Alex Gileles-Hillel, Joel Reiter, and David Gozal, “Risk of Influenza and COVID-19 Illness and Pediatric Obstructive Sleep Apnea: A TriNetX Cohort With 5-year Follow-up,” Journal of Clinical Sleep Medicine 22, no. 1 (February 11, 2026): 31, https://doi.org/10.1007/s44470-025-00035-x.
"Kids with sleep apnea may face higher risks of flu, COVID." CIDRAP. Diakses Februari 2026.
Anak dengan Sleep Apnea Lebih Rentan Kena Flu dan COVID-19

Anak dengan obstructive sleep apnea (OSA) punya risiko hampir dua kali lipat terkena flu dan COVID-19.
Risiko pneumonia akibat flu dan COVID-19 juga meningkat signifikan pada kelompok ini.
Vaksinasi tahunan menjadi langkah proteksi penting bagi anak dengan OSA.
Banyak orang tua menganggap anak yang mendengkur saat tidur sebagai hal biasa. Padahal, pada sebagian anak, dengkuran bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), yaitu gangguan napas berulang saat tidur akibat sumbatan jalan napas atas.
Studi besar yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan fakta yang tak bisa diabaikan. Para peneliti menganalisis data 539.127 anak usia 2–18 tahun dengan OSA dan membandingkannya dengan jumlah anak yang sama tanpa OSA. Selama lima tahun pemantauan, anak dengan OSA hampir dua kali lebih mungkin didiagnosis influenza dan 2,5 kali lebih mungkin didiagnosis COVID-19 dibanding anak tanpa OSA.
Secara angka, influenza terdiagnosis pada 5,1 persen anak dengan OSA, dibanding 2,8 persen pada kelompok kontrol (risk ratio/RR 1,80). Sementara itu, COVID-19 ditemukan pada 2,5 persen anak dengan OSA versus 1 persen pada anak tanpa OSA (RR 2,50).
Data ini memperkuat dugaan bahwa gangguan tidur kronis pada anak berdampak lebih luas daripada sekadar kualitas istirahat.
1. Risiko lebih berat, bukan sekadar tertular
Yang lebih mengkhawatirkan, OSA tidak hanya meningkatkan risiko tertular, tetapi juga memperbesar peluang infeksi menjadi berat.
Anak dengan OSA memiliki risiko lebih dari 2,5 kali lipat mengalami pneumonia terkait influenza (RR 2,69). Untuk pneumonia akibat COVID-19, angkanya jauh lebih tinggi (RR 25,96; 95% CI 16,21–41,57).
Secara biologis, temuan ini masuk akal. OSA ditandai dengan peradangan kronis pada saluran napas atas serta perubahan regulasi sistem imun. Gangguan pada respons imun bawaan dan adaptif ini dapat mengganggu pertahanan antivirus tubuh. Di sisi lain, kualitas tidur yang buruk, ciri khas OSA, juga diketahui berkaitan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus.
Peneliti utama, Alex Gileles-Hillel, MD, menjelaskan bahwa disregulasi sistem imun pada anak dengan OSA kemungkinan menjelaskan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi virus sekaligus gejala yang lebih berat sehingga memerlukan perhatian medis.
Temuan tambahan menunjukkan bahwa adenotonsilektomi (operasi pengangkatan amandel dan adenoid untuk terapi OSA) tidak secara bermakna menurunkan risiko infeksi. Risiko flu pada anak tanpa operasi tercatat 4,9 persen, sedangkan pada yang menjalani operasi 5,6 persen. Risiko COVID-19 pun relatif serupa (2,5 persen vs 2,6 persen).
Ini mengindikasikan bahwa perubahan imunologis akibat OSA bisa saja menetap meski sumbatan mekanis sudah ditangani.
2. OSA sebagai “penanda risiko” dan pentingnya vaksinasi

Secara epidemiologis, OSA diperkirakan memengaruhi 1–4 persen anak sehat. Selain gangguan pertumbuhan dan masalah perilaku, kondisi ini juga dikaitkan dengan risiko kardiometabolik seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes. Kini, risiko infeksi virus pernapasan dapat ditambahkan dalam daftar tersebut.
Para peneliti menyebut OSA sebagai risk marker/penanda risiko untuk infeksi pernapasan dan penyakit berat. Artinya, diagnosis OSA seharusnya memicu kewaspadaan preventif tambahan, termasuk memastikan anak mendapatkan vaksinasi influenza tahunan dan vaksin COVID-19 sesuai rekomendasi.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, ini adalah pengingat bahwa kualitas tidur anak terkait dengan daya tahan tubuhnya. Saat anak dengan OSA jatuh sakit lebih sering atau lebih berat, penyebabnya mungkin bukan sekadar “sedang musim virus”, melainkan kondisi dasar yang selama ini kurang disorot.
Bagi orang tua dan tenaga kesehatan, pesan utamanya jelas: jika anak terdiagnosis OSA, strategi pencegahan infeksi perlu diperkuat. Vaksinasi bukan hanya rutinitas, tetapi lapisan proteksi tambahan bagi kelompok yang secara biologis lebih rentan.
Referensi
![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Minuman Buka Puasa Ini?](https://image.idntimes.com/post/20250311/ide-menu-takjil-hemat-untuk-dibagikan-apa-saja-menu-takjil-hemat-ide-menu-takjil-kolak-pisang-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-542322d18a825f9b8405bf3177a03951.jpg)




![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Menekuni Tenis atau Padel? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250628/pexels-mutecevvil-23379595_bc14371b-0f0f-4c9f-a239-496b6e109352.jpg)











![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Karakter One Piece](https://image.idntimes.com/post/20240928/snapinstaapp-452636034-827692952790694-3801622178133972082-n-1080-f33a875018adce7eefd5054721cbef1e-ed62346690aea3bb6677ab87f39e4157.jpg)
