karena itu, orang yang sejak kecil terkenal selalu tersesat mempunyai situasi yang sangat berbeda dengan seseorang yang sebelumnya mampu bernavigasi normal tetapi mendadak mulai tersesat di tempat familier.

    Perubahan baru semacam itu perlu dievaluasi medis, terutama jika disertai gangguan ingatan, bicara, penglihatan, kelemahan anggota tubuh, kebingungan, atau perubahan fungsi kognitif lainnya.

  7. Seberapa umum DTD?

    Salah satu penelitian terhadap 1.698 orang dewasa muda Italia menemukan sekitar 3 persen memenuhi kriteria skrining DTD. Studi lain pada 2025 memperoleh angka sekitar 5,4 persen menggunakan salah satu instrumen skrining. Namun, kedua penelitian menggunakan metode penilaian berbeda.

    Karena belum ada standar diagnostik yang seragam, angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai prevalensi pasti DTD pada populasi umum. Tinjauan sistematis terbaru juga menyoroti ketergantungan penelitian DTD pada laporan subjektif dan kurangnya tes navigasi yang terstandardisasi.

  8. Apakah bisa disembuhkan?

    Belum ada terapi medis yang terbukti dapat menyembuhkan DTD, dan penelitian intervensinya masih sangat terbatas.

    Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengandalkan strategi kompensasi. Studi besar menemukan individu dengan DTD jauh lebih bergantung pada GPS, termasuk ketika pergi ke tujuan yang sebenarnya familier.

    Strategi lain dapat berupa menjaga rute tetap konsisten, menggunakan landmark yang jelas, menyimpan petunjuk langkah demi langkah, serta merencanakan perjalanan sebelum berangkat.

    Namun, dampak DTD bisa lebih luas. Tinjauan terbaru mencatat masalah navigasi berat dapat membatasi mobilitas, pilihan pendidikan, pekerjaan, serta kemandirian, dan terkadang disalahartikan sebagai kemalasan, kecemasan, ketergantungan, atau rendahnya inteligensi.

    Padahal, masalah utamanya otak kesulitan menyatukan potongan-potongan lingkungan menjadi satu peta mental yang dapat digunakan untuk mengetahui lokasi seseorang dan harus menuju ke mana.

    Referensi

    Ford Burles and Giuseppe Iaria, “Behavioural and Cognitive Mechanisms of Developmental Topographical Disorientation,” Scientific Reports 10 (2020): 20932, https://doi.org/10.1038/s41598-020-77759-8.

    Giuseppe Iaria, Nicholas Bogod, Christopher J. Fox, and Jason J. S. Barton, “Developmental Topographical Disorientation: Case One,” Neuropsychologia 47, no. 1 (2009): 30–40, https://doi.org/10.1016/j.neuropsychologia.2008.08.021.

    Ineke J. M. van der Ham and Michiel H. G. Claessen, “Always Getting Lost: Defining Developmental Topographical Disorientation (DTD)—A Systematic Literature Review,” Neuropsychology Review 36, no. 1 (2026): 85–93, https://doi.org/10.1007/s11065-025-09664-8.

    Francesca Bianchini et al., “Developmental Topographical Disorientation in a Healthy Subject,” Neuropsychologia 48, no. 6 (2010): 1563–73, https://doi.org/10.1016/j.neuropsychologia.2010.01.025.

    Giuseppe Iaria et al., “Developmental Topographical Disorientation and Decreased Hippocampal Functional Connectivity,” Hippocampus 24, no. 11 (2014): 1364–74, https://doi.org/10.1002/hipo.22317.

    Laura Piccardi et al., “‘Where Am I?’ A Snapshot of the Developmental Topographical Disorientation among Young Italian Adults,” Brain Sciences 12, no. 7 (2022): 890.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More