ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ron Lach)
Salah satu alasan mengapa pekerjaan perempuan sering dipandang sebelah mata adalah karena masyarakat masih terbiasa mengukur kerja dari penghasilan. Padahal, ada banyak pekerjaan penting yang memang tidak menghasilkan uang secara langsung. Mengurus rumah, merawat anggota keluarga yang sakit, mendampingi anak tumbuh besar, atau menjaga agar kehidupan sehari-hari tetap berjalan juga memiliki nilai yang tidak kalah besar.
Kalau semua pekerjaan tersebut harus digantikan oleh orang lain, tentu akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh ada atau tidaknya gaji. Karena itu, menyebut hanya satu pihak yang bekerja seumur hidup terasa kurang tepat. Laki-laki memiliki tanggung jawab yang besar, begitu pula perempuan dengan bentuk pekerjaan yang sering kali tidak banyak dibicarakan.
Pembahasan ini bukan tentang siapa yang bekerja lebih keras atau siapa yang paling banyak berkorban. Apalagi, siapa yang paling banyak menghasilkan uang seumur hidupnya. Setiap keluarga memiliki pembagian peran yang berbeda, sehingga tidak bisa disamaratakan. Ada perempuan yang menjadi ibu rumah tangga, ada yang tetap berkarier, dan ada pula yang menjalani keduanya secara bersamaan.
Di sisi lain, banyak laki-laki juga memikul tanggung jawab besar sebagai pencari nafkah sekaligus ayah di rumah. Daripada saling membandingkan, akan lebih baik jika memahami alasan perempuan tetap bekerja seumur hidup dan menghargai sebagaimana mestinya. Baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama bekerja seumur hidup. Hanya saja, medan dan bentuk pekerjaannya tidak selalu sama.