Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Buku Klasik Tipis Paling Terlupakan Karya Perempuan
rekomendasi novel terlupakan karya perempuan (dok. Pushkin Press/The Obscene Madame D | dok. Daunt Books Publishing/La Femme de Gilles)
  • Artikel menyoroti ketidaknyamanan pembaca terhadap novel klasik karya pria yang kerap memuat unsur misoginis, lalu menawarkan alternatif berupa karya klasik perempuan yang terlupakan.
  • Lima novel tipis karya penulis perempuan diperkenalkan: Shirley Jackson, Hilda Hilst, Chiyo Uno, Anna Kavan, dan Madeleine Bourdouxhe dengan tema beragam dari distopia hingga eksistensialisme.
  • Tulisan ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai dan mengeksplorasi karya klasik perempuan karena karakter serta ide ceritanya dinilai lebih autentik dan inovatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa risih saat membaca novel klasik populer. Terutama yang ditulis pengarang pria. Biasanya ketidaknyamanan ini datang dari indikasi misoginis dan seksis si pengarang itu sendiri. Bahkan beberapa novelis klasik pria sudah terkonfirmasi pernah terlibat isu kekerasan seksual, beberapa di antaranya adalah George Orwell dan Pablo Neruda.

Tenang, sebagai alternatifnya, kamu bisa coba lebih rajin mengulik eksistensi novel-novel klasik garapan perempuan, terutama yang paling terlupakan. Penasaran? Bisa mulai dengan mencatat 5 rekomendasi berikut. Tipis, tapi membekas.

1. The Sundial (Shirley Jackson)

The Sundial karya Shirley Jackson (dok. Penguin/The Sundial)

The Sundial adalah novel paling terlupakan dari penulis horor Shirley Jackson. Dalam buku ini, Jackson mengusung genre sains-fiksi, distopia, dan komedi sekaligus. Kombinasinya menarik dan kompleks, tetapi intinya mengikuti pergulatan keluarga Halloran. Mereka adalah kalangan kelas atas Amerika Serikat yang baru saja kehilangan pewaris utama. Rumah mewah mereka pun jadi rebutan beberapa pihak. Semua ingin bertahan di rumah itu dengan cara apapun, terutama si ibu dari pewaris yang merasa paling berhak. Di tengah kemelut itu, salah satu anggota keluarga Halloran dapat mimpi ganjil tentang kiamat yang bikin satu rumah parno serempak.

2. The Obscene Madame D (Hilda Hilst)

The Obscene Madame D karya Hilda Hilst (dok. Pushkin Press/The Obscene Madame D)

Selain Clarice Lispector, kamu wajib kenalan dengan penulis perempuan Brasil lain bernama Hilda Hilst. Silakan mulai dengan baca The Obscene Madame D yang merupakan karya debutnya. Seperti Lispector, tulisan Hilda Hilst juga kaya metafora. Kali ini pusat ceritanya adalah Hille, perempuan 60 tahun yang sejak kehilangan suaminya mulai menunjukkan gejala halusinasi. Ia sering berdialog dengan mendiang suaminya selayaknya ia masih hidup dan topik yang paling sering muncul adalah krisis eksistensialisme yang sedang menghantui Hille.

3. The Story of Single Woman (Chiyo Uno)

The Story of Single Woman karya Chiyo Uno (dok. Pushkin Press/The Story of Single Woman)

Perempuan lajang di novel klasik Jepang ini adalah Kazue. Ia lahir dan besar di sebuah desa yang penduduknya saling kenal dan erat, tetapi menolak untuk berkompromi dengan adat di sana. Kazue menolak perjodohan dan memutuskan untuk hidup bebas. Ia berkelana ke Tokyo dan Korea, menjalin hubungan dengan banyak pria sampai akhirnya memilih hidup untuk dirinya sendiri. Berlatar tahun 1920-an, ini adalah kisah hidup Chiyo Uno sendiri yang cukup kontemplatif, tetapi juga berani.

4. Ice (Anna Kavan)

Ice karya Anna Kavan (dok. Pushkin Press/Ice)

Memakai pendekatan surealisme, Ice adalah kisah seorang sipir yang pada awal buku mengaku punya masalah halusinasi. Cerita dilanjut dengan dirinya yang melihat sesosok perempuan albino yang membuatnya penasaran. Siapa dia? Sembari mencari tahu siapa sosok itu, kita bakal disuguhi lanskap alam yang tidak familier dengan apa yang biasa kita lihat. Meski tak secara gamblang mengatakannya, sepertinya Anna Kavan sedang mendorong kita ke Bumi yang berubah setelah bencana besar (apokalips).

5. La Femme de Gilles (Madeleine Bourdouxhe)

La Femme de Gilles karya Madeleine Bourdouxhe (dok. Daunt Books Publishing/La Femme de Gilles)

Sebelum topik ipar adalah maut membanjiri industri film Indonesia, seorang penulis Belgia pernah menulis cerita serupa dengan judul La Femme de Gilles. Madeleine Bourdouxhe pakai POV Elisa, ibu muda yang sedang hamil anak ketiganya dan sempat yakin kalau hidupnya sempurna. Semua sirna ketika ia mendapati tanda-tanda bahwa suaminya berselingkuh dengan adik kandung Elisa. Elisa yang kecewa menariknya menggunakan cara-cara nonkonvensional untuk membalas perbuatan dua orang terdekatnya itu.

Terbukti kamu bisa membanjiri daftar to-be-read (TBR) dengan novel klasik karya pengarang perempuan. Cara mereka menulis karakter perempuan jelas lebih akurat, dan tentu ide ceritanya pun begitu inovatif. Sudah saatnya kamu memberi mereka apresiasi lebih mulai sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team