Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Metode Bloom Taxonomy Bantu Tingkatkan Efektivitas Belajar, Cobain!
ilustrasi belajar (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Bloom taxonomy adalah kerangka tujuan pendidikan yang dikembangkan pada 1949–1953 untuk mengelompokkan dan mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik secara bertahap.
  • Enam tingkatannya berurutan dari remember, understand, apply, analyze, evaluate, hingga create; setiap level menjadi fondasi sebelum peserta didik melanjutkan ke kemampuan yang lebih kompleks.
  • Pendekatan ini membantu pendidik menyusun pembelajaran efektif, sementara peserta didik dapat menerapkan pengetahuan, berpikir kritis, mengevaluasi argumen, serta menghasilkan ide atau solusi baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah mendengar istilah bloom taxonomy? Jika belum, ini saat yang tepat untuk mengenalnya. Bloom taxonomy merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk mengelompokkan tujuan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Konsep ini dikembangkan oleh sebuah komite pendidik melalui serangkaian konferensi yang berlangsung pada 1949 hingga 1953.

Bloom taxonomy menggambarkan proses belajar sebagai tahapan yang bertingkat, mulai dari kemampuan berpikir paling dasar hingga yang paling kompleks. Model ini sering diilustrasikan dalam bentuk tangga atau piramida, di mana setiap tingkatan menjadi fondasi bagi level berikutnya. Dengan memahami setiap tahapannya, pendidik dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif sekaligus membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir secara bertahap. Lantas, apa saja enam tingkatan dalam bloom taxonomy?

1. Remember level

Ilustrasi fokus mengingat materi (pexels.com/Julia M Cameron)

Tahap pertama dalam bloom taxonomy adalah remember atau mengingat. Pada level ini, peserta didik diharapkan mampu mengenali serta mengingat kembali informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Fokus utamanya adalah menghafal fakta, konsep, istilah, maupun informasi dasar yang menjadi fondasi sebelum memasuki tahapan belajar berikutnya.

"Pada tingkat terendah taksonomi, peserta didik mengenali dan mengingat informasi yang telah mereka pelajari. Tingkat ini berfokus pada menghafal informasi dan mengingat konsep serta fakta yang telah dipelajari," ungkap Kendra Cherry, penulis dan konsultan pendidikan, dikutip dari Verywell Mind.

Kemampuan mengingat menjadi langkah awal dalam proses belajar. Setelah peserta didik mampu menguasai informasi dasar, mereka akan lebih siap untuk memahami materi secara lebih mendalam pada tahap berikutnya.

2. Understand level

Ilustrasi belajar memahami materi (Pexels.com/George Milton)

Setelah mampu mengingat informasi, peserta didik memasuki tahap understand atau memahami. Pada level ini, mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk menginterpretasikan, mengklasifikasikan, menarik kesimpulan, hingga menjelaskan suatu materi dengan kata-kata sendiri.

Aktivitas pembelajaran pada tahap ini dapat berupa merangkum materi, menjelaskan kembali konsep, atau menyajikan informasi dalam konteks yang berbeda. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya sehingga pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

3. Apply level

ilustrasi belajar (pexels.com/RDNE Stock project)

Tahap selanjutnya adalah apply atau menerapkan. Pada level ini, peserta didik mulai menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi situasi baru.

Sebagai contoh, mereka dapat menerapkan konsep yang dipelajari di kelas untuk menyelesaikan studi kasus atau mengerjakan tugas yang berbeda dari contoh sebelumnya. Kemampuan ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menggunakannya dalam praktik.

"Pada level 'penerapan' (application) ini melibatkan langkah lanjutan dari sekadar mempelajari informasi, yaitu menerapkannya dalam situasi nyata di tempat kerja. Peserta didik diharapkan menunjukkan pemahaman mereka dengan cara memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas secara mandiri," jelas Vasupradha Srinivasan, analis utama di Forrester, dikutip dari Whatfix.

4. Analyze level

Ilustrasi analisis (pexels.com/Lukas)

Level berikutnya adalah analyze atau menganalisis. Pada tahap ini, peserta didik mampu menguraikan informasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memahami hubungan antarkomponen. Mereka juga mulai membandingkan, membedakan, serta mengidentifikasi pola yang terdapat dalam suatu informasi.

Kemampuan menganalisis membantu peserta didik melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, mereka tidak hanya memahami isi materi, tetapi juga mampu mengetahui alasan, hubungan, dan struktur yang membentuk informasi tersebut.

5. Evaluate level

ilustrasi evaluasi, analisis, berpikir (magnific.com/DC Studio)

Setelah mampu menganalisis informasi, peserta didik memasuki tahap evaluate atau mengevaluasi. Pada level ini, mereka diharapkan mampu menilai kualitas suatu informasi, gagasan, maupun argumen berdasarkan kriteria tertentu.

Tahap evaluasi juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat yang logis, serta mempertahankan argumen dengan bukti yang relevan. Kemampuan ini menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan maupun memecahkan berbagai persoalan.

6. Create level

Ilustrasi komputer (pexels.com/Kevin Ku)

Create atau menciptakan merupakan tingkatan tertinggi dalam bloom taxonomy. Pada tahap ini, peserta didik mampu memanfaatkan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari untuk menghasilkan ide, konsep, atau solusi yang baru dan orisinal.

Level ini tidak hanya mendorong kreativitas, tetapi juga kemampuan menggabungkan berbagai informasi menjadi sebuah karya atau gagasan yang memiliki nilai. Melalui tahap create, peserta didik diharapkan mampu menghasilkan inovasi berdasarkan pemahaman yang telah dibangun sejak level-level sebelumnya.

Bloom taxonomy menjadi salah satu model pembelajaran yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir secara bertahap. Dengan melewati setiap level, mereka tidak hanya mampu mengingat atau memahami materi, tetapi juga dapat menerapkannya, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan ide-ide baru. Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih efektif sekaligus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article