Julianne Miles, psikolog dan Co-Founder Career Returners, juga mengingatkan bahwa waktu selama career break, kamu tetap punya nilai dan bisa menjadi bagian dari perkembangan diri. "Hargai masa jeda kariermu. Sadari bagaimana waktu yang kamu habiskan selama jeda tersebut telah membantumu berkembang sebagai pribadi, baik dari sisi keterampilan, pengalaman, perspektif, maupun ketahanan diri," dikutip dari Career Returners, melalui podcast Return Journey: How to Get Back to Work and Thrive After a Career Break.
Cara Menjalani Career Break Tanpa Terjebak Tekanan, Ikhlas!

- Career break dapat menjadi ruang untuk beristirahat, mengevaluasi arah, dan menjalani hidup di luar pekerjaan tanpa harus membandingkan diri atau mengejar pencapaian yang bisa dipamerkan.
- Selama jeda, pengembangan diri bisa dilakukan sesuai energi, seperti mengikuti industri, belajar, proyek kecil, kerja lepas, atau menjaga koneksi, tanpa kewajiban selalu produktif.
- Persiapan kembali bekerja dapat dilakukan perlahan melalui pembaruan CV dan portofolio, penyimpanan proyek, membangun koneksi profesional, serta memantau lowongan saat sudah siap.
Ada fase ketika kerja rasanya bukan lagi tentang mengejar target, tetapi cuma berusaha bertahan sampai akhir minggu. Aku pernah berpikir, mungkin aku cuma butuh istirahat sebentar. Tapi begitu membayangkan career break, muncul pertanyaan lain, mulai dari nanti CV-ku gimana, karierku bakal tertinggal gak, atau orang-orang malah menganggap aku gak berkembang?
Padahal, mengambil jeda dari pekerjaan gak selalu berarti berhenti mengejar karier. Career break bisa menjadi kesempatan untuk menarik napas, mengevaluasi arah, atau sekadar memberi ruang untuk menjalani hidup di luar pekerjaan. Yang sering bikin berat justru tekanan untuk segera punya jawaban tentang langkah berikutnya. Lantas, bagaimana menjalani career break tanpa terus merasa bersalah karena sedang berhenti?
1. Jangan jadikan career break sebagai perlombaan

Ilustrasi bekerja (freepik.com/tirachardz) Saat melihat orang lain tetap bekerja, naik jabatan, pindah perusahaan, atau membangun bisnis, wajar kalau kita mulai merasa tertinggal. Apalagi ketika career break terlihat seperti waktu kosong yang harus segera diisi dengan pencapaian baru. Padahal, alasan setiap orang mengambil jeda bisa berbeda dan gak semuanya harus menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan.
Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain, coba lihat kembali alasan kenapa kamu mengambil jeda. Mungkin kamu sedang butuh istirahat setelah bertahun-tahun bekerja, ingin mengevaluasi arah karier, atau sedang mencari tahu apa yang sebenarnya kamu mau. Gak semua waktu harus menghasilkan pencapaian yang bisa ditulis di CV.
2. Tetap berkembang tanpa memaksa diri

Ilustrasi bekerja (pexels.com/ Andrea Piacquadio) Career break bukan berarti kamu harus menghilang sepenuhnya dari dunia profesional. Kalau memang punya energi, kamu bisa tetap mengikuti perkembangan industri, belajar keterampilan baru, mengerjakan proyek kecil, mengambil pekerjaan lepas, atau sekadar menjaga koneksi dengan orang-orang di bidang yang kamu minati. Tapi, semuanya gak harus dilakukan sekaligus.
Coba bedakan antara tetap berkembang dan memaksa diri untuk tetap produktif. Kalau sedang punya energi, gunakan untuk melakukan hal yang memang ingin kamu pelajari. Namun kalau tubuh dan pikiran justru membutuhkan istirahat, gak perlu merasa bersalah karena memilih berhenti sejenak. Career break tetap bisa punya tujuan meski gak setiap harinya diisi dengan kegiatan produktif.
Saat waktunya kembali bekerja, kamu juga gak harus langsung tahu persis akan mengambil arah ke mana. Carol Fishman Cohen, CEO dan Co-Founder iRelaunch yang fokus membantu profesional kembali bekerja setelah career break, mengakui bahwa proses kembali ke dunia kerja bisa terasa berat.
“Kembali bekerja setelah jeda karier yang panjang bisa terasa sangat membingungkan dan melelahkan," dikutip dari Harvard Business Review, dalam artikel How Do I Relaunch My Career After a Long Break? oleh Carol Fishman Cohen.
3. Siapkan jalan pulang tanpa terburu-buru

Ilustrasi bekerja (magnific.com/jcomp) Salah satu hal yang sering bikin career break terasa menakutkan adalah bayangan saat harus kembali mencari kerja. Ada kekhawatiran soal CV yang punya jeda, keterampilan yang mungkin tertinggal, sampai pertanyaan dari recruiter. Kekhawatiran ini memang gak sepenuhnya tanpa alasan karena resume gap masih bisa memengaruhi cara perusahaan melihat kandidat.
Karena itu, gak ada salahnya menyiapkan jalan kembali secara perlahan. Update CV, rapikan portofolio, simpan proyek yang pernah dikerjakan, bangun lagi koneksi profesional, atau mulai melihat lowongan ketika sudah merasa siap.
Jadi, career break gak harus menjadi fase yang dipenuhi rasa bersalah karena merasa tertinggal. Kamu boleh menggunakan waktu ini untuk istirahat, mencari tahu apa yang sebenarnya kamu mau, sekaligus perlahan menyiapkan langkah berikutnya. Ketika waktunya kembali bekerja nanti, yang penting bukan seberapa cepat kamu kembali, tetapi apakah kamu kembali dengan arah yang memang terasa tepat untukmu.

























