Ilustrasi perempuan (magnific.com/katemangostar)
Anak yang terbiasa dibandingkan bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit merasa puas dengan pencapaiannya sendiri. Meski sudah berhasil, mereka masih merasa kurang karena terbiasa melihat pencapaian orang lain sebagai ukuran. Kebiasaan ini bisa terbawa sampai dewasa. Misalnya, selalu merasa tertinggal ketika melihat teman lebih sukses, punya pekerjaan lebih baik, atau mencapai sesuatu lebih dulu.
Akhirnya, pencapaian yang seharusnya membanggakan justru terasa biasa saja. Padahal, setiap anak punya kemampuan dan proses yang berbeda. Orang tua bisa membantu dengan mengajak anak melihat perkembangan dirinya sendiri sehingga mereka belajar menghargai setiap kemajuan tanpa harus terus membandingkan diri dengan orang lain.
Membandingkan mungkin dilakukan dengan niat memotivasi, tetapi anak perlu tahu bahwa dirinya gak harus menjadi seperti orang lain untuk dianggap berhasil. Yang penting, mereka belajar mengenali kemampuan dan menghargai prosesnya sendiri.