Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sudah Inklusifkah Kampusmu? Ini 7 Fasilitas yang Harus Ada
ilustrasi orang sedang menatap layar laptop (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Artikel menyoroti pentingnya kampus inklusif yang menjamin akses setara bagi semua mahasiswa, termasuk difabel, melalui penyediaan fasilitas fisik dan dukungan akademik yang ramah disabilitas.
  • Tujuh fasilitas utama kampus inklusif meliputi guiding block, ramp, lift ramah difabel, toilet khusus, parkir strategis, komputer dengan fitur aksesibilitas, serta sistem dukungan akademik adaptif.
  • Tujuan utama fasilitas tersebut adalah menciptakan lingkungan belajar aman dan setara tanpa diskriminasi agar setiap mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Inklusif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti termasuk atau terhitung di dalamnya. Dilansir laman Halodoc, dalam konteks sosiologi dan kesehatan, inklusif berarti pendekatan yang berusaha meniadakan hambatan bagi setiap orang untuk berpartisipasi secara penuh dalam segala aspek kehidupan.

Dalam konteks pendidikan tinggi, konsep kampus inklusif berarti kampus yang terbuka terhadap segala macam perbedaan serta menjamin ruang aman dan setara bagi mahasiswanya. Konsep ini dapat tercermin dalam fasilitas yang disediakan oleh kampus. Fasilitas yang disediakan oleh kampus inklusif harus aksesibel dan menjamin hak-hak mahasiswa tanpa diskriminasi, termasuk mahasiswa difabel. Berikut sejumlah fasilitas penting yang wajib ada untuk mahasiswa difabel.

1. Guiding block sebagai jalur pemandu mahasiswa disabilitas netra

guiding block di trotoar (pexels.com/Eren Li)

Guiding block itu bukan pajangan atau hiasan. Bagi teman disabilitas netra, fasilitas ini amat penting guna memandu jalan dan arah mereka. Fasilitas ini berupa ubin berbentuk garis atau bulat dengan tekstur menonjol yang umumnya berwarna kuning. Warna guiding block harus mencolok dan berbeda dengan warna ubin di sekitarnya.

Di ruang publik, termasuk lingkungan kampus, guiding block harus terpasang dengan benar, seperti di sepanjang koridor dan area tangga. Sebab, di banyak kasus, guiding block dipasang secara asal-asalan, terputus di tangah jalan, atau terhalang oleh objek tertentu seperti tiang listrik dan pohon.

2. Ramp sebagai jalur melandai untuk pengguna kursi roda dan kruk

ilustrasi orang menggunakan kursi roda (pexels.com/SHVETS production)

Pengguna kursi roda atau kruk tentu kesulitan untuk mengakses tangga berundak secara mandiri. Maka, fasilitas yang dapat membantu mereka adalah ramp. Ramp adalah bidang miring yang menjadi penghubung antara dua tingkat ketinggian berbeda. Nah, sama seperti guiding block yang harus memenuhi syarat pemasangan, ramp juga memiliki standar yang harus dipatuhi.

Ramp yang inklusif gak boleh dibuat terlalu curam, melainkan harus landai agar pengguna kursi roda dapat menggunakannya dengan mudah tanpa perlu menguras tenaga dan untuk menghindari risiko terjungkal. Gak hanya itu, permukaan ramp pun wajib menggunakan material yang antiselip agar gak licin. Ramp juga perlu dilengkapi dengan handrail yang kokoh untuk membantu pengguna kruk menjaga keseimbangan.

3. Passenger lift untuk mobilitas vertikal

ilustrasi orang menggunakan lift (pexels.com/cottonbro studio)

Bagi kampus yang punya gedung kuliah bertingkat, tangga berundak jelas jadi hambatan mahasiswa difabel. Oleh karena itu, passenger lift yang ramah difabel jadi fasilitas penting.

Fasilitas lift di kampus inklusif tentu gak boleh disamakan dengan lift pada umumnya. Hal-hal yang membedakan misalnya, tombol panel lift dipasang dengan posisi yang rendah agar mudah dijangkau oleh pengguna kursi roda. Kemudian, tombol lift juga dilengkapi dengan ukiran huruf braille untuk membantu mahasiswa disabilitas netra. Selain tombol braille, lift juga perlu punya fitur suara agar mahasiswa bisa mengetahui mereka sudah sampai di lantai berapa.

4. Toilet dan wastafel khusus difabel

ilustrasi orang membersihkan toilet (pexels.com/www.kaboompics.com)

Fasilitas yang gak kalah penting adalah toilet. Kampus yang inklusif harus menyediakan toilet inklusif juga, toilet yang memudahkan teman difabel mengaksesnya. Toilet kampus konvensional biasanya punya ruangan yang sempit. Nah, toilet khusus difabel haru didesain dengan ruang yang lapang agar kursi roda bisa masuk dan berputar dengan leluasa. Salah satu cara untuk memaksimalkan ruang ialah dengan menggunakan pintu geser atau sliding door.

Kemudian, pegangan tangan di dinding atau grab bar wajib dipasang di posisi yang strategis, seperti di samping kloset dan wastafel. Lantai toilet pun wajib menggunakan material yang bertekstur antiselip agar gak licin. Begitu pula dengan wastafel yang dipasang rendah sehingga memudahkan akses pengguna kursi roda.

5. Parkir khusus difabel yang strategis

ilustrasi simbol area parkir (pexels.com/Caleb Oquendo)

Yang membedakan parkir khusus difabel dengan parkir konvensional bukan hanya ada di letaknya, tapi juga ukuran lahan dan marka. Parkir khusus difabel tentu harus berlokasi dekat dengan akses gedung utama. Hal ini bertujuan agar jarak tempuh bisa dipangkas dan mahasiswa disabiltas pun bisa menghemat energinya untuk memasuki area penting kampus. Ukuran lahan parkir khusus difabel harus dibuat lebih luas. Ruang sela di sisi kendaraan penting agar mahasiswa difabel leluasa saat turun dan berpindah.

6. Komputer khusus difabel

ilustrasi orang menatap layar laptop (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Dalam kampus inklusif, komputer khusus difabel juga peru disediakan. Sebab, komputer merupakan teknologi penunjang pembelajaran yang penting bagi mahasiswa. Sejumah fitur khusus penunjang pada komputer khusus difabel ini seperti screen reader atau pembaca layar dan braille keyboard.

7. Dukungan akademik

ilustrasi kelompok belajar (pexels.com/Zen Chung)

Fasilitas gak hanya berbentuk infrastruktur seperti jalan atau lainnya ya, tapi juga akses terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Nah, kampus inklusif perlu menyediakan sistem dukungan akademik yang adaptif terhadap difabel. Beberapa di antaranya seperti menyediakan format e-book yang mudah diakses dan kurikulum yang fleksibel. Metode ujian dan pengerjaan tugas tentu perlu disesuaikan agar gak menghambat teman difabel melakukan pembelajaran dan perkuliahan.

Hal yang perlu diingat adalah fleksibilitas ini gak berarti mengurangi standar kualitas kelulusan ya, melainkan memberi kesempatan yang adil kepada semua mahasiswa agar bisa mencapai potensi dirinya secara optimal.

Yuk, wujudkan kampus yang inklusif! Jadikan ruang akademis sebagai ruang yang aman dan setara. Sebab, pendidikan adalah hak setiap warga negara tanpa terkecuali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article