- Sakit kepala.
- Mual.
- Pusing.
- Tubuh lemas.
- Sangat haus.
- Berkeringat deras.
- Mudah tersinggung.
- Jumlah urine berkurang.
Ikut Demo Hari Ini? Ini Cara Menjaga Hidrasi saat Cuaca Panas

Berada berjam-jam di luar ruangan, banyak berdiri, berjalan, dan terpapar matahari dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui keringat.
Minum sedikit tetapi rutin lebih masuk akal daripada menunggu sangat haus lalu menenggak air dalam jumlah besar sekaligus.
Bila mulai pusing, mual, lemas, sakit kepala, atau berkeringat sangat banyak, cari tempat lebih sejuk dan jangan memaksakan tubuh tetap beraktivitas.
Sejumlah kelompok masyarakat dijadwalkan menggelar aksi di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Cuaca menjadi faktor yang patut diperhitungkan. BMKG mencatat suhu di Senayan sudah mencapai 32 derajat Celcius pada pukul 09.40 WIB, dengan kelembapan 54 persen. Suhu diprakirakan sekitar 33 derajat Celcius pada pukul 11.00–12.00 WIB.
Berdiri berdesakan, berjalan, membawa tas, dan berada di bawah matahari selama beberapa jam membuat tubuh menghasilkan sekaligus menerima lebih banyak panas. Untuk mendinginkan diri, tubuh berkeringat. Bersama keringat, air dan elektrolit ikut hilang.
Jika cairan tersebut tidak cukup diganti, volume darah dapat menurun dan tubuh harus bekerja lebih keras mempertahankan sirkulasi sekaligus membuang panas. Dehidrasi dapat memperbesar beban kardiovaskular dan termoregulasi, terutama ketika paparan berlangsung lama.
Bagaimana menjaga hidrasi jika harus berada di luar dalam waktu lama?
Table of Content
1. Jangan baru minum ketika sudah sangat haus
Menunggu sampai mulut terasa sangat kering bukan strategi terbaik saat beraktivitas lama dalam panas.
Pada aktivitas sedang di lingkungan panas yang berlangsung kurang dari 2 jam, rekomendasinya minum sekitar 1 cangkir atau 240 mL air setiap 15–20 menit, meski ini bukan target mutlak untuk setiap orang.
Kebutuhan cairan dapat sangat berbeda menurut suhu, kelembapan, ukuran tubuh, pakaian, aktivitas, serta banyaknya keringat masing-masing orang.
Sebaiknya bawa air sendiri dan minum sedikit secara berkala, bukan menunggu beberapa jam lalu minum satu botol sekaligus.
2. Mulai dalam kondisi sudah terhidrasi
Jangan menjadikan lokasi aksi sebagai tempat pertama kali mulai mengejar kebutuhan cairan hari itu.
Sebelum berangkat, minumlah seperti biasa dan pastikan tubuh tidak sedang kekurangan cairan. Urine yang sangat pekat dan jumlahnya sedikit dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa asupan cairan belum mencukupi. Perubahan warna urine perlu diperhatikan saat berada di lingkungan panas.
Tidak perlu minum sebanyak-banyaknya sebelum berangkat demo, karena tubuh memiliki kemampuan terbatas untuk mengatur kelebihan air.
3. Kalau berkeringat berjam-jam, air saja mungkin bukan satu-satunya pilihan

ilustrasi mengelap keringat dengan handuk (pexels.com/Ketut Subiyanto) Untuk beberapa jam pertama dengan aktivitas ringan sampai sedang, air putih umumnya mencukupi.
Namun, jika berada di lapangan selama berjam-jam dan terus berkeringat banyak, tubuh juga kehilangan natrium dan elektrolit lainnya. Kamu bisa minum minuman elektrolit jika tersedia. Makanan yang dikonsumsi sebelum dan selama aktivitas juga menyediakan natrium.
Studi mengenai aktivitas di bawah tekanan panas menekankan kebutuhan penggantian natrium sangat bergantung pada banyaknya keringat dan seberapa besar cairan yang diganti.
Singkatnya, air putih tetap menjadi fondasi, sementara minuman elektrolit dapat berguna jika paparan panas dan keringat berlangsung lama.
4. Jangan berlebihan minum air
Dehidrasi berbahaya, tetapi terlalu banyak air dalam waktu singkat juga bukan solusi. Sarannya, asupan cairan secara umum tidak melebihi 6 cangkir per jam. Terlalu banyak air dapat mengencerkan kadar natrium darah dan pada kondisi ekstrem menyebabkan hiponatremia.
Tujuan hidrasi bukan membuat tubuh menerima air sebanyak mungkin, melainkan mencegah kekurangan sekaligus kelebihan cairan.
5. Cari tempat teduh jika memungkinkan
Jika tubuh terus menerima beban panas yang besar, hidrasi saja tidak selalu cukup. Kurangi aktivitas berat ketika panas, berada di tempat teduh, memakai pakaian ringan dan longgar, serta mendinginkan tubuh jika memungkinkan.
Dalam situasi aksi yang berlangsung lama, manfaatkan waktu ketika tidak bergerak untuk beristirahat di area teduh, terutama pada tengah hari.
Topi atau penutup kepala yang memungkinkan pelepasan panas dan pakaian ringan juga dapat membantu mengurangi paparan langsung matahari.
6. Kenali tanda-tanda tubuh mulai kewalahan

Kelompok pengemudi ojek online (ojol) dalam aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Heat exhaustion terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak air dan garam melalui keringat. Gejalanya dapat meliputi:
Jika gejala tersebut muncul, hentikan aktivitas, cari tempat sejuk atau teduh, longgarkan pakaian yang tidak diperlukan, dan minum cairan sedikit demi sedikit.
Lebih darurat lagi adalah heat stroke. Kebingungan, bicara tidak jelas, kejang, kehilangan kesadaran, atau tubuh yang sangat panas merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera. Heat stroke dapat menyebabkan kerusakan organ hingga kematian bila penanganan terlambat.
Jaga hidrasi saat demonstrasi di tengah paparan cuaca panas dengan minum secara teratur sambil mengurangi beban panas sebisa mungkin.
Untuk aktivitas beberapa jam, air putih yang diminum sedikit dan rutin, diselingi kesempatan berteduh sudah menjadi fondasi. Jika keringat berlangsung lama dan banyak, minuman elektrolit bisa dipertimbangkan.
Dan, ketika tubuh mulai memberi sinyal seperti pusing, mual, lemas, atau sakit kepala, keluarlah dari lingkungan panas dan segera dinginkan tubuh di tempat sejuk demi menjaga keselamatan.
Referensi
Julien D. Périard, Thijs M. H. Eijsvogels, and Hein A. M. Daanen, “Exercise under Heat Stress: Thermoregulation, Hydration, Performance Implications, and Mitigation Strategies,” Physiological Reviews 101, no. 4 (2021): 1873–1979, https://doi.org/10.1152/physrev.00038.2020.
National Institute for Occupational Safety and Health, “Workplace Recommendations,” Centers for Disease Control and Prevention, July 16, 2026.
Joanna Orysiak, Magdalena Młynarczyk, Joanna Bugajska, and Elżbieta Łastowiecka-Moras, “Hydration of Workers in Thermal Environments—Practical Recommendation,” Nutrients 18, no. 1 (2026): 64, https://doi.org/10.3390/nu18010064.
Christopher J. Carr et al., “Nourishing Physical Productivity and Performance on a Warming Planet—Challenges and Nutritional Strategies to Mitigate Exertional Heat Stress,” Current Nutrition Reports 13 (2024).
Brendon P. McDermott et al., “National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Fluid Replacement for the Physically Active,” Journal of Athletic Training 52, no. 9 (2017): 877–95, https://doi.org/10.4085/1062-6050-52.9.02.


![[QUIZ] Cek Risiko Dehidrasi dari Warna Urine Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)





![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kondisi Mentalmu dari Musik Kamu Sebelum Tidur](https://image.idntimes.com/post/20250531/happy-young-woman-listening-music-bed-23-2147987843-d1d5b73e706dec953faaf651f6eb0051-040c38836cbed3098e7d1f34d34544ca.jpg)



![[QUIZ] Dari Warna Sepatu Olahragamu, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20220409/pexels-run-ffwpu-2526878-231598487f96cc977f2f775a83051a8e-0f10c519478ccc720c29106b6975c7b5.jpg)







![[QUIZ] Cek Kebutuhan Air Harian Berdasarkan Gaya Hidup Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)