[MADING] CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!

Hai Timmy! Kami tim Adhiswara SMK Wachid Hasyim Surabaya ingin mengajak kalian semua untuk menjaga bumi lewat karya mading digital bertajuk, "Cintai Ekosistem Eksekusi" alias CIEE. Topik yang kami angkat, pengelolaan sampah dan daur ulang. Yuk peduli lingkungan mulai dari langkah kecil, bisa dengan mengurangi sampah plastik, hemat energi, sampai berbagi inspirasi hijau, lho...!
Tim kami terdiri dari:
Guru Pembimbing: Susi Susanti, S.Pd
Penulis: Shofiatul Amelia Putri, Putri Miharum, Laila Salsabila, Mozza Nadhila Assilyah, Mutmainnah
Desainer Visual, Fotografer, Videografer: Damar Gilang Mahesa
Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2025. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.
ESSAI: LATAR BELAKANG

CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi! – Gen-Z Surabaya Mengubah Sampah Plastik Jadi Peluang
Pagi itu, udara di kawasan Mangrove Wonorejo terasa hangat. Di sela-sela suara burung dan riak ombak kecil yang memecah bibir pantai, beberapa orang muda bergerak cepat. Tangan mereka sigap memunguti plastik kresek, botol minuman, dan sisa-sisa kemasan yang tersangkut di akar mangrove. Keringat bercucuran, namun semangat mereka tidak surut. Satu per satu karung terisi, hingga total 800 kilogram sampah plastik berhasil terkumpul.
Itu bukan angka kecil. Di balik tumpukan plastik itu, tersimpan cerita tentang masalah besar yang masih membayangi kota besar seperti Surabaya—masalah yang tak hanya mengotori pemandangan, tapi juga merusak ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.
Ledakan Sampah di Kota Pahlawan
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), pada 2024 Indonesia menghasilkan 33,79 juta ton sampah, dan hampir 20 persen di antaranya adalah plastik. Di Surabaya, perhitungannya lebih konkret: 1.800 ton sampah diproduksi setiap hari oleh 3 juta penduduk tetap—bahkan bisa membengkak ketika siang hari jumlahnya mendekati 5 juta jiwa karena arus mobilitas.
Meski masyarakat sudah mulai memilah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo tetap menerima antara 1.300 hingga 1.500 ton sampah setiap hari. Angka ini adalah bukti bahwa upaya mengurangi sampah memang ada, tetapi belum cukup.
Sampah plastik, dengan sifatnya yang sulit terurai, menjadi ancaman jangka panjang. Di kawasan pesisir Surabaya, terutama Pantai Timur (Pamurbaya) dan Pantai Ria Kenjeran, masalah ini terlihat jelas. Dalam aksi “Beach Clean Up III” yang diinisiasi Komunitas Marine Buddies Surabaya bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, 580 kilogram sampah berhasil diangkut hanya dalam satu hari.
Dari Ekosistem Laut ke Tubuh Manusia
Bahaya plastik tidak berhenti pada pemandangan kumuh. Potongan kecil bernama mikroplastik kini menjadi momok baru. Menurut Kementerian Kesehatan, mikroplastik bisa masuk ke tubuh melalui udara, air, atau makanan laut, lalu mengendap di saluran pernapasan. Jika dibiarkan, endapan ini bisa memicu peradangan kronis yang berpotensi berkembang menjadi kanker atau tumor.
Bayangkan: partikel tak kasat mata itu bisa saja kini sudah ada di tubuh kita, hasil dari kebiasaan membuang plastik sembarangan dan pengelolaan sampah yang tidak optimal.
Gen-Z Menggagas Gerakan Hijau
Namun di tengah berita buruk, muncul kabar baik dari sekelompok anak muda di Wonokusumo. Mereka menamakan diri sebagai Yayasan Bina Bakti Lingkungan dan membawa sebuah misi: membuktikan bahwa sampah plastik bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang bernilai.
Program unggulan mereka, “Gerakan Hijau”, dilakukan dengan konsistensi yang mengagumkan. Setiap minggu, mereka mengumpulkan 1–2 kilogram sampah plastik dan 2–3 kilogram kardus bekas. Tak berhenti di situ, limbah cair juga dimanfaatkan menjadi eco enzym, lalu diolah menjadi sabun ramah lingkungan.
“Awalnya, saya ikut karena diajak teman,” kata Jefri, salah satu anggota komunitas, sambil tersenyum. “Tapi lama-lama saya sadar, ini bukan cuma soal membersihkan lingkungan. Dari sampah yang kami olah, saya bisa dapat pemasukan tambahan. Jadi, kami membantu bumi dan membantu diri sendiri.”
Merangkul Sekolah, Menumbuhkan Kesadaran Dini
Komunitas ini paham betul bahwa perubahan besar harus dimulai dari generasi muda. Karena itu, mereka menggandeng sekolah-sekolah, salah satunya SMK Wachid Hasyim Surabaya. Di sekolah ini, siswa-siswi diajak mengumpulkan sampah plastik di titik-titik yang sudah disiapkan. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bertugas memilah, lalu hasilnya dijual ke komunitas. Uangnya masuk ke kas sekolah, menambah motivasi siswa untuk terlibat.
Dengan pendampingan langsung dari komunitas, proses ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan rutin—ini adalah pembelajaran hidup tentang tanggung jawab, keberlanjutan, dan kolaborasi.
CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!
Di mading sekolah, terpampang tulisan besar: “CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!”. Slogan itu menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah atau orang dewasa, melainkan tugas semua kalangan.
Gen-Z, yang sering dilabeli sebagai generasi digital, membuktikan bahwa mereka juga bisa menjadi generasi peduli. Dari aksi di pesisir hingga program di sekolah, langkah-langkah kecil itu, jika dilakukan secara konsisten, akan menjadi gelombang besar yang membawa perubahan nyata.
Karena pada akhirnya, menyelamatkan bumi bukan soal siapa yang memulai, tapi siapa yang mau terus melangkah.
ESSAI: KESIMPULAN

"Gen-Z dan Tantangan Sampah Plastik: Dari Ancaman Menjadi Peluang"
Permasalahan sampah plastik di Indonesia, khususnya di Surabaya, masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 33,79 juta ton sampah, dengan 19,75 persen di antaranya merupakan sampah plastik.
Angka ini menunjukkan betapa besarnya beban lingkungan akibat plastik yang sulit terurai. Di Surabaya sendiri, jumlah sampah harian bisa mencapai 1.800 ton, meskipun upaya pemilahan di rumah telah menekan angka yang masuk ke TPA Benowo menjadi 1.300–1.500 ton per hari.
Dampak sampah plastik tidak hanya dirasakan di daratan, tetapi juga mengancam ekosistem pesisir. Temuan Yayasan Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) menunjukkan bahwa kawasan mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) telah tercemar, dengan aksi bersih pantai di Wonorejo berhasil mengumpulkan 800 kilogram sampah plastik. Hal serupa juga terjadi di Pantai Ria Kenjeran, di mana kegiatan “Beach Clean Up III” oleh Marine Buddies Surabaya dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Unair mengangkat 580 kilogram sampah. Pencemaran ini berpotensi menghambat pertumbuhan mangrove, mengganggu habitat biota laut, dan menurunkan kualitas lingkungan pesisir.
Bahaya sampah plastik semakin kompleks dengan adanya mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia. Menurut Kementerian Kesehatan, mikroplastik dapat menetap di saluran pernapasan dan menimbulkan peradangan kronis yang berpotensi memicu kanker atau tumor. Ancaman ini menjadikan pengelolaan sampah bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan publik.
Meski demikian, harapan tetap ada. Generasi muda, khususnya Gen-Z, mulai menunjukkan kepedulian yang nyata terhadap isu ini. Salah satu contoh adalah Yayasan Bina Bakti Lingkungan di Wonokusumo, Surabaya, yang menggagas program “Gerakan Hijau”. Setiap minggu, mereka mengumpulkan 1–2 kilogram sampah plastik dan 2–3 kilogram kardus bekas, serta memanfaatkan limbah cair untuk membuat eco enzym yang diolah menjadi sabun ramah lingkungan. Program ini membuktikan bahwa kreativitas dapat mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi dan edukasi.
Aksi positif ini berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Jika sebelumnya sampah dianggap sebagai limbah tak berguna, kini semakin banyak yang menyadari potensi ekonominya. Bagi anggota komunitas, seperti yang diungkapkan Jefri, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberikan tambahan pemasukan.
Selain bergerak di lingkungan masyarakat, komunitas ini menjalin kerja sama dengan sekolah, seperti SMK Wachid Hasyim Surabaya. Melalui OSIS, siswa dilibatkan dalam pengumpulan, pemilahan, dan penjualan sampah yang hasilnya digunakan untuk menambah kas sekolah. Pendampingan dari komunitas membuat kegiatan ini berkelanjutan dan edukatif, sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab lingkungan sejak dini.
Melalui inisiatif-inisiatif ini, pesan penting yang ingin disampaikan adalah bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau orang dewasa, tetapi kewajiban bersama. Gen-Z, sebagai generasi perubahan, memiliki peran strategis untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan, jika konsisten, akan memberikan dampak besar di masa mendatang.
Dengan semangat “CIEE: Cintai Ekosistem, Eksekusi!”, pengelolaan sampah plastik dapat menjadi gerakan kolektif yang membawa perubahan. Harapannya, kesadaran ini akan terus berkembang, sehingga bumi dapat kembali asri, sehat, dan lestari untuk generasi berikutnya.
INFOGRAFIK

Dari tantangan sampah plastik jadi peluang lewat aksi nyata dan edukasi berkelanjutan. Kolaborasi hebat sekolah, komunitas, dan program kreatif membuktikan bahwa langkah kecil berdampak besar. Dengan semangat “CIEE – Cintai Ekosistem, Eksekusi!” Menjaga lingkungan itu bukan pilihan, tapi tanggung jawab bersama demi masa depan hijau.
RUBRIK DISKUSI: INFOGRAFIK PERTAMINA

Pemerintah daerah punya peran penting banget buat ngurangin emisi karbon. Caranya? Dengan kelola sampah lebih ramah lingkungan lewat fasilitas daur ulang. Sampah organik pun bisa diubah jadi kompos atau biogas—nggak cuma berkurang, tapi juga jadi energi alternatif!
RUBRIK DISKUSI: INFOGRAFIK PERTAMINA

Selain itu, ada juga Biosolar B35 yang siap dukung energi bersih. Tapi ingat, distribusinya harus merata sampai pelosok, biar semua orang bisa ikutan beralih ke energi hijau dan bumi makin sehat
FOTO BERCERITA

Hai timmy, penasaran nggak gimana serunya kita bikin mading digital?
Pertama, kita nongkrong bareng dulu buat brainstorming ide keren.
Abis itu lanjut riset biar datanya nggak asal-asalan, plus turun langsung ke lokasi biar konsepnya makin dapet vibes-nya.
FOTO BERCERITA

Setelah itu, kita langsung cek lapangan biar konsepnya nggak ngawang, tapi benar-benar terasa nyata. Sentuhan akhir, kita poles deh. Kemudian diunggah dong. Taraaaa, akhirnya resmi tayang!
Lewat mading digital ini, tim Adhiswara SMK Wachid Hasyim Surabaya membuktikan kalau peduli bisa kita lakukan dengan cara yang sederhana.
Timmy, jangan pernah anggap langkah kecilmu tidak berarti. Mulai dari hal sederhana—seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah, dan mendaur ulang—semua itu adalah kontribusi nyata untuk bumi kita tercinta. Bayangkan, kalau setiap timmy melakukan kebiasaan baik ini setiap hari, betapa besar dampaknya bagi masa depan bumi.
Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi? Yuk, bersama-sama kita buktikan kalau kepedulian itu sederhana tapi bermakna. Jadi, timmy... siapkah kamu jadi bagian dari gerakan menjaga bumi, mulai dari hari ini?