- Pengendalian paparan: Mengurangi atau menghilangkan paparan terhadap zat karsinogenik melalui substitusi bahan, ventilasi udara yang baik, dan teknologi pengendalian emisi.
- Proteksi pribadi: Penggunaan APD seperti respirator, sarung tangan, dan pakaian pelindung untuk mengurangi kontak langsung dengan karsinogen.
- Pelatihan dan edukasi: Meningkatkan kesadaran pekerja tentang risiko dan cara perlindungan yang tepat serta pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala.
- Kebijakan dan regulasi: Pemerintah dan organisasi kesehatan dapat menetapkan batas paparan yang lebih ketat dan mengawasi implementasinya di industri.
9 Pekerjaan Ini Berisiko Tinggi terhadap Kanker, Apa Penyebabnya?

- Beberapa profesi memiliki risiko kanker lebih tinggi karena paparan karsinogen di tempat kerja.
- Paparan terhadap zat seperti asbestos, diesel, dan radiasi dapat menyebabkan berbagai jenis kanker.
- Pencegahan melalui proteksi, kontrol lingkungan kerja, dan pengurangan paparan adalah kunci menurunkan risiko.
Lingkungan kerja berperan penting terhadap kesehatan jangka panjang seseorang. Selain faktor gaya hidup, paparan terhadap agen karsinogenik di tempat kerja dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pada pekerja. Pekerjaan tertentu telah dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker karena paparan zat berbahaya seperti asbes, benzena, dan agen lain yang diklasifikasikan sebagai karsinogen potensial.
Organisasi seperti International Agency for Research on Cancer (IARC), bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara sistematis mengidentifikasi dan mengevaluasi bahan serta paparan yang dapat menyebabkan kanker pada manusia, termasuk banyak paparan yang terjadi di tempat kerja.
Mendalami hubungan antara jenis pekerjaan dan risiko kanker bukan hanya penting untuk pencegahan, tetapi juga mencerminkan upaya memperbaiki standar keselamatan kerja, kebijakan regulasi, serta pemahaman pekerja terhadap bahaya yang mungkin tidak terlihat.
Yuk, ketahui bersama jenis-jenis pekerjaan yang berisiko tinggi terhadap kanker!
Table of Content
1. Pekerja konstruksi dan bangunan
Pekerja konstruksi sering kali terpapar asbestos, silika kristalin, debu diesel, dan berbagai gas berbahaya saat mengupas struktur lama, memotong beton, atau mengoperasikan mesin berat. Paparan asbes, khususnya, telah lama diketahui menyebabkan mesotelioma dan kanker paru-paru karena seratnya yang halus menempel dan merusak jaringan paru saat dihirup.
Silika kristalin yang dihasilkan saat memotong atau mengebor beton juga dikenal sebagai penyebab kanker paru dan penyakit paru kronis setelah paparan berkepanjangan.
Ventilasi yang baik di lokasi kerja, sistem penyedot debu modern, penggunaan respirator yang sesuai, serta penggantian bahan berbahaya dengan alternatif yang lebih aman, dapat mengurangi paparan signifikan.
2. Petani dan pekerja pertanian

Dalam pekerjaan pertanian, paparan harian terhadap pestisida dan bahan kimia lain dapat meningkatkan risiko kanker darah seperti linfoma non-Hodgkin dan leukemia, serta kanker prostat. Bahan-bahan ini bisa diserap melalui kulit, terhirup, atau tertelan tanpa perlindungan memadai.
Beberapa penelitian epidemiologis juga menunjukkan paparan kronis terhadap pestisida tertentu berhubungan dengan perubahan genetik yang dapat memicu proliferasi sel abnormal.
Menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat, mencuci tangan secara teratur, serta memilih pestisida dengan risiko lebih rendah dapat membantu meminimalkan paparan bahan berbahaya.
3. Pemadam kebakaran

Pemadam kebakaran terpapar campuran kompleks dari zat karsinogenik, termasuk benzena, asbes, dan partikel asap dari bahan bakar terbakar. IARC telah menilai bahwa paparan pekerjaan sebagai pemadam kebakaran merupakan karsinogen potensial bagi manusia karena bukti epidemiologis yang menghubungkannya dengan kanker paru, mesotelioma, serta multiple myeloma.
Dermal (kulit) dan inhalasi bahan kimia dari kejadian kebakaran (termasuk partikel halus) dapat menembus pelindung jika APD tidak cukup atau prosedur dekontaminasi tidak optimal setelah tugas.
Penggunaan APD yang tepat, prosedur dekontaminasi ketat setelah kebakaran, serta monitoring kesehatan berkala untuk deteksi dini adalah strategi penting dalam mengurangi risiko.
4. Pekerja industri karet
Pekerjaan di industri karet sering kali berarti paparan terhadap benzena, vinil klorida, dan bahan kimia lain yang diklasifikasikan oleh IARC sebagai karsinogen bagi manusia. Statistik menunjukkan bahwa pekerja di sektor ini memiliki risiko lebih tinggi untuk kanker kandung kemih, leukemia, dan kanker paru.
Vinil klorida, misalnya, terutama terkait dengan risiko angiosarkoma hati, jenis kanker hati yang sangat agresif.
Kontrol teknik yang mengurangi emisi ke udara, APD yang bagus, pelatihan kesadaran terhadap bahan kimia di tempat kerja, serta pemantauan kesehatan rutin dapat membantu melindungi pekerja.
5. Tukang cat

Tukang cat terpapar terus-menerus terhadap uap cat dan pelarut mengandung hidrokarbon aromatik, formaldehida, dan benzena, yang merupakan karsinogen potensial. Paparan melalui inhalasi dan kontak kulit yang sering dapat meningkatkan risiko kanker paru dan kanker darah.
Paparan berulang tanpa ventilasi yang memadai di ruang sempit dapat meningkatkan konsentrasi racun yang dihirup, mempercepat proses kerusakan sel.
Ruang kerja dengan ventilasi kuat, respirator yang tepat, serta penggantian bahan dengan produk yang lebih aman dapat membantu menurunkan paparan karsinogen.
6. Awak transportasi dan pekerja mesin diesel

Pekerja di sektor transportasi seperti sopir truk, operator mesin diesel, atau pekerja rel kereta sering terpapar debu emisi diesel, yang menurut banyak studi dikaitkan dengan kanker paru dan kanker kandung kemih. Diesel exhaust merupakan campuran partikel halus dan gas yang bersifat karsinogenik.
Paparan kronis terhadap partikel halus ini memicu peradangan paru yang lama dan kerusakan genetik.
Pengurangan paparan melalui emisi bersih, ventilasi kabin yang baik, penggunaan masker partikulat yang relevan dan rotasi tugas dapat membantu menurunkan dosis paparan jangka panjang.
7. Pekerja luar ruangan
Profesi dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi seperti petani, tukang atap, atau pekerja jalanan memiliki risiko kanker kulit yang lebih tinggi, termasuk melanoma dan kanker kulit non-melanoma, akibat paparan UV kumulatif dari sinar matahari.
UV dapat menyebabkan mutasi DNA di kulit, dan paparan jangka panjang tanpa perlindungan meningkatkan kemungkinan transformasi sel normal menjadi kanker.
Tabir surya spektrum luas, pakaian pelindung, topi, dan kacamata, serta mengatur jam kerja agar tidak terlalu lama pada siang hari dapat mengurangi paparan UV.
8. Pekerja shift, terutama kerja malam

Pekerjaan shift dengan gangguan ritme sirkadian, terutama kerja malam, diklasifikasikan sebagai probable carcinogen karena risiko kanker payudara yang meningkat pada pekerja perempuan. Ritme sirkadian yang terganggu memengaruhi produksi melatonin, hormon yang membantu regulasi siklus tidur dan juga mengenalkan efek protektif terhadap sel.
Penurunan melatonin akibat paparan cahaya malam dapat memicu perubahan hormonal yang berdampak pada regulasi proliferasi sel dan risiko kanker yang sensitif hormon.
Rotasi shift yang baik, manajemen paparan cahaya, tidur teratur, dan pola hidup sehat bisa membantu meminimalkan gangguan ritme sirkadian dan risiko terkait.
9. Pekerja industri tekstil

Beberapa pekerja di industri seperti tekstil atau pengolahan serat alami terpapar debu industri dan kontaminan kimia yang dapat menimbulkan risiko kanker saluran pernapasan. Paparan berulang terhadap debu tekstil halus dapat memicu peradangan kronis dan perubahan seluler.
Selain itu, beberapa bahan industri tekstil mengandung pewarna atau pelarut yang dikenal sebagai agen yang berpotensi karsinogenik.
Pengendalian debu melalui ventilasi, masker debu yang tepat, rotasi tugas, dan pelatihan penggunaan APD dapat membantu mengurangi paparan ini.
Cara mencegah kanker terkait pekerjaan
Mencegah kanker terkait pekerjaan tidak hanya tanggung jawab individu, tetapi juga pemberi kerja dan pembuat kebijakan. Langkah-langkah utama meliputi:
Beberapa pekerjaan memiliki risiko kanker yang lebih tinggi karena paparan terhadap zat karsinogenik dalam lingkungan kerja. Risiko ini sering kali berkembang secara perlahan dan mungkin baru terlihat puluhan tahun setelah paparan awal.
Mengenali profesi dengan risiko tinggi, memahami mekanisme paparan, serta menerapkan strategi pencegahan dapat secara signifikan menurunkan kemungkinan perkembangan kanker terkait pekerjaan. Kolaborasi antara pekerja, pemberi kerja, dan pembuat kebijakan adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi semua.
Referensi
"Occupational Cancer." CDC. Diakses Februari 2026.
"Occupational exposures." IARC. Diakses Februari 2026.
"Understanding Occupational Cancers: Risks and Prevention." OHSE. Diakses Februari 2026.
"European Code Against Cancer, 5th Edition 14 ways you can help prevent cancer (PDF)." IARC/WHO. Diakses Februari 2026.
"Occupations Associated with Higher Cancer Rates." RosyCheeked. Diakses Februari 2026.
"Occupational exposures and cancer." EBSCO. Diakses Februari 2026.
"NIOSH Potential Occupational Carcinogens." CDC/NIOSH. Diakses Februari 2026.
"Working Outdoors & Cancer Risk." SkinCancer.org. Diakses Februari 2026.
"Workplace Cancer." Cancer Council Australia. Diakses Februari 2026.














.jpg)



