- Risiko kumulatif keguguran sebelum 20 minggu adalah 10,8 persen.
- Tidak ada perbedaan bermakna antara penerima vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna (aHR 0,92).
- Analisis sensitivitas menunjukkan risiko tetap berada dalam atau bahkan di bawah estimasi prapandemi (9,7–13,5 persen).
Vaksinasi COVID-19 saat Hamil Turunkan Risiko Preeklamsia

Kehamilan selalu membawa dua lapis pertimbangan dalam setiap keputusan medis, yaitu keselamatan ibu dan keselamatan bayi. Sejak awal pandemi, vaksin COVID-19 menjadi salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh ibu hamil, terutama terkait risiko keguguran dan komplikasi kehamilan seperti preeklamsia.
Dua studi besar terbaru memberikan gambaran yang lebih jernih. Satu studi internasional yang dipublikasikan dalam eClinicalMedicine menyoroti hubungan antara vaksinasi COVID-19 dan risiko preeklamsia. Studi lainnya, dipublikasikan dalam jurnal Vaccine, mengevaluasi risiko keguguran pada penerima vaksin mRNA dan tidak menemukan peningkatan risiko.
Temuan ini menambah lapisan bukti bahwa vaksinasi COVID-19 pada ibu hamil tidak cuma aman, tetapi juga berpotensi memberikan perlindungan tambahan terhadap komplikasi serius.
Table of Content
1. Vaksin dan penurunan risiko preeklamsia
Preeklamsia adalah komplikasi serius yang biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda kerusakan organ, termasuk ginjal. Kondisi ini dapat mengancam nyawa ibu dan bayi jika tidak ditangani dengan tepat.
Studi INTERCOVID yang melibatkan 6.527 ibu hamil dari 18 negara menemukan bahwa vaksinasi COVID-19 dikaitkan dengan penurunan kemungkinan preeklamsia sebesar 15 persen (aOR 0,85). Efek ini meningkat menjadi 33 persen pada ibu yang menerima booster (aOR 0,67).
Pada kelompok ibu dengan kondisi medis penyerta yang menerima booster, risiko preeklamsia bahkan turun hingga 58 persen (aOR 0,42)—efek yang terutama terlihat pada ibu yang juga mengalami infeksi COVID-19.
Menariknya, vaksinasi juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit maternal berat (aOR 0,68), kematian perinatal (aOR 0,71), dan kelahiran prematur (aOR 0,67).
Peneliti menduga bahwa vaksinasi mungkin memengaruhi jalur imunologis atau vaskular yang juga terlibat dalam patofisiologi preeklamsia, bukan sekadar mencegah infeksi COVID-19. Artinya, manfaatnya bisa lebih luas dari yang sebelumnya dipahami.
2. Apakah vaksin menyebabkan keguguran?

Kekhawatiran mengenai risiko keguguran adalah alasan utama keraguan vaksin pada ibu hamil. Studi kedua yang dipimpin peneliti dari CDC Amerika Serikat (AS) menganalisis 12.907 kehamilan pada perempuan usia 18–54 tahun yang menerima setidaknya satu dosis vaksin mRNA sebelum atau selama awal kehamilan.
Hasilnya:
Dengan kata lain, angka tersebut tidak lebih tinggi dari risiko keguguran yang memang secara alami terjadi pada populasi umum sebelum pandemi.
Para peneliti menekankan bahwa memahami risiko nyata penting untuk membantu ibu hamil membuat keputusan berbasis data, bukan ketakutan.
3. Implikasi bagi ibu hamil dan tenaga kesehatan
Temuan dua studi ini memperkuat rekomendasi lembaga kesehatan internasional yang mendukung vaksinasi COVID-19 selama kehamilan. Risiko infeksi COVID-19 pada ibu hamil sendiri telah diketahui berkaitan dengan komplikasi lebih berat, termasuk preeklamsia dan kelahiran prematur.
Yang menjadi poin penting, vaksin tidak meningkatkan risiko keguguran dan justru berkaitan dengan penurunan risiko komplikasi serius.
Bagi ibu hamil, keputusan vaksinasi sering kali dilandasi rasa protektif yang kuat terhadap janin. Data ini membantu menempatkan keputusan tersebut dalam konteks ilmiah yang lebih solid. Sementara itu, bagi tenaga kesehatan, transparansi mengenai manfaat dan batasan studi menjadi kunci untuk membangun kepercayaan.
Data terbaru menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 selama kehamilan tidak meningkatkan risiko keguguran dan justru berkaitan dengan penurunan risiko preeklamsia serta komplikasi maternal dan perinatal serius. Bukti ini berasal dari studi internasional berskala besar dan analisis registri nasional yang ketat.
Keputusan medis selama kehamilan memang tidak pernah sederhana. Namun, ketika data konsisten menunjukkan keamanan dan manfaat, itu layak menjadi dasar pertimbangan. Dengan informasi berbasis bukti, ibu hamil dapat membuat keputusan yang lebih tenang dan bijak.
Referensi
Paolo Ivo Cavoretto et al., “COVID-19 Vaccination Status During Pregnancy and Preeclampsia Risk: The Pandemic-era Cohort of the INTERCOVID Consortium,” EClinicalMedicine, February 1, 2026, 103785, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2026.103785.
Sabrina A. Madni et al., “Risk of Spontaneous Abortion After mRNA COVID-19 Vaccination Received Just Prior to or During Pregnancy: Complete Data From CDC COVID-19 Vaccine Pregnancy Registry,” Vaccine 76 (February 18, 2026): 128340, https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2026.128340.
"Studies suggest COVID vaccination in pregnancy cuts risk of preeclampsia, doesn’t cause miscarriage." CIDRAP. Diakses Februari 2026.




![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Menekuni Tenis atau Padel? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250628/pexels-mutecevvil-23379595_bc14371b-0f0f-4c9f-a239-496b6e109352.jpg)











![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Karakter One Piece](https://image.idntimes.com/post/20240928/snapinstaapp-452636034-827692952790694-3801622178133972082-n-1080-f33a875018adce7eefd5054721cbef1e-ed62346690aea3bb6677ab87f39e4157.jpg)

