“Selama proses menyusui tetap berjalan dengan baik, biasanya tubuh akan menyesuaikan produksinya. Puasa saja tidak otomatis membuat ASI berhenti,” jelasnya.
Ibu Menyusui Puasa, Tetap Perhatikan Produksi ASI dan Nutrisi

Dokter menjelaskan ibu menyusui umumnya tetap bisa berpuasa selama tubuh sehat dan kebutuhan nutrisi terpenuhi, karena produksi ASI menyesuaikan dengan frekuensi menyusui.
Sahur menjadi momen penting untuk menjaga energi dan kualitas ASI, dengan anjuran konsumsi makanan bergizi seimbang serta cukup cairan dari berbuka hingga sahur.
Ibu disarankan tidak memaksakan puasa bila merasa lemas atau dehidrasi, serta memantau tanda kecukupan ASI pada bayi.
Setiap Ramadan ada kelompok dengan kondisi khusus yang sering bertanya apakah mereka boleh berpuasa. Salah satunya adalah ibu menyusui, yang khawatir puasa akan memengaruhi produksi ASI dan kecukupan nutrisi bayi.
Menurut dr. Revina Tranggana, Sp.A, CIMI (dokter spesialis anak dan laktasi di Eka Hospital Pluit), banyak ibu menyusui tetap bisa menjalankan puasa asalkan kondisi tubuh baik dan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Berikut penjelasannya.
Perhatikan produksi ASI
Dokter Revina menyebut bahwa hal yang terpenting dari ibu menyusui di bulan Ramadan bukan hanya puasanya, tetapi juga tubuh dengan mekanisme adaptasi yang cukup baik, termasuk dalam proses produksi ASI.
Produksi ASI pada dasarnya mengikuti prinsip supply and demand. Artinya, makin sering bayi menyusu atau ASI dikeluarkan, makin banyak pula produksi ASI.
Jangan lewatkan sahur

Pengalaman setiap ibu bisa berbeda. Dalam praktik klinis, sebagian mengaku merasa lebih cepat lelah atau haus ketika berpuasa. Beberapa juga khawatir produksi ASI menurun. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan pola makan yang kurang optimal.
“Sering kali yang terjadi bukan karena puasanya, tetapi karena ibu kurang minum, kurang makan atau waktu istirahatnya tidak cukup,” kata dr. Revina.
Ia menambahkan bahwa tubuh ibu menyusui membutuhkan energi tambahan setiap hari untuk memproduksi ASI.
Agar tetap kuat menjalani puasa, sahur menjadi waktu makan yang sangat penting bagi ibu menyusui.
“Sahur jangan dilewatkan. Pilih makanan dengan gizi seimbang, terutama protein dan karbohidrat kompleks agar energi bisa bertahan lebih lama,” lanjutnya.
Tidak memaksakan puasa
Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan sejak waktu berbuka hingga sahur. Hidrasi yang baik membantu tubuh tetap berfungsi optimal selama berpuasa. Ia juga menyarankan ibu tetap menyusui atau memompa ASI secara rutin agar produksi tetap terjaga.
Meski banyak ibu dapat menjalani puasa dengan baik, pemantauan kondisi tetap penting. Jika merasa sangat lemas, pusing, atau tanda dehidrasi mulai muncul, sebaiknya puasa tidak dipaksakan.
Hal yang sama juga berlaku jika bayi menunjukkan tanda tidak mendapatkan ASI yang cukup. Dalam situasi tersebut, ibu dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisinya.
Pada akhirnya, keputusan untuk berpuasa saat menyusui tidak bisa disamaratakan. Kondisi kesehatan ibu, usia bayi, serta pola menyusui perlu dipertimbangkan.
Dokter Revina menegaskan bahwa kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama selama menjalani ibadah di bulan Ramadan. Dengan persiapan nutrisi yang baik, hidrasi yang cukup, serta pemantauan kondisi tubuh, banyak ibu tetap dapat menjalani puasa sekaligus memberikan ASI secara optimal bagi buah hati.












![[QUIZ] Cara Kamu Ngemil di Kantor Ungkap Risiko Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20250528/pexels-tima-miroshnichenko-7046987-67104491522800a41320892f42e2df36-f4af38417973c0b7e31a66a16d8b1688.jpg)





