Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Waspada Gangguan Fisik dan Kognitif pada Anak Underweight
Seorang kader posyandu satelit (Poslit) RT 06/RW III Lamper Tengah, Semarang saat mengukur lingkar lengan balita laki-laki untuk menentukan validasi data tumbuh kembang anak. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Data SSGI 2024 menunjukkan prevalensi anak underweight di Indonesia naik menjadi 16,8 persen, menandakan risiko gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif masih tinggi.

  • Dokter anak menekankan pentingnya pemantauan berat badan rutin serta pemenuhan gizi seimbang dengan protein hewani, karbohidrat, sayur, dan lemak sehat untuk mencegah gagal tumbuh.

  • Sarihusada luncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” pada Hari Gizi Nasional 2026 guna mengedukasi orang tua tentang nutrisi seimbang dan deteksi dini demi tumbuh kembang optimal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam masa pertumbuhan anak, pencapaian berat badan ideal merupakan indikator penting dalam menilai status gizi. Jika berat badan anak kurang, akan ada peningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, baik secara fisik maupun kognitif yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai, termasuk kurangnya asupan kalori dan protein.

Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan berat badan secara rutin sangat krusial untuk mencegah terjadinya risiko gagal tumbuh pada anak. Namun sayang, berdasarkan data hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi underweight atau berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun masih di angka 16,8 persen, meningkat sedikit dari 15,9 persen pada 2023. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius karena berisiko meningkatkan angka stunting di Indonesia.

Anjuran pengukuran berat badan

Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A mengatakan bahwa status gizi anak adalah salah satu tolak ukur penilaian tercukupinya kebutuhan asupan gizi harian serta penggunaan zat gizi tersebut oleh tubuh. Berat badan dan tinggi badan merupakan dua parameter penting dalam penilaian status gizi anak.

"Orang tua dianjurkan menimbang berat badan anak minimal sebulan sekali pada anak usia di bawah 1 tahun dan minimal 3 bulan sekali sampai anak usia 2 tahun oleh petugas kesehatan. Jika asupan nutrisi anak senantiasa terpenuhi dan digunakan seoptimal mungkin, tentu tumbuh kembangnya akan optimal," ujarnya.

Jika sebaliknya, status gizi anak bisa saja bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak. Oleh karena itu, berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik pada anak perlu diwaspadai karena ini dapat menandakan gangguan pertumbuhan.

Dampak jangka panjang bisa dicegah

ilustrasi anak makan (unsplash.com/Rainier Ridao)

Dalam upaya mencegah atau mengatasi berat badan kurang, penting untuk penuhi kebutuhan gizi yang tepat, mulai dari memastikan setiap menu makan anak terdapat sumber karbohidrat, protein hewani, sayur, dan lemak sehat. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging serta susu penting untuk mendukung pertumbuhan.

"Tidak harus menu yang rumit, tetapi komposisinya seimbang. Selain itu, lakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin, minimal sebulan sekali pada anak diusia 5 tahun oleh petugas kesehatan di puskesmas, posyandu, atau rumah sakit," lanjut dr. Ian.

Deteksi dini memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga risiko masalah kesehatan gizi anak dan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dapat dicegah. Dengan berkonsultasi, orang tua bisa menyesuaikan kebutuhan yang tepat dengan kondisi anak.

Jika diperlukan, pada kondisi berat badan rendah dan sulit naik biasanya dokter juga bisa merekomendasikan pemberian konsumsi susu tinggi kalori untuk mengejar kenaikan berat badan.

"Namun perlu diingat, pemberian susu tinggi kalori ini harus dengan rekomendasi dan pemantauan dokter spesialis anak,” dr. Ian menjelaskan.

Komitmen yang berkelanjutan

PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) terus memperkuat komitmen dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia. Dalam momentum peringatan Hari Gizi Nasional 2026, Sarihusada meluncurkan kampanye “Pejuang Berat Badan Anak” yang bertujuan untuk mengajak para orang tua pejuang berat badan agar lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, dan pemantauan rutin agar anak mencapai berat badan ideal serta terhindar dari gangguan pertumbuhan.

Kampanye ini juga merupakan keberlanjutan dari komitmen dan upaya perusahaan yang telah berhasil dilakukan pada tahun 2025 lalu melalui gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS).

Pada tahun 2026, komitmen mereka dalam hal ini akan terus dilanjutkan dan diperkuat melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”, yang diharapkan bisa makin memperluas upaya edukasi masyarakat, mendorong deteksi dini, serta mendukung keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak di masa depan.

Editorial Team