ilustrasi hubungan suami istri (pexels.com/cottonbro studio)
Frekuensi hubungan intim setiap pasangan sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak hanya soal waktu atau mood, tetapi juga kondisi fisik, emosional, hingga lingkungan sekitar. Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi seberapa sering pasangan berhubungan intim.
Tingkat hormon seks biasanya mencapai puncak pada usia muda, tetapi menurun secara signifikan sekitar usia 50 tahun. Penurunan ini kerap terlihat dari berkurangnya frekuensi hubungan intim.
Perbedaan libido antara pasangan bisa memengaruhi frekuensi dan kualitas hubungan intim. Jika salah satu merasa lebih berhasrat daripada yang lain, seringkali ini menjadi alasan pasangan mencari terapi untuk menyelaraskan kebutuhan seksual mereka.
Penyakit seperti jantung, diabetes, atau COPD bisa menurunkan gairah seksual dan menyebabkan disfungsi seksual. Selain itu, kesehatan mental dan kualitas tidur juga ikut memengaruhi keinginan untuk berhubungan intim.
Pria yang bekerja penuh waktu cenderung memiliki frekuensi hubungan intim lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja paruh waktu, pengangguran, atau mahasiswa. Untuk perempuan, pekerjaan tidak terlalu berpengaruh, tetapi mahasiswa perempuan melaporkan frekuensi lebih rendah, menurut sebuah studi.
Pasangan yang memiliki anak usia sekolah biasanya melaporkan frekuensi hubungan intim lebih rendah dibanding pasangan tanpa anak atau dengan anak pada usia lain.
Kebiasaan menonton pornografi di internet oleh salah satu pasangan bisa dikaitkan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah dan menurunnya rasa percaya diri.