Apakah kamu pernah mengalami diare saat pergi ke tempat baru? Kondisi ini cukup umum terjadi saat bepergian dan sering disebut traveler’s diarrhea, terutama ketika kita mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kuman penyebab penyakit. Namun, bukan berarti setiap diare setelah perjalanan pasti disebabkan oleh makanan yang terlihat tidak bersih.
4 Alasan Diare Bisa Terjadi setelah Bepergian ke Tempat Baru

- Diare setelah bepergian sering dipicu makanan atau minuman terkontaminasi, termasuk air, es, serta makanan mentah, kurang matang, atau disimpan pada suhu tidak aman.
- Paparan kuman baru seperti E. coli, Campylobacter, Salmonella, virus, dan parasit dapat terjadi melalui tangan, peralatan, permukaan, makanan, atau air tercemar.
- Perubahan pola makan dapat memperburuk gangguan pencernaan; pemeriksaan medis diperlukan bila diare berkepanjangan, berdarah, disertai demam tinggi, atau tanda dehidrasi.
Tubuh juga harus beradaptasi dengan lingkungan, makanan, dan kebiasaan yang berbeda selama perjalanan. Perubahan tersebut dapat membuat kita lebih sering terpapar bakteri, virus, atau parasit yang sebelumnya jarang ditemui. Berikut beberapa alasan yang membuat diare bisa terjadi setelah bepergian ke tempat baru.
1. Makanan atau minuman terkontaminasi

ilustrasi street food (pexels.com/Pragyan Bezbaruah) Salah satu penyebab paling umum adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Kontaminasi bisa terjadi sejak proses pengolahan, penyimpanan, hingga makanan disajikan, sehingga makanan yang tampak normal belum tentu bebas dari kuman. Risiko juga dapat meningkat ketika kita mengonsumsi makanan mentah, kurang matang, atau makanan yang tidak disimpan pada suhu yang aman.
Air juga perlu diperhatikan ketika bepergian karena standar kebersihan dan akses terhadap air aman dapat berbeda di setiap daerah. Air yang tercemar dapat membawa kuman penyebab diare, termasuk ketika digunakan untuk membuat es atau mencuci bahan makanan. Karena itu, kita perlu memilih air dari wadah tersegel dan berhati-hati terhadap es atau makanan yang kemungkinan dicuci menggunakan air yang tidak aman.
2. Tubuh terpapar kuman yang berbeda

ilustrasi sakit perut (pexels.com/cottonbro studio) Ketika berpindah ke daerah baru, kita bisa bertemu dengan jenis kuman yang berbeda dari yang biasa ada di lingkungan sehari-hari. Bakteri seperti Escherichia coli merupakan salah satu penyebab penting traveler’s diarrhea, sementara bakteri lain seperti Campylobacter dan Salmonella juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri menjadi penyebab utama pada sebagian besar kasus traveler’s diarrhea yang diteliti.
Paparan tersebut tidak selalu terjadi karena kita sengaja mengonsumsi makanan yang kotor. Kuman dapat masuk melalui tangan yang belum dicuci, peralatan makan, permukaan yang terkontaminasi, atau air yang tercemar. Inilah sebabnya kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan tetap penting meskipun kita merasa sudah memilih makanan yang aman.
3. Pola makan berubah selama perjalanan

ilustrasi minum di dalam mobil (pexels.com/cottonbro studio) Perjalanan bisa membuat pola makan kita berubah dibandingkan dengan rutinitas di rumah. Kita mungkin makan lebih banyak makanan berlemak, pedas, manis, atau mencoba berbagai hidangan dalam waktu yang berdekatan, sehingga sistem pencernaan harus menghadapi perubahan kebiasaan tersebut. Kondisi ini tidak selalu menyebabkan diare, tetapi perubahan pola makan dapat membuat perut terasa tidak nyaman dan gejalanya bisa muncul bersamaan dengan penyebab lainnya.
Selain jenis makanan, jumlah dan waktu makan juga bisa berubah ketika kita sedang bepergian. Kita mungkin melewatkan waktu makan, makan lebih banyak dari biasanya, atau mengonsumsi minuman tertentu dalam jumlah lebih besar. Jika diare disertai muntah, kehilangan cairan dapat menjadi masalah utama karena tubuh kehilangan air dan elektrolit yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi tubuh.
4. Virus atau parasit bisa ikut menyebar

ilustrasi mencuci tangan (magnific.com/magnific) Tidak semua diare saat bepergian berasal dari bakteri karena virus dan parasit juga dapat menjadi penyebabnya. Norovirus dapat menyebabkan diare berair, muntah, mual, dan kram perut, dengan gejala yang biasanya muncul sekitar 12 hingga 48 jam setelah terinfeksi. Virus ini juga dapat menyebar melalui partikel kecil dari muntahan atau tinja orang yang terinfeksi, sehingga tempat yang ramai dapat meningkatkan peluang penularan.
Parasit juga perlu diperhatikan, terutama ketika diare berlangsung lebih lama setelah perjalanan. Cryptosporidium dapat menyebar melalui makanan atau air yang tercemar dan menyebabkan diare berair yang terkadang berlangsung lebih lama. Jika diare tidak kunjung membaik, muncul darah dalam tinja, demam tinggi, atau tanda dehidrasi, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Diare bisa terjadi setelah bepergian ke tempat baru, bukan berarti tubuh kita tidak cocok dengan lokasi tersebut. Melainkan bisa menjadi tanda adanya paparan kuman atau perubahan kebiasaan selama perjalanan. Menjaga kebersihan tangan serta lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman dapat membantu mengurangi risikonya. Jika diare berlangsung lama atau disertai gejala berat, sebaiknya segera mencari bantuan medis.



















![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kondisi Mentalmu dari Musik Kamu Sebelum Tidur](https://image.idntimes.com/post/20250531/happy-young-woman-listening-music-bed-23-2147987843-d1d5b73e706dec953faaf651f6eb0051-040c38836cbed3098e7d1f34d34544ca.jpg)

