Banyak orang masih merasa ragu saat ingin ambil cuti meski tubuhnya sudah lelah. Ada rasa bersalah yang muncul karena takut dianggap tidak profesional atau kurang berdedikasi. Padahal, hak cuti karyawan memang dibuat agar pekerja bisa beristirahat dengan layak. Di tengah budaya kerja yang serba cepat, rasa ini makin sering muncul tanpa disadari.
Hustle culture membuat banyak orang merasa nilai dirinya ditentukan oleh produktivitas. Istirahat jadi dianggap sebagai bentuk kemalasan, bukan kebutuhan. Padahal pola pikir seperti ini justru bisa merusak work-life balance dalam jangka panjang. Karena itu, penting memahami cara memanfaatkan cuti dengan lebih sehat dan bijak.
