Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Vaksin Anak yang Tidak Masuk BIAS 2026

6 Vaksin Anak yang Tidak Masuk BIAS 2026
ilustrasi penyuntikan vaksin bagi anak sekolah (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
  • BIAS 2026 bukan seluruh jadwal imunisasi anak. Jenis vaksin yang tercantum dalam program BIAS Kementerian Kesehatan adalah campak-rubela (MR), DT, Td, dan HPV.

  • Jadwal imunisasi anak rekomendasi IDAI mencakup vaksin lain di luar BIAS, antara lain influenza, MMR, varisela, hepatitis A, tifoid, dan dengue sesuai usia, riwayat imunisasi, serta kondisi anak.

  • Tidak masuk BIAS bukan berarti suatu vaksin tidak penting atau tidak direkomendasikan. Beberapa vaksin diberikan melalui layanan lain, sedangkan vaksin rutin nasional seperti BCG, polio, PCV, dan rotavirus memang dijadwalkan sejak bayi atau balita.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) merupakan program pemberian imunisasi rutin lanjutan untuk anak usia SD/MI/bentuk lain sederajat, yang tujuannya adalah meningkatkan perlindungan terhadap beberapa penyakit.

Berdasarkan jadwal yang berlaku saat ini, BIAS dilaksanakan pada Agustus dan November. Program ini memberikan vaksin MR kepada kelas anak kelas 1, DT kepada anak kelas 1, Td kepada anak kelas 2 dan 5, serta HPV kepada kelompok sasaran usia sekolah tertentu.

Dengan begitu, berikut ini jenis vaksin anak yang tidak masuk BIAS 2026.

  1. 1. Influenza

    Vaksin influenza tidak termasuk vaksin yang diberikan melalui BIAS.

    Influenza berbeda dari pilek biasa dan pada sebagian anak dapat menyebabkan komplikasi hingga butuh perawatan rumah sakit. Rekomendasi imunisasi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)mencakup vaksin influenza, dengan pemberian berulang karena virus influenza terus berubah dari waktu ke waktu.

    Bukti manfaatnya cukup kuat. Metaanalisis 2024 terhadap 191 studi test-negative design menemukan efektivitas vaksin influenza terhadap influenza terkonfirmasi laboratorium pada kelompok anak di bawah 18 tahun sekitar 48,6 persen. Secara keseluruhan, vaksin juga memberikan perlindungan terhadap kunjungan rawat jalan dan rawat inap akibat influenza.

  2. 2. MMR, khususnya perlindungan terhadap gondongan

    BIAS memberikan MR, bukan MMR. Dua-duanya sama-sama melindungi dari campak dan rubela. Namun, pada MMR terdapat komponen lainnya, yaitu mumps atau gondongan.

    Jadwal imunisasi IDAI memasukkan MMR sebagai salah satu rekomendasi vaksin anak. Karena itu, mendapatkan MR saat BIAS tidak otomatis berarti anak sudah mendapatkan vaksin terhadap gondongan. Riwayat imunisasi sebelumnya perlu dilihat untuk mengetahui apakah perlindungan tersebut sudah diberikan.

  3. 3. Varisela atau cacar air

    Tenaga kesehatan memberikan vaksin kepada seorang anak dengan suntikan sebagai ilustrasi imunisasi anak.
    ilustrasi pemberian vaksin pada anak (pexels.com/CDC)

    Vaksin untuk varisela (cacar air) juga tidak termasuk BIAS.

    Cacar air memang sering sembuh sendiri, tetapi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi, terutama pada kelompok tertentu. Jadwal imunisasi IDAI memasukkan vaksin varisela dalam rekomendasi imunisasi anak.

    Efektivitasnya juga telah dibuktikan dalam uji klinis jangka panjang. Penelitian terhadap dua dosis vaksin yang mengandung varisela menemukan efektivitas sekitar 95,4 persen terhadap semua kasus varisela dan 99,1 persen terhadap penyakit sedang hingga berat selama masa tindak lanjut sekitar satu dekade.

  4. 4. Hepatitis A dan tifoid

    Dua penyakit yang berhubungan erat dengan makanan, air, dan sanitasi ini tidak menjadi sasaran vaksinasi BIAS.

    IDAI memasukkan hepatitis A dan tifoid dalam imunisasi yang dapat diberikan pada anak sesuai jadwal dan usianya.

    Vaksin hepatitis A melindungi dari infeksi virus hepatitis A yang menyerang hati. Sementara itu, vaksin tifoid ditujukan untuk mengurangi risiko demam tifoid akibat Salmonella Typhi. Kebutuhan vaksin, jenis produk, usia pemberian, dan dosis ulang perlu mengikuti jadwal imunisasi terbaru serta penilaian dokter, terutama karena pilihan vaksin dapat berkembang dari waktu ke waktu.

  5. 5. Dengue

    Hingga 2026, vaksin dengue belum masuk program imunisasi nasional. IDAI menyebut vaksin dengue yang saat ini tersedia di Indonesia bisa diperoleh di fasilitas kesehatan dan diberikan sesuai indikasi serta kelompok usia yang disetujui.

    Bukti fase 3 terhadap TAK-003 menunjukkan manfaatnya tidak berhenti pada perlindungan jangka pendek. Setelah 4,5 tahun, uji acak pada anak dan remaja usia 4–16 tahun di daerah endemis menemukan efektivitas kumulatif sekitar 61,2 persen terhadap dengue bergejala terkonfirmasi dan 84,1 persen terhadap rawat inap akibat dengue.

    Namun, vaksin bukan pengganti pemberantasan sarang nyamuk dan pencegahan gigitan Aedes.

  6. 6. Japanese encephalitis, tergantung wilayah

    Ilustrasi vaksinasi pada anak laki-laki dengan penyuntikan vaksin sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan anak.
    ilustrasi vaksinasi pada anak laki-laki (magnific.com/magnific)

    Vaksin Japanese encephalitis (JE) juga tidak diberikan melalui BIAS. Namun, posisinya sedikit berbeda dari vaksin-vaksin di atas.

    JE sudah menjadi bagian dari imunisasi rutin pemerintah di wilayah endemis tertentu. Kementerian Kesehatan mencantumkan imunisasi JE pada usia 10 bulan di wilayah endemis; program sebelumnya dimulai di Bali dan kemudian diperkenalkan di wilayah endemis lain seperti Kalimantan Barat.

  7. BCG, polio, PCV, dan rotavirus juga tidak ada dalam BIAS

    Daftarnya sebenarnya masih lebih panjang.

    Program imunisasi rutin nasional juga mencakup antara lain hepatitis B, BCG, polio, DPT-HB-Hib, PCV, rotavirus, MR, dan JE di daerah endemis. Sebagian besar diberikan sejak bayi hingga usia 18 bulan, sehingga memang tidak perlu menunggu BIAS ketika anak sudah duduk di bangku sekolah.

    Perlu digarisbawahi bahwa BIAS adalah salah satu tahap dalam perjalanan imunisasi anak, bukan pengganti seluruh jadwal imunisasi.

    Karena itu, setelah anak mendapat vaksin di sekolah, orang tua tetap perlu memeriksa Buku KIA atau catatan imunisasi sebelumnya. Jadwal terbaru IDAI 2024 mencakup imunisasi anak dari lahir hingga usia 18 tahun dan juga memuat prinsip imunisasi kejar untuk vaksin yang terlambat atau belum lengkap.

    Jika ada vaksin yang terlewat, konsultasikan dengan tenaga kesehatan di puskesmas atau dokter anak untuk membantu menentukan langkah terbaik.

    Referensi

    Guo, Jinxin, Xin Chen, Yu Guo, et al. “Real-World Effectiveness of Seasonal Influenza Vaccination and Age as Effect Modifier: A Systematic Review, Meta-analysis and Meta-regression of Test-Negative Design Studies.” Vaccine 42, no. 8 (2024): 1883–91. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2024.02.059.

    Ikatan Dokter Anak Indonesia. “Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2024.” Diakses Agustus 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).” Diakses Agustus 2026.

    Povey, Michael, et al. “Protection against Varicella with Two Doses of Combined Measles-Mumps-Rubella-Varicella Vaccine or One Dose of Monovalent Varicella Vaccine: 10-Year Follow-up of a Phase 3 Multicentre, Observer-Blind, Randomised, Controlled Trial.” The Lancet Infectious Diseases 19, no. 3 (2019): 287–97.

    Tricou, Vincent, et al. “Long-Term Efficacy and Safety of a Tetravalent Dengue Vaccine (TAK-003): 4.5-Year Results from a Phase 3, Randomised, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial.” The Lancet Global Health 12, no. 2 (2024): e257–e270.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More