Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Film Para Perasuk, Seberapa Nendang Fantasi yang Dibangun Wregas?

Review Film Para Perasuk, Seberapa Nendang Fantasi yang Dibangun Wregas?
poster film Para Perasuk (Instagram.com/filmparaperasuk)
Intinya Sih
  • Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja menghadirkan dunia fantasi unik tentang fenomena sambetan yang membawa kebahagiaan, bukan horor, dengan kisah Bayu melindungi desanya dari keserakahan penguasa.
  • Aksi para pemain seperti Maudy Ayunda, Angga Yunanda, dan Anggun C. Sasmi mendapat pujian berkat akting totalitas, koreografi kuat, serta scoring yang memperkuat atmosfer dunia sambetan.
  • Sinematografi film ini menonjol lewat visual imersif dan detail khas Wregas, meski CGI di beberapa adegan terasa kurang halus namun tetap mendukung kekuatan konsep dan estetika cerita.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Setelah sibuk melanglang buana ke berbagai festival film internasional, akhirnya Para Perasuk tayang di bioskop Indonesia. Film ini memang cukup diantisipasi karena tercatat sebagai karya terbaru dari sutradara Wregas Bhanuteja yang diperkuat oleh jajaran pemain bertabur bintang, mulai dari Angga Yunanda, Maudy Ayunda, hingga Anggun C. Sasmi.

Satu kata yang terlintas di benak saya saat menyaksikannya di acara press screening yang berlangsung di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (14/4/2026) adalah unik. Wregas benar-benar menciptakan dunia baru yang memperlihatkan PoV tentang apa yang dirasakan oleh para pelamun, orang yang kerasukan ketika kesadaran mereka masuk ke alam sambetan.

Tenang! Para Perasuk sama sekali bukan film horor. Perasuk di sini tidak berkaitan dengan hal mistis, melainkan seseorang yang membuat para pelamun kesambet roh binatang. Menariknya, pengalaman kesambet ini justru menghadirkan sudut pandang yang berbeda karena membawa kebahagiaan bagi pelamun.

Saat press screening, film ini ditutup dengan tepuk tangan meriah dari awak media dan para tamu undangan. Tentu respons tersebut menjadi sinyal kuat bahwa film ini meninggalkan kesan yang mendalam. Lantas, seberapa nendang film ketiga Wregas Bhanuteja ini?

Sinopsis Film Para Perasuk (2026)

Para Perasuk mengikuti kisah Bayu, pemuda dari Desa Latas yang memiliki ambisi besar untuk menjadi perasuk andal. Di desanya, fenomena sambetan bukan kejadian aneh, melainkan sebuah pesta akbar, di mana orang-orang yang kerasukan justru akan merasakan sensasi yang membahagiakan.

Di tengah euforia itu, Bayu melihat kesempatan untuk membuktikan dirinya. Namun, ambisinya tak berhenti di sana. Ia juga memikul misi yang lebih besar, yaitu melindungi Desa Latas dari keserakahan para penguasa yang mengancam kehidupan warganya. Perjalanan Bayu pun membawanya masuk lebih dalam ke dunia sambetan, sebuah ruang antara kesadaran dan ketidaksadaran yang perlahan menguji batas keberanian, identitas, dan tujuan hidupnya.

Para Perasuk
2026
4.6/5
Directed by Wregas Bhanuteja
Producer

Siera Tamihardja, Iman Usman, Amalia Rusdi

Writer

Wregas Bhanuteja, Alicia Angelina, Defi Mahendra

Age Rating

13+

Genre

Drama

Duration

119 menit Minutes

Release Date

23-04-2026

Theme

Supranatural, tradisi, drama sosial

Production House

Rekata Studio

Where to Watch

CGV, Cinepolis, XXI

Cast

Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, Indra Birowo

Trailer Film Para Perasuk (2026)

Cuplikan Film Para Perasuk (2026)

1. Punya konsep unik dengan bumbu fantasi yang kuat

Jujur saja, awalnya film Para Perasuk ini terasa agak aneh bagi saya, mungkin karena menyajikan cerita yang tidak biasa dan keluar dari pakem kebanyakan film. Cara Wregas membangun alam sambetan di film ini membuat saya membutuhkan waktu untuk mencernanya. Bahkan, beberapa jokes di awal terasa cringe.

Namun, seiring cerita berjalan, justru keanehan itu berubah menjadi daya tarik tersendiri. Menurut saya, Wregas cukup berani mendobrak batas antara realita dan imajinasi lewat fenomena kerasukan yang selama ini identik dengan nuansa horor. Namun, diolah menjadi ruang reflektif, tempat di mana para pelamun melarikan diri dari realitas hidup yang kadang-kadang terasa menyesakkan.

Gak dimungkiri, film ini memang punya konsep yang unik sekaligus matang, dengan balutan fantasi yang kuat. Wregas membangun alam sambetan, alam konsentrasi, hingga kehadiran roh binatang dengan detail sehingga penonton benar-benar diajak masuk dan merasakan pengalaman imersif di dunia yang ia ciptakan.

Menariknya, semua itu tidak berdiri sendiri. Film ini juga dibungkus dengan berbagai lapisan drama, mulai dari konflik personal, hubungan keluarga, romansa tipis-tipis yang bikin baper, hingga perjuangan melawan ketidakadilan yang membuat ceritanya terasa lebih hidup dan emosional.

2. Koreografi, scoring, dan akting pemain solid

Koreografi film ini juga terasa solid, membuat pengalaman menonton jadi lebih menarik. Bukan sekadar gerakan, tetapi koreografi yang dihadirkan juga menjadi bagian penting dari cerita.

Keunggulan film ini juga terletak pada scoring-nya yang mendukung, yang membuat penonton semakin terbawa ke alam sambetan ala Wregas yang khas lewat PoV para pelamun saat dirasuki roh binatang.

Dari sisi akting, para pemainnya tampil ciamik. Maudy Ayunda benar-benar totalitas dengan peran yang menuntut gerakan koreografi yang tidak biasa, bahkan sampai adegan ekstrem, seperti berguling di lumpur hingga kerasukan di kandang ayam, semuanya terasa nyata, bikin merinding.

Konflik ayah dan anak yang dibawakan Angga Yunanda dan Indra Birowo juga terasa sangat emosional. Awalnya, saya sempat merasa geregetan dan terbawa emosi, namun seiring berjalannya cerita, perasaan itu berubah menjadi refleksi tentang perjuangan seorang ayah yang terus berusaha, meski sering gagal.

Anggun C. Sasmi pun tampil mengejutkan. Seperti katanya dalam agenda media visit di kantor IDN, Rabu (1/4/2026), Anggun benar-benar meninggalkan jiwa glamornya. Sebagai film debutnya di Indonesia, performa Anggun terasa ikonik dan natural. Tidak hanya dari sisi akting, tetapi ia juga tampil meyakinkan dari sisi penampilan hingga riasan.

Bryan Domani juga mencuri perhatian dengan karakternya yang benar-benar berbeda, bahkan dari gesture hingga cara bicaranya, lho. Tapi jangan sedih! Meski tampil sedikit “menjamet”, pesonanya tetap gak luntur. Sementara Chicco Kurniawan justru kelihatan cool saat beraksi dengan gitarnya.

3. Sinematografinya khas, tapi CGI-nya terasa kurang mulus

Gak cuma matang secara konsep cerita, film ini juga didukung sinematografi yang terasa khas, terutama dari kekuatan visualnya. Wregas membangun dunia yang detail dan imersif yang membuat setiap adegan terasa punya identitas yang solid. Contohnya, saat para pelamun dirasuki roh kupu-kupu, mereka dibawa masuk ke alam sambetan yang dipenuhi bunga. Dunia ini dibangun dengan visual yang indah dan terasa hidup sehingga menciptakan kesan seperti benar-benar berada di ruang fantasi yang penuh warna dan rasa.

Namun, di beberapa adegan, CGI-nya terasa kurang mulus, seperti belum sepenuhnya menyatu dengan gambar. Meski begitu, kekuatan desain visual dan konsep dunianya tetap menjadi daya tarik utama yang membuat pengalaman menonton terasa unik.

Jadi, kalau kamu mencari film dengan konsep yang unik, eksperimental, dan penuh imajinasi, Para Perasuk layak ditonton.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Related Articles

See More