"Australia on track to eliminate cervical cancer by 2035." Commonwealth of Australia. Diakses November 2025.
Australia Bersiap Capai Eliminasi Kanker Serviks Pertama di Dunia

- Australia makin dekat untuk menjadi negara pertama yang mengeliminasi kanker serviks pada 2035, didukung data penurunan kasus dan meningkatnya angka survival rate.
- Metode self-collect skrining serviks membuka akses bagi kelompok kurang terlayani, sekaligus meningkatkan kesetaraan layanan kesehatan.
- Pemerintah Australia menginvestasikan $59 juta untuk memperkuat vaksinasi, skrining, dan program eliminasi kanker serviks.
Ada kabar optimistis dari Australia. Negara ini makin dekat untuk menjadi yang pertama di dunia yang mengeliminasi kanker serviks. Sebuah pencapaian yang beberapa dekade lalu mungkin terasa mustahil, kini mulai terlihat nyata berkat vaksinasi HPV, skrining serviks yang lebih canggih, serta strategi kesehatan publik yang kuat.
Laporan terbaru dari Centre for Research Excellence in Cervical Cancer Control menunjukkan angka kanker serviks di Australia terus menurun. Pada tahun 2021, angkanya turun menjadi 6,3 per 100.000 perempuan, lebih rendah dari tahun sebelumnya (6,.6 per 100.000). Yang paling mencolok, tidak ada satu pun kasus kanker serviks pada perempuan di bawah 25 tahun pada tahun yang sama, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak pencatatan dimulai pada 1982.
Harapan juga terlihat dari angka ketahanan hidup. Lima tahun survival rate meningkat menjadi 76,8 persen pada 2017–2021, naik dari 73,9 persen dibanding periode sebelumnya. Ini adalah bukti kuat bahwa deteksi dini dan pengobatan yang lebih baik benar-benar menyelamatkan nyawa.
Rebecca White, Asisten Menteri Kesehatan dan Perawatan Lansia, Asisten Menteri Kesehatan Masyarakat Adat, dan Asisten Menteri Urusan Perempuan dalam sebuah rilis mengatakan, "Australia memimpin dunia dalam upaya eliminasi kanker serviks, tetapi kita harus menjaga momentum untuk mewujudkan tujuan ini.”
Pemerintahan Albanese bertekad mengeliminasi kanker serviks pada 2035 dan memastikan skrining serviks bersifat inklusif, mudah diakses, dan efektif, ia mengatakan.
“Adopsi dini vaksin HPV untuk anak perempuan dan remaja putri, serta peralihan tepat waktu dari Pap smear ke skrining serviks, membuat Australia berada di jalur yang tepat untuk mencapai eliminasi dan menyelamatkan lebih banyak nyawa,” kata Rebecca.
“Namun, kita harus terus meningkatkan akses yang setara untuk mempertahankan cakupan vaksinasi HPV dan memastikan semua orang dapat melakukan skrining serviks, tambahnya.
Makin banyak perempuan yang memilih metode self-collect untuk pemeriksaan serviks
Namun, perjalanan belum selesai. Laporan ini menunjukkan bahwa cakupan vaksinasi HPV dan partisipasi skrining serviks sedikit menurun. Di saat yang sama, ada kabar baik, bahwa makin banyak perempuan yang memilih metode self-collect untuk pemeriksaan serviks, termasuk mereka yang sebelumnya tidak pernah atau jarang melakukan skrining. Metode ini terbukti efektif membuka akses bagi kelompok yang selama ini kesulitan mengikuti pemeriksaan konvensional, termasuk komunitas First Nations, multikultural, LGBTQIA+, penyandang disabilitas, serta warga di daerah terpencil.
Upaya ini diperkuat oleh kampanye “Own It” yang didanai Pemerintah Albanese, yang berhasil meningkatkan kesadaran mengenai opsi self-collect hingga 45 persen pada kelompok sasaran.
Pemerintah Australia telah mengalokasikan $59 juta untuk menjalankan strategi nasional eliminasi kanker serviks. Selain fokus pada peningkatan akses dan keadilan layanan, Australia juga membagikan pengalaman dan dukungan teknis melalui Elimination Partnership in the Indo-Pacific for Cervical Cancer (EPICC), bekerja sama dengan Minderoo Foundation untuk membantu negara-negara lain memperkuat pencegahan dan penanganan kanker serviks.
Referensi



















