Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Kadang Tidak Tahu Harus Bereaksi Apa pada Kabar Buruk?

Kenapa Kita Kadang Tidak Tahu Harus Bereaksi Apa pada Kabar Buruk?
ilustrasi kabar buruk (pexels.com/RDNE Stock project)
Share Article

Mendengar kabar buruk tidak selalu membuat kita langsung tahu harus berkata atau melakukan apa. Kadang mulut hanya bisa mengucapkan, “Serius?” atau “Ya ampun,” lalu obrolan berhenti karena kita sendiri masih berusaha memahami kabar yang baru saja didengar.

Reaksi seperti itu bukan berarti kita tidak peduli, apalagi tidak punya perasaan. Yuk, lihat kenapa kebingungan seperti ini sebenarnya cukup wajar ketika kita mendengar kabar buruk.

  1. 1. Kabar buruk kadang datang tanpa kita duga

    ilustrasi kabar buruk
    ilustrasi kabar buruk (pexels.com/SHVETS production)

    Kita bisa saja sedang ngobrol santai dengan teman, lalu tiba-tiba dia bercerita bahwa keluarganya sedang sakit atau baru kehilangan seseorang. Kabar seperti itu tentu berbeda dengan cerita soal pekerjaan, rencana akhir pekan, atau hal-hal lain yang biasa dibicarakan. Wajar kalau kita butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja didengar.

    Karena kaget, respons pertama yang keluar pun sering sangat sederhana. Kita mungkin cuma bertanya, “Kapan kejadiannya?” atau memastikan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Tidak perlu memaksakan kalimat yang terdengar bijak kalau memang belum tahu harus berkata apa.

  2. 2. Kita takut salah bicara

    ilustrasi salah bicara
    ilustrasi salah bicara (pexels.com/Keira Burton)

    Ketika seseorang sedang mengalami sesuatu yang berat, kita sering berhati-hati memilih kata. Mau bertanya lebih jauh takut membuatnya semakin sedih, tetapi kalau hanya diam juga terasa seperti tidak peduli. Akhirnya, kita malah bingung sendiri dan percakapan jadi terasa canggung.

    Dalam keadaan seperti ini, ucapan sederhana justru sudah cukup. “Aku ikut sedih dengarnya,” “Kamu gak apa-apa?” atau “Kalau butuh teman cerita, bilang saja” terdengar biasa, tetapi bisa menjadi bentuk perhatian yang nyata. Kita tidak harus punya jawaban untuk menyelesaikan masalah orang lain.

  3. 3. Tidak semua kabar buruk membutuhkan reaksi yang berlebihan

    ilustrasi reaksi orang lain
    ilustrasi reaksi orang lain (pexels.com/Liza Summer)

    Ada kabar yang memang membuat kita sedih, tetapi tidak selalu harus diikuti tangisan atau kata-kata panjang. Ketika mendengar teman gagal mendapatkan pekerjaan, misalnya, kita mungkin merasa kasihan sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. Cukup mendengarkan ceritanya dan mengakui bahwa situasinya memang tidak mudah sudah termasuk respons yang wajar.

    Begitu juga ketika seseorang sedang bercerita tentang masalah keluarga atau persoalan pribadi. Kita tidak harus buru-buru memberikan nasihat. Kadang orang hanya ingin didengarkan tanpa dipotong dengan kalimat seperti “harusnya kamu...” atau “coba lihat sisi positifnya.”

  4. 4. Reaksi kita bisa berbeda dengan orang lain

    ilustrasi reaksi
    ilustrasi reaksi (pexels.com/Alex Green)

    Dua orang yang mendengar kabar yang sama belum tentu menunjukkan reaksi yang sama. Ada yang langsung bertanya banyak hal, ada yang lebih banyak diam, sementara yang lain mungkin baru menunjukkan kesedihannya setelah beberapa waktu. Tidak ada satu cara yang harus dilakukan semua orang ketika menerima kabar buruk.

    Kita juga tidak perlu memaksakan ekspresi tertentu supaya dianggap peduli. Kalau memang kaget, bilang saja bahwa kita kaget. Kalau sedih, sampaikan bahwa kita ikut sedih. Respons yang jujur dan sewajarnya justru lebih manusiawi daripada memaksakan kata-kata yang terdengar bagus tetapi tidak benar-benar mewakili perasaan kita.

  5. 5. Kita tidak harus selalu tahu apa yang harus dilakukan

    ilustrasi bingung
    ilustrasi bingung (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Kabar buruk kadang membuat kita ingin membantu, tetapi tidak tahu bantuan seperti apa yang dibutuhkan. Mau datang takut mengganggu, mau menelepon takut orang tersebut sedang ingin sendiri, sementara menawarkan bantuan juga kadang terasa canggung. Dalam situasi seperti ini, kita boleh bertanya langsung daripada sibuk menebak-nebak.

    “Sekarang kamu butuh ditemani atau mau sendiri dulu?” bisa menjadi awal yang sederhana. Kalau dia membutuhkan sesuatu, kita bisa membantu sebatas kemampuan yang ada. Kalau ternyata dia hanya ingin waktu sendiri, kita juga bisa menghargainya sambil tetap memberi tahu bahwa kita siap kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.

    Kita tidak selalu punya kalimat yang tepat setiap kali mendengar kabar buruk. Kadang yang keluar hanya beberapa kata sederhana, kadang kita memilih diam karena masih mencoba memahami keadaan. Selama kita tidak sengaja meremehkan kesedihan orang lain, respons yang jujur dan sewajarnya tetap merupakan bentuk kepedulian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More