Comscore Tracker

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?

Benarkah gelar pendidikan jadi modal utama di dunia kerja?

Perjalanan panjang menempuh pendidikan tinggi telah usai, gelar telah diraih, ijazah telah digenggam. Setelah menempuh masa kuliah yang melelahkan, perjuangan seorang sarjana tak berhenti sampai di situ. Ia kembali didorong untuk ‘bertarung’ dalam medan perang yang disebut dunia kerja. Bekerja seperti sebuah tuntutan atau tahap hidup yang harus dijalani secara berurutan setelah mendapatkan gelar pendidikan. Benarkah demikian?  

Pada dasarnya, manusia memiliki kemampuan serta kapabilitas yang beraneka ragam untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera. Pendidikan seharusnya bisa menjadi wadah untuk mendorong seseorang melakukan aktualisasi diri dan mengembangkan potensi. Namun, apakah gelar pendidikan menjadi hal yang esensial dalam mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera bagi setiap individu, terutama dalam hal karier dan pekerjaan? 

Untuk membahas lebih lanjut mengenai fenomena tersebut, IDN Times telah melakukan survei kepada generasi muda, yakni Gen Z dan Millennial mengenai “Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?” yang dilakukan sejak Juli-September 2022. Survei ini berhasil menghimpun 187 responden dengan pemaparan sebagai berikut. 

1. Mengenal lebih jauh gelar pendidikan akademik di Indonesia

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Infografis seberapa penting gelar pendidikan di dunia kerja. (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia nomor 6 tahun 2022, lulusan pendidikan tinggi berhak menggunakan gelar sesuai jenis dan program pendidikan tinggi. Gelar tersebut diberikan kepada lulusan yang telah menyelesaikan kewajiban yang dipersyaratkan oleh perguruan tinggi terkait. Gelar diberikan kepada lulusan pendidikan akademik, vokasi, dan profesi. 

Secara singkat, lulusan perguruan tinggi yang telah lulus akan mendapatkan gelar sesuai dengan jenis dan program pendidikannya. Namun, apakah implementasi titel yang disandang lulusan perguruan tinggi, sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja? IDN Times berusaha untuk menilik lebih lanjut implementasi predikat pendidikan tersebut di dunia kerja melalui survei kepada generasi muda. 

Hasil survei ini menunjukkan responden berusia 26-35 tahun (58,8 persen) mendominasi dengan jumlah responden berjenis kelamin perempuan (64,7 persen) lebih besar daripada responden laki-laki (35,3 persen). Mayoritas responden berasal dari DKI Jakarta (28,9 persen), Jawa Timur (18, 7 persen), Jawa Barat (18,2) dan berbagai provinsi lain di Indonesia. 

Dalam hasil survei tersebut, ditemukan bahwa 70,6 persen responden telah menempuh pendidikan strata satu atau S1 dengan gelar sarjana. Menempati posisi kedua, sebanyak 11,2 persen responden mengaku telah menyelesaikan pendidikan pendidikan strata 2 atau S2 dengan gelar Magister. Sementara itu, terdapat 10,7 persen lulusan Diploma I-IV yang turut berpartisipasi dalam survei ini.

2. Motivasi lulusan perguruan tinggi saat memilih jurusan kuliah, salah satunya adalah harapan untuk bisa menekuni bidang tersebut dan jadi profesional dalam hal tersebut

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Infografis seberapa penting gelar pendidikan di dunia kerja. (IDN Times/Aditya Pratama)

Keputusan dalam memilih jurusan kuliah sangat berpengaruh terhadap jenjang pekerjaan dan karier di masa depan. Sebelum mengetahui lebih jauh bagaimana implementasi pendidikan seorang lulusan perguruan tinggi di dunia kerja, agaknya kita perlu mengetahui lebih dalam mengenai alasan pemilihan jurusan kuliah. 

Ada banyak alasan bagi pelajar untuk memilih jurusan kuliah. Berdasarkan hasil temuan IDN Times, mayoritas responden memilih jurusan kuliah karena ingin mendapatkan ilmu atau pengetahuan yang baru (52,4 persen). Ada juga yang memilih jurusan kuliah dengan harapan dapat menekuni bidang tertentu agar bisa menjadi profesional di bidang tersebut (43,3 persen). 

Alasan lain ketika memilih jurusan kuliah dikemukakan oleh FR (24), sarjana desain interior yang kini bekerja di bidang yang serupa. FR mengungkapkan, “Saya memilih jurusan kuliah tersebut karena memiliki minat di bidang desain, dan ingin menekuni hal tersebut lebih dalam untuk bisa menjadi profesional di bidang interior design."

Selain alasan di atas, hal yang mendasari keputusan seseorang untuk berkuliah di bidang tertentu adalah harapan untuk mendapat pekerjaan yang lebih mudah (32,1 persen), lulusan di bidang tersebut tengah diminati oleh dunia kerja (24,6 persen), memiliki jenjang karier yang jelas (23 persen), dan adanya harapan gaji besar dan signifikan (16,6 persen).  

3. Alasan pemilihan jurusan kuliah dan motivasi seseorang untuk bekerja, sama-sama didasari pada keinginan untuk berkarier di bidang yang diminati

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Infografis seberapa penting gelar pendidikan di dunia kerja. (IDN Times/Aditya Pratama)

Setiap orang memiliki motivasi atau dorongan yang beraneka ragam ketika memasuki dunia kerja. Beberapa alasan pemilihan bidang pekerjaan tertentu selaras dengan pemilihan jurusan kuliah sebelumnya. Berbagai motivasi membentuk keputusan seseorang, termasuk dalam jenjang karier di masa depan. 

Sonia Natasha sebagai psikolog, HR consultant, dan director dari Migunani Consulting, menjelaskan perbedaan antara karier dan pekerjaan agar dapat dipahami lebih lanjut. Pekerjaan lebih berfokus pada tugas yang dilakukan secara berkala, biasanya tidak semua orang mendapatkan perluasan dalam pekerjaannya. Pekerjaan juga tidak signifikan meningkatkan kemampuan serta lebih berfokus pada keadaan atau besaran pendapatan. 

Hal tersebut sedikit berbeda dengan pemahaman mengenai karier. Pendorong utama karier bukanlah pendapatan, melainkan passion dan usaha untuk mengaktualisasi diri. Selain itu, karier akan mendapatkan perluasan dan ada pengembangan baik secara struktural atau spesialis keahlian karena peningkatan karier dan dapat dilaksanakan sepanjang usia, tidak terbatas pada organisasi tertentu atau waktu yang sempit. 

Berdasarkan hasil survei dari IDN Times, motivasi tertinggi seseorang dalam memilih jurusan pendidikan untuk karier di masa depan adalah kesesuaian bakat dan minat yang dimiliki. Selain itu, adanya keinginan untuk menyesuaikan dengan karier impian menjadi alasan yang tak kalah dominan, serta menyesuaikan kondisi finansial atau keuangan. 

Hal lain yang memotivasi seseorang dalam pemilihan jurusan di perguruan tinggi adalah jumlah lapangan kerja dari lulusan di jurusan tersebut. Kemudian adanya keinginan atau dorongan dari orangtua juga menjadi alasan seseorang ketika memutuskan jurusan kuliah. Selain itu, seseorang juga mempertimbangkan gaji yang nantinya akan diterima apabila bekerja di bidang tersebut dan yang terakhir, tingkat kesuksesan lulusan sebelumnya dari bidang yang serupa. 

Beberapa alasan di atas menunjukkan adanya hubungan yang erat dari pemilihan jurusan semasa menempuh pendidikan formal dengan harapan untuk berkarier di bidang yang linear. Sementara untuk motivasi dalam pemilihan karier juga tak kalah beragam. 

Mayoritas responden yang berpartisipasi dalam survei IDN Times mengaku motivasi terbesar mereka dalam memilih posisi karier adalah keinginan untuk memiliki jenjang karier yang baik. Selain itu, responden juga memilih pekerjaan saat ini berdasarkan latar pendidikan yang dimiliki dan karena telah memiliki pengalaman di bidang yang selaras. Terakhir, alasan responden memilih karier tersebut karena adanya harapan mendapatkan gaji besar meskipun tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki. 

Baca Juga: [INFOGRAFIS] Fenomena Job Hopping Kaum Millennials, Masih Ada Stigma?

4. Apakah faktor utama yang menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan?

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Infografis seberapa penting gelar pendidikan di dunia kerja. (IDN Times/Aditya Pratama)

Mendapatkan gelar pendidikan bukanlah proses yang mudah dan sederhana. Banyak tantangan yang dilalui demi bisa menyandang titel tertentu. Namun, apakah perjalanan panjang yang dilalui seorang sarjana dalam meraih gelar pendidikan bisa menjadi modal utama atau tolak ukur terpenting untuk memperoleh pekerjaan? 

Responden berinisial GKA (20) yang berdomisili di Jawa Tengah mengaku bahwa gelar pendidikan tak terlalu berpengaruh dengan pekerjaan yang dilakoninya. Laki-laki ini menjelaskan,

“Menurut saya pribadi untuk suatu gelar pendidikan di suatu pekerjaan tidak begitu penting, yang terpenting adalah skill dan kemampuan yang kita miliki. Namun, di Indonesia gelar pendidikan masih sangat berpengaruh untuk menentukan jenjang karier ke depannya.”

 

Retno Pratiwi, selaku Psikolog dan HR Practitioner, menjelaskan, “Penerima kerja sendiri sebenarnya awalnya memang menilai pengalaman, tapi gak perlu khawatir untuk fresh graduate karena sebenarnya tidak hanya dari pengalaman aja. Toh, mereka yang dari fresh graduate ini kita bisa menilai dari pengalaman organisasi. Yang kita lihat untuk bekerjasama dalam tim untuk bekerja di suatu perusahaan itu kerjasamanya, komunikasi, sama penyesuaian diri.”

Melalui hasil survei IDN Times, mayoritas responden merasa diterima bekerja karena adanya skill mumpuni yang dimiliki (40,1 persen), adanya pengalaman yang dapat menunjang pekerjaan (30,5 persen), serta adanya networking dalam bidang pekerjaan tersebut (12,8 persen). 

Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Sonia, bahwa ada beberapa aspek yang memengaruhi penerimaan kerja seseorang. Aspek tersebut di antaranya kemampuan berpikir, kepribadian, sikap kerja, kecocokan dengan posisi yang dilamar serta kesesuaian dengan organisasi atau perusahaannya. 

Sonia menjelaskan lebih lanjut mengenai aspek berpikir bagi calon kandidat, “Tentunya dari aspek kemampuan berpikir, yang mana di dalamnya pengetahuan, bagaimana menerima informasi, bagaimana mereka menerima sebuah instruksi, bagaimana mereka memberi pendapat, mengungkapkan ide, itu kan masuknya di aspek berpikir atau aspek yang berkaitan dengan kemampuan berpikir.”

Sonia juga menambahkan pentingnya memiliki jiwa kepemimpinan yang ke depannya digunakan untuk mengelola atau mengatur diri sendiri, prioritas, serta orang lain. 

5. Mana yang lebih baik, gelar pendidikan dan pekerjaan yang linear atau sebaliknya?

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Ilustrasi karyawan yang sedang bekerja. (unsplash.com/frantic)

Setiap keputusan dalam dunia kerja memiliki konsekuensinya masing-masing. Berkaitan dengan gelar pendidikan dan pekerjaan yang ditekuni, sebanyak 47,6 persen responden mengaku pekerjaan mereka linear dengan pendidikan yang ditempuh. Sementara 33,7 persen responden tidak bekerja di bidang yang linear dengan pendidikan terakhirnya dan 18,7 persen responden mengaku telah meninggalkan pekerjaan yang semula linear dengan gelar pendidikannya, kini tidak lagi sejalan dengan gelar pendidikannya. 

Ada kelebihan apabila seseorang memilih bekerja atau berkarier secara linear dengan gelar pendidikannya. Menurut Sonia, keuntungannya adalah kandidat tersebut telah memahami dasar-dasar dari bidang pekerjaannya berdasarkan teori atau pengetahuan yang didapat di sekolah. 

Sayangnya, masih banyak responden yang merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan yang sejalan dengan gelar pendidikannya. Sebanyak 52,9 persen responden membagikan pengalaman mereka yang merasa kesulitan dalam mencari pekerjaan karena gelar pendidikan tidak sesuai kualifikasi. Hal tersebut bertolak belakang dengan  47,1 persen responden yang merasa gelar pendidikan tidak berpengaruh dengan pekerjaan.  

Salah satu responden berinisial LS yang berdomisili di DKI Jakarta, menuturkan bahwa pendidikannya memiliki pengaruh yang besar terhadap bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini.

LS menceritakan,  “Berpengaruh, karena saya bekerja di lingkup yang sama. Setiap proyek yang diberikan oleh perusahaan untuk dipegang, selalu berdasarkan gelar yang dimiliki dengan anggapan lebih paham dan lebih mudah untuk menerima pekerjaan tersebut. Sharing knowledge-nya pun juga akan lebih mudah kedepannya.”

Responden berinisial TS (24) juga mengaku pendidikan yang ditempuhnya memiliki pengaruh terhadap dunia kerja yang ia jalani saat ini.

Perempuan asal DIY ini menjelaskan, “Pengaruh, karena dunia kerja akan melihat kredibilitas dan profesionalitas calon pekerjanya dari pengalaman kerja dan pendidikan sebelumnya.”

Berdasarkan survei dari IDN Times, 91 dari 100 orang dengan pekerjaan yang linear merasa memiliki ada keuntungan dari pekerjaan dan pendidikan yang sejalan, sementara 9 lainnya merasa hal itu tidak terlalu berpengaruh dengan pekerjaannya. 

Hal yang lebih utama dari menyandang gelar pendidikan adalah kemampuan dan pengetahuan terkait bidang yang ditekuni tersebut.

Retno turut memberi penjelasan mengenai hal ini, “Kalau kita berbicara gelar, kita lihat kapabilitas dia apakah dia sesuai dengan gelarnya. Misalnya dia gelarnya komunikasi nih, ketika kita interview apakah ilmu komunikasinya itu benar-benar dia bisa terapkan atau tidak. Sebenarnya, kalau dibilang dari gelar sendiri kita lihat dulu, sih apakah gelar itu benar-benar dia terapkan di pekerjaannya atau jabatan yang dia lamar. Yang penting tetap upgrading terkait knowledge dan softskill.”

Sebanyak 67,9 persen responden mengaku melamar pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah membuatnya jadi lebih mudah diterima. Sementara 32,1 persen responden merasa jurusan pendidikan tidak membuatnya lebih mudah diterima kerja. 

“Gelar pendidikan kalau dibilang penting pasti penting, itu sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tapi kalau di dalam pekerjaan, itu kembali lagi kepada jenis pekerjaan dan kebutuhan pekerjaan tersebut,” ujar Sonia. 

6. Mayoritas responden berpendapat bahwa pendidikan formal di Indonesia masih mengutamakan teori

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?Ilustrasi karyawan laki-laki mengajari karyawan lain (Unsplash.com/Icons8 Team)

Hingga saat ini masih banyak orang berpikir bahwa sekolah atau lembaga pendidikan formal merupakan satu-satunya tempat untuk belajar. Padahal, hasil survei SMERU Institute, PIS (Program for International Student Assessment) dan katadata, menunjukkan bahwa tingkat pembelajaran antara angkatan 2000 dan 2014 mengalami penurunan. Selain itu, ditemukan sedikit sekali peningkatan kemampuan atau pemahaman siswa antar jenjang kelas.

Hal tersebut selaras dengan penilaian responden mengenai pendidikan formal di Indonesia yang cenderung mengutamakan teori dan kurang membantu responden dalam mendapatkan pekerjaan. Sebanyak 63,6 persen responden merasa pendidikan formal di Indonesia masih cenderung mengutamakan teori jadi belum membantu dalam dunia kerja. 

Salah seorang responden berinisial M berpendapat bahwa sekolah formal hanya mengedepankan teori daripada praktik kerja di lapangan.

Sarjana perempuan asal DKI Jakarta ini menjelaskan, “Karena yang diajarkan di sekolah formal mayoritas hanya teori, bukan praktek ataupun project yang bisa membangun pola pikir dan pengalaman. Mayoritas mengacu pada nilai, bukan experience-nya. Sehingga ketika terjun ke dunia kerja, mayoritas tidak/belum tahu ilmu itu akan diterapkan bagaimana dan ke mana. Ketika mulai bekerja, mulai memahami hidup dan kebutuhan hidup, cenderung akan beralih ke kerjaan yang lebih bisa memenuhi passion/kebutuhan finansial hidup apapun bidangnya, sesuai/tidak sesuai dengan background.”

Tak hanya itu, 19,8 persen responden menilai sistem pendidikan di indonesia masih kurang baik. Ada beberapa alasan mengapa responden dapat menilai pendidikan di Indonesia seperti itu. 

Salah satunya disampaikan oleh IRG, pemuda asal Banten yang berpendapat, “karena sistem pendidikan di Indonesia masih belum menyesuaikan dengan demand dari Industrinya sendiri. Jadi kemampuan untuk tempat pendidikan (sekolah atau kampus) selalu telat dan tidak sesuai.”

Hal serupa turut disampaikan perempuan asal DKI Jakarta berinisal B (24). “Karena sistem pendidikan masih berpusat pada teori, sehingga seorang siswa berujung mencoba berbagai skill secara mandiri.”

Sementara 16,6 persen responden menilai kurikulum pendidikan di Indonesia sudah baik tapi tidak cukup membantu untuk mendapatkan pekerjaan. 

“Pertama, karena pengetahuan atau pemahaman tentang karier dari suatu gelar pendidikan tertentu masih sangat terbatas. Misal saat seseorang lulus dari dari fakultas ekonomi dan bisnis, yang orang awam ketahui jenjang kariernya adalah menjadi seorang akuntan atau bekerja di bank saja. Padahal kan sebenarnya bisa lebih luas dari itu. Hal ini juga yang saya lihat salah satunya menjadi alasan kenapa banyak orangtua yang mengarahkan anaknya untuk menuntut pendidikan ke sekolah kedinasan. Kedua, karena ketersediaan lapangan pekerjaan dari beberapa jenis gelar pendidikan masih sangat terbatas,” ujar IM (30), perempuan asal Jawa Timur. 

7. Kesimpulan: implementasi pendidikan tak selalu mulus, ini solusi pakar

[INFOGRAFIS] Seberapa Penting Gelar Pendidikan di Dunia Kerja?ilustrasi karyawan wanita (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Implementasi gelar pendidikan dengan pekerjaan tak selalu berjalan mulus. Masih banyak responden menilai gelar pendidikan yang disandang tak selalu mempermudah mereka dalam mendapatkan pekerjaan. 

“Karena dari pendidikan dasar, sebagian besar pelajar atau mahasiswa tidak mendapatkan pengarahan yang sesuai dengan bakat dan minat masing - masing, sehingga pendidikan hanya berorientasi pada nilai dan jenjangnya saja bukan ke bidang yang dibutuhkan. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang mungkin menjadi pengecualian dan cukup berpengaruh, misalnya latar belakang keluarga ataupun kemampuan finansial. Contoh: Seorang dokter biasanya cenderung memiliki latar belakang dari keluarga dokter juga,” ujar responden berinisial NCL, laki-laki asal DKI Jakarta. 

Responden menilai pengalaman lebih berpengaruh daripada gelar pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pengalaman yang didapatkan, dimana kebanyakan pekerjaan lebih mengutamakan keterampilan dan pengalaman daripada latar pendidikan. Namun, pekerjaan yang selaras dengan gelar pendidikan mampu membuat kredibilitas seseorang semakin baik. 

Sonia kembali menerangkan, “Apa yang kita pelajari (di bangku sekolah) memang belum cukup untuk menjadi bekal kita untuk bekerja. Karena betul memang lebih banyak penguasaan teori tapi tidak dijelaskan riil case-nya, penerapannya di dalam industri, di dalam perusahaan atau di dalam kita bekerja, dan tidak diajarkan. Kita hanya berfokus pada kurikulum tapi kita lupa bahwa sebenarnya ada tambahan lagi yaitu pengenalan mengenai dunia kerja itu sendiri. Maka dari itu, kalau kita bisa lihat sekarang perkembangan pendidikan, khususnya untuk universitas itu sudah mulai kepada penerapan.”

Sonia juga menambahkan, karier seseorang perlu dipersiapkan sejak dini, tidak bisa menjadi hal yang serta-merta muncul saat hendak memasuki dunia kerja. Oleh karenanya, setiap individu diharapkan memiliki career ready, yakni sikap bagi setiap individu dimana ia dapat mengoptimalkan kemampuan, minat, dan skill dalam pekerjaan. 

Kesiapan tersebut dapat dikembangkan melalui career readiness yakni, kompetensi kesiapan kerja. Pertama, secara teknis, seseorang diharapkan telah memiliki basis pengetahuan mengenai karier yang hendak ditekuni. Kedua, secara non teknis, seseorang yang siap bekerja harus memiliki management career, mengacu pada pertanyaan ‘apa yang akan dilakukan beberapa tahun dari sekarang?’ Kemudian, seseorang juga diharapkan memiliki sikap profesional dan etika kerja. Selanjutnya, diperlukan adanya jiwa kepemimpinan yang dapat membantu seseorang untuk mengatur diri, waktu, pekerjaan hingga organisasi pekerjaannya. 

Keempat komunikasi, kelima teamwork, keenam problem solving dan critical thinking. Dan yang terakhir adalah kemampuan untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi. 

Gelar pendidikan dan pekerjaan ternyata tak selalu berjalan lurus dan mulus. Ada banyak serba-serbi yang harus dihadapi oleh seorang lulusan perguruan tinggi ketika ‘terjun’ ke dunia kerja. Bagaimana pendapatmu terkait hal tersebut?

Baca Juga: [INFOGRAFIS] Pengaruh Media Sosial dalam Kehidupan Masa Kini

Topic:

  • Dina Fadillah Salma
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya