Comscore Tracker

6 Mitos Seksualitas Pria yang Harus Berhenti Dipercaya

Apa benar pria tidak pernah memalsukan orgasme?

Dalam hal seksualitas, tidak ada orang yang memiliki pengalaman sama persis. Akan tetapi, stereotip dapat menyebabkan seseorang mempercayai hal-hal seputar kesehatan seksual dan apa yang dilabeli "normal".

Misalnya, banyak orang yang percaya bahwa ukuran penis memengaruhi seberapa baik performa laki-laki di ranjang, atau ejakulasi dini tidak dapat disembuhkan. Padahal, keduanya tidak benar. Nah, inilah beberapa mitos seksualitas pria yang harus berhenti dipercaya.

1. Ukuran penis memengaruhi kepuasan seksual

6 Mitos Seksualitas Pria yang Harus Berhenti Dipercayailustrasi ukuran penis (pexels.com/Dainis Graveris)

Gagasan bawa penis yang lebih besar selalu lebih memuaskan sudah ada sejak lama. Namun, ini disangkal banyak ahli. Karena, pada dasarnya panjang dan lingkar anggota tubuh seseorang bukanlah cerminan langsung dari kepuasan seksual orang tersebut atau pasangannya.

Dilansir Insider, kebanyakan pria baik-baik saja dengan ukuran dan ketebalan apa pun. Namun, ketika mereka membandingkan diri sendiri dengan apa yang ditampilkan dalam industri film dewasa, mereka mulai merasa insecure.

Rata-rata ukuran penis adalah 9 sentimeter (cm), lalu bisa mencapai 13 cm saat ereksi. Terlepas dari apakah ukuran penis pria di bawah atau di atas rata-rata, selama orang tersebut sehat, maka seharusnya tidak merasa kurang dalam hal kepuasan seksual berdasarkan ukuran saja.

2. Suplemen untuk memperlambat periode refrakter pasca orgasme

Periode refrakter pada pria adalah waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan ereksi lagi setelah ejakulasi. Sebagian suplemen yang dipasarkan secara online atau offline banyak yang menjanjikan bisa mempercepat periode tersebut. 

Suplemen atau pil tersebut dipasarkan dengan anggapan bahwa kadar prolaktin yang tinggi membuat periode refrakter pada pria lebih lama. Penggunaan suplemen dimaksudkan untuk menurunkan hormon prolaktin, tetapi tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suplemen ini bekerja dengan efektif. 

Konsumsi suplemen untuk mengurangi periode refrakter juga tidak direkomendasikan oleh para ahli. Selain keamanannya belum dijamin, ada studi yang menemukan kalau prolaktin bukanlah penyebab periode refrakter. 

Penelitian dalam jurnal Communications Biology tahun 2021 menggunakan sampel tikus yang memiliki kemiripan perilaku seksual dengan manusia. Para peneliti tidak menemukan adanya perbedaan antara tikus yang diberi prolaktin dan yang tidak setelah berhubungan seks.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa prolaktin bukanlah penyebab dari refrakter. Jadi, mengonsumsi pil untuk menurunkan prolaktin tidak bisa berpengaruh terhadap periode refrakter.

3. Mengalami blue balls bisa berakibat serius

6 Mitos Seksualitas Pria yang Harus Berhenti Dipercayailustrasi pria mengalami blue balls (hellodoctor.co.za)

Melihat testis membiru dan merasakan sakit atau ketidaknyamanan tentu bisa membuat laki-laki khawatir. Akan tetapi, gejala-gejala blue balls tersebut dianggap tidak mengancam atau berisiko membawa kerusakan permanen.

Blue bells adalah istilah untuk hipertensi epididimis, yang terjadi ketika pria kelebihan darah di testis akibat menerima rangsangan seksual yang tidak diikuti orgasme atau ejakulasi. 

Biasanya saat laki-laki terangsang, darah mengalir ke penis dan testis yang kemudian menyebabkan ereksi. Jika pria melakukan ejakulasi, darah kembali ke tingkat normal. Namun, jika tidak, blue balls bisa muncul sebagai gantinya.

Tidak ada obat resmi untuk kondisi tersebut. Namun, pemulihan tercepat biasanya dilakukan dengan melakukan ejakulasi, mengompres dengan es, hingga melakukan olahraga fisik untuk membantu memperlancar aliran darah. 

Blue balls bukanlah kondisi serius yang mengancam keselamatan. Namun, dalam kasus yang  sangat jarang, kondisi itu bisa berkembang sehingga membutuhkan penanganan medis jika tidak kunjung hilang.

Baca Juga: Testis Ngilu akibat Gagal Ejakulasi? Awas Itu Tanda Blue Balls! 

4. Pria tidak pernah memalsukan orgasme

Sulit orgasme memang dilaporkan lebih banyak oleh perempuan. Ini kadang mendasari tindakan memalsukan orgasme untuk menyenangkan pasangan. Nah, ternyata pria pun tidak selalu bersikap jujur tentang pengalaman orgasmenya.

Mengutip Insider, pria bisa memalsukan penglihatan dan suara saat orgasme, yang mana sumber masalahnya bisa berupa ketidakmampuan untuk ejakulasi. Ini bisa disebabkan oleh obat atau alasan medis lainnya.

Tanda yang tidak bisa ditipu adalah keluarnya cairan ejakulasi. Jadi, terlepas dari alasan apa pun yang mendasarinya, pria juga bisa memalsukan orgasme.

5. Pria tidak bisa mengalami orgasme lebih dari sekali

6 Mitos Seksualitas Pria yang Harus Berhenti Dipercayailustrasi orgasme (pexels.com/deon black)

Beberapa perempuan diketahui dapat mengalami orgasme beberapa kali saat satu sesi seks. Namun, hal ini cukup berbeda bagi sebagian besar pria yang mengalami ejakulasi saat klimaks. Pada umumnya, pria tidak mengalami lebih dari satu orgasme dalam satu sesi hubungan intim.

Akan tetapi, bukan berarti itu tidak mungkin terjadi. Periode refrakter merupakan faktor yang dapat menentukan berapa lama seorang pria bisa mengalami orgasme lagi setelah mencapai klimaks.

Beberapa pria yang bisa orgasme tanpa ejakulasi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk orgasme berturut-turut. Sebuah studi deskriptif dalam jurnal Archives of Sexual Behavior  yang mengamati 21 pria menemukan bahwa pria mampu mengalami orgasme berturut-turut tanpa periode refrakter.

6. Ejakulasi dini tidak dapat disembuhkan

Ejakulasi dini atau ejakulasi yang terjadi sebelum diinginkan oleh pasangan adalah masalah umum di kalangan pria. Pendapat yang mengkhawatirkan kalau ejakulasi dini tidak dapat sembuh nyatanya adalah mitos belaka. 

Faktanya, ada banyak metode untuk mengatasi ejakulasi dini. Mulai dari pengobatan oral, krim topikal, kondom atau perangkat khusus, hingga cara alami. Obat untuk disfungsi ereksi juga bisa digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi.

Beragam mitos tentang seksualitas pria yang selama ini beredar harus berhenti dipercaya. Menyebarkan informasi yang salah dapat memperkuat stereotip yang merugikan para pria dan pasangannya.

Penulis: Dian Rahma Fika Alnina

Baca Juga: 13 Cara Mengatasi Ejakulasi Dini secara Alami

Topic:

  • Bunga Semesta Int
  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya