Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

WHO, UNICEF: 1 dari 4 Orang Tidak Punya Akses Air Minum yang Aman

ilustrasi sumber air bersih (unsplash.com/Liz Martin)
ilustrasi sumber air bersih (unsplash.com/Liz Martin)
Intinya sih...
  • 1 dari 4 orang di dunia tidak memiliki akses air minum yang aman.
  • 3,4 miliar orang belum memiliki sanitasi yang layak, dan 1,7 miliar orang tidak memiliki layanan kebersihan dasar di rumah.
  • Masyarakat di negara paling miskin dua kali lebih mungkin tidak memiliki akses air minum dan sanitasi dasar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam rangka World Water Week 2025 yang diperingati pada 24-28 August 2025, laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) menyoroti kesenjangan besar dalam akses air bersih, sanitasi, dan layanan kebersihan. Meski ada kemajuan dalam satu dekade terakhir, tetapi miliaran orang masih belum memiliki akses yang layak. Akibatnya, mereka berisiko lebih tinggi terkena penyakit dan mengalami keterpinggiran sosial.

Laporan berjudul "Progress on Household Drinking Water and Sanitation 2000–2024: Special Focus on Inequalities" mengungkap bahwa masyarakat di negara berpenghasilan rendah, wilayah rentan konflik, komunitas pedesaan, anak-anak, serta kelompok etnis minoritas dan masyarakat adat adalah yang paling terdampak oleh ketidaksetaraan ini.

Fakta mengejutkan dari laporan WHO dan UNICEF

Beberapa temuan penting dalam laporan ini antara lain:

  • Diperkirakan satu dari empat orang di dunia (2,1 miliar orang) masih tidak memiliki akses air minum yang aman (air minum berasal dari sumber yang tersedia di sekitar tempat tinggal, bebas dari kontaminasi, tersedia kapan pun dibutuhkan, serta menggunakan toilet yang higienis, di mana limbahnya diolah dan dibuang dengan aman), termasuk 106 juta orang yang bergantung langsung pada sumber air permukaan yang tidak diolah.

  • Sekitar 3,4 miliar orang belum memiliki sanitasi yang layak, termasuk 354 juta orang yang masih buang air besar di tempat terbuka.

  • Sekitar 1,7 miliar orang tidak memiliki layanan kebersihan dasar di rumah, termasuk 611 juta tanpa fasilitas sama sekali.

  • Masyarakat di negara paling miskin dua kali lebih mungkin tidak memiliki akses air minum dan sanitasi dasar, serta tiga kali lebih mungkin tidak memiliki layanan kebersihan dibanding negara lain.

  • Di wilayah rentan konflik, cakupan air minum aman 38 persen lebih rendah dibanding negara lain.

  • Akses di pedesaan memang membaik, dari 50 persen menjadi 60 persen antara 2015–2024, tetapi masih jauh tertinggal dari wilayah perkotaan.

  • Data dari 70 negara menunjukkan bahwa meski sebagian besar perempuan dan remaja putri punya tempat privat untuk mengganti pembalut, tetapi banyak yang kekurangan bahan untuk mengganti sesering yang dibutuhkan.

  • Remaja putri usia 15–19 tahun lebih sering absen sekolah, kerja, atau kegiatan sosial saat menstruasi dibanding perempuan dewasa.

  • Di banyak negara, perempuan dan anak perempuan memikul beban utama pengambilan air. Di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan, banyak yang harus berjalan lebih dari 30 menit setiap hari hanya untuk mendapatkan air.

  • Dengan waktu menuju target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang makin di depan mata, capaian universal untuk akses air, sanitasi, dan kebersihan masih tampak sulit digapai tanpa percepatan besar.

Ditegaskan oleh WHO dan UNICEF, air bersih dan sanitasi bukanlah hak istimewa, melainkan hak dasar manusia. Tanpa percepatan nyata, terutama bagi komunitas yang paling terpinggirkan, janji untuk mewujudkan air bersih dan sanitasi bagi semua akan makin jauh dari jangkauan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us