Ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Photo by Mina Rad)
Pada akhirnya, AI bukan musuh dalam proses mencari kerja. Justru, AI dapat menjadi alat yang sangat membantu jika digunakan untuk memperbaiki cara kita mempresentasikan kemampuan. Kamu bisa memintanya mengecek struktur CV, menyederhanakan kalimat, mencari bagian yang terlalu umum, atau membantu menyesuaikan pengalaman dengan posisi yang dituju.
Tetapi kemampuan menggunakan AI untuk membuat CV bukan otomatis menjadi bukti bahwa kamu kompeten. Penelitian lapangan yang diterbitkan dalam Academy of Management Proceedings pada 2026 bahkan menemukan bahwa menambahkan kualifikasi AI tingkat lanjut ke CV tidak secara signifikan meningkatkan kemungkinan mendapatkan panggilan wawancara secara keseluruhan. Efek positifnya hanya terlihat pada beberapa bidang seperti engineering dan marketing.
"Kami tidak menemukan dampak yang signifikan secara statistik dari pencantuman kualifikasi AI dalam resume terhadap tingkat pemanggilan wawancara. Namun, analisis heterogenitas menunjukkan adanya dampak positif dan signifikan untuk posisi di bidang teknik dan pemasaran," demikian laporan studi The Elusive Returns to AI Skills: Evidence from a Field Experiment dalam Academy of Management Journals.
Temuan ini menunjukkan bahwa nilai sebuah skill sangat bergantung pada konteks pekerjaan dan kebutuhan perusahaan. Karena itu, CV terbaik di era AI bukan CV yang paling banyak menggunakan istilah canggih, melainkan CV yang paling mudah membuktikan bahwa kamu memang mampu melakukan pekerjaan tersebut.
Jadi, AI memang bisa membuat CV terlihat lebih profesional, tetapi AI tidak bisa meminjamkan kompetensi kepadamu. Teknologi dapat membantu memilih kata yang lebih tepat, menyusun pengalaman dengan lebih menarik, dan membuat dokumen lebih mudah dibaca. Namun di hadapan perekrut secara langsung, tidak ada prompt yang memberikan jawaban selain pengalamanmu sendiri.