Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Saja Zat Aktif yang Terkandung dalam Obat Flu dan Batuk?

Ilustrasi orang sedang pilek (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi orang sedang pilek (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Batuk dan flu merupakan dua kondisi yang menyerang saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh infeksi virus yang ringan. Masa virus masuk ke dalam tubuh atau masa inkubasi biasanya berlangsung sekitar 2—3 hari. Gejala batuk dan pilek akan muncul dan terasa mengganggu 2—3 hari dan akan membaik memasuki hari ke-7 hingga 10.

Flu merupakan self-limiting disease yang artinya penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu dengan istirahat dan banyak minum. Namun, gejalanya seperti bersin, hidung tersumbat, hingga sakit kepala dapat mengurangi produktivitas dan mengganggu kenyamanan beraktivitas. Oleh karena itu, kadang orang yang mengalami flu dan batuk membutuhkan obat untuk mengurangi gejala.

Di pasaran, obat flu dan batuk ada berbagai macam jenisnya sesuai dengan zat aktif yang terkandung. Zat aktif yang terkandung di obat pilek diperuntukkan gejala flu yang bisa berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Nah, apa saja zat aktif yang biasa terkandung dalam obat flu dan batuk? Yuk, cari tahu lewat artikel berikut!

1. Parasetamol untuk meredakan nyeri dan demam

ilustrasi obat paracetamol (pexels.com/Christina & Peter)
ilustrasi obat paracetamol (pexels.com/Christina & Peter)

Flu sering kali terjadi karena infeksi virus, dan kadang kala menimbulkan demam serta nyeri kepala. Apabila terdapat gejala tersebut, pilihlah obat flu yang mengandung paracetamol. Paracetamol berkhasiat untuk meredakan nyeri dan demam. Jika menemukan kandungan parasetamol pada obat flu berarti obat flu tersebut dapat menurunkan demam serta meredakan nyeri kepala yang ringan dan sedang. Manfaat tersebut bisa didapat sekitar 20–45 menit setelah obat diminum dan dapat bertahan dalam tubuh selam 4 sampai 6 jam.

2. Antihistamin, obat untuk meredakan bersin-bersin

ilustrasi seseorang minum obat (pexels.com/JESHOOTS.com)
ilustrasi seseorang minum obat (pexels.com/JESHOOTS.com)

Salah satu gejala flu adalah bersin-bersin, hidung berair, serta hidung dan mata yang gatal.  Untuk mengatasi gejala tersebut, obat flu selalu mengandung obat golongan antihistamin. Terdapat dua macam antihistamin, antihistamin generasi pertama dan kedua. Antihistamin generasi pertama dapat meredakan gejala flu tetapi memiliki efek kantuk yang tinggi. Contoh antihistamin generasi pertama pada obat flu adalah chlorpheniramine maleate dan dexchlorpheniramine maleat. Tak ayal, jika sesudah mengkonsumsi obat flu akan menyebabkan kantuk. Sementara itu, antihistamin generasi kedua dapat meredakan gejala flu tanpa menyebabkan kantuk, contohnya adalah loratadin. 

3. Untuk hidung tersebumbat, ada kandungan dekongestan di obat flu

ilustrasi orang sedang pilek (pixabay.com/Mojpe)
ilustrasi orang sedang pilek (pixabay.com/Mojpe)

Virus flu dapat menginfeksi selaput lendir sehingga menyebabkan pembengkakan dan peradangan akhirnya keluarlah lendir dalam jumlah yang banyak. Lendir yang dihasilkan di hidung dapat menyebabkan hidung tersumbat dan napas pun jadi tak leluasa. Hal inilah yang membuat kepala juga terasa berat dan pusing. Oleh karena itu, pada obat flu terdapat obat golongan dekongestan yang bisa meredakan hidung tersumbat. Dekongestan bekerja dengan meredakan pembengkakan pembuluh darah di hidung sehingga dapat melegakan saluran pernapasan. Contoh dari obat dekongestan adalah pseudoefedrin, phenylephrine, phenylpropanolamine.

4. Beberapa golongan obat batuk yang ada di obat flu dan batuk

ilustrasi obat flu (pexels.com/Gundula Vogel)
ilustrasi obat flu (pexels.com/Gundula Vogel)

Flu sering kali disertai dengan batuk, baik batuk berdahak maupun batuk kering. Seperti namanya, batuk berdahak merujuk pada batuk yang disertai dengan dahak atau lendir yang menggumpal dan kental sedangkan batuk kering adalah adanya batuk tetapi tidak ada dahaknya. Untuk mengatasi batuk berdahak, ada obat golongan mukolitik dan/atau ekspektoran di dalam obat flu. Ekspektoran bekerja dengan mengencerkan dahak, sehingga dahak tidak terlalu kental dan menggumpal dan dapat lebih mudah dikeluarkan. Contoh dari obat ekspektoran adalah glyceryl guaiacolate dan guaifenesin.

Golongan obat batuk lain adalah mukolitik yang contohnya adalah bromheksin. Mukolitik bekerja dengan mengurangi kelekatan lendir pada saluran napas dan mengurangi kekentalan dahak, alhasil dahak dapat dikeluarkan. Jadi, apabila gejala flu disertai batuk, pilih obat yang ada ekspektoran atau mukolitiknya. Nah, apabila flu disertai dengan batuk kering, pilih obat flu dan batuk yang mengandung dextromethorphan yang bekerja untuk menekan batuk di pusat batuk yang ada di otak.

Meminum obat flu dan batuk sesuai dengan kebutuhan diharapkan dapat meringankan gejala flu dan batuk. Selain mengonsumsi obat batuk, tambahan vitamin juga dapat membantu proses penyembuhan flu. Istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, serta hidrasi yang cukup juga diperlukan untuk memulihkan kondisi.

Referensi

“Mucolytics: Overview.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.

“Definition of Expectorants.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.

“How Does Tylenol (Acetaminophen) Work.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.

“What Are Decongestants.” Verywell Health. Diakses Januari 2026.

“Common Questions About Paracetamol for Adults.” NHS UK. Diakses Januari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Link Skrining BPJS Kesehatan 2026, Deteksi Risiko Penyakit

06 Jan 2026, 09:45 WIBHealth