Dalam masa pertumbuhan anak, pencapaian berat badan ideal merupakan indikator penting dalam menilai status gizi. Jika berat badan anak kurang, akan ada peningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, baik secara fisik maupun kognitif yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai, termasuk kurangnya asupan kalori dan protein.
Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan berat badan secara rutin sangat krusial untuk mencegah terjadinya risiko gagal tumbuh pada anak. Namun sayang, berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun masih di angka 16,8 persen, meningkat sedikit dari 15,9 persen pada 2023. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius karena berisiko meningkatkan angka stunting di Indonesia.
