Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tips Tetap Hadir untuk Anak meski Kerja 9 to 5 Tiap Hari

5 Tips Tetap Hadir untuk Anak meski Kerja 9 to 5 Tiap Hari
ilustrasi working parents (unsplash.com/sofatutor)
Intinya Sih

  • Artikel menyoroti tantangan orangtua yang bekerja yang sulit hadir sepenuhnya untuk anak setelah jam kerja panjang, serta pentingnya membangun koneksi emosional dalam waktu terbatas.

  • Ditekankan lima strategi utama: membuat ritual kecil konsisten, menciptakan waktu transisi dari mode kerja ke rumah, fokus pada kualitas interaksi, melibatkan anak dalam aktivitas harian, dan menjelaskan rutinitas dengan bahasa sederhana.

  • Pesan utamanya adalah bahwa kebersamaan bermakna tidak ditentukan oleh lamanya waktu, tetapi oleh kehadiran penuh dan perhatian tulus orangtua di setiap momen bersama anak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pulang kerja setelah 8 jam di kantor sangatlah melelahkan dan semua orang tahu itu. Tapi ada rasa yang lebih berat dari sekadar capek fisik, yaitu perasaan bahwa waktu bersama anak terus berkurang tanpa bisa berbuat banyak. Hari kerja terasa panjang, tapi waktu di rumah berlalu terlalu cepat.

Banyak working parents yang akhirnya terjebak di mode autopilot setelah pulang kerja. Tubuh ada di rumah, tapi pikiran masih di tempat lain dan anak-anak merasakannya meski tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Coba terapkan beberapa tips tetap hadir untuk anak meski kerja 9 to 5 tiap hari berikut ini agar waktu terasa bermakna bagi mereka.

1. Buat ritual kecil di waktu yang konsisten

ilustrasi membacakan dongeng
ilustrasi membacakan dongeng (unsplash.com/Ben Griffiths)

Anak tidak butuh waktu yang banyak, tapi butuh waktu yang bisa diandalkan, alias punya quality time. Ritual kecil seperti sarapan bersama sebelum berangkat atau 15 menit cerita sebelum tidur memberikan rasa aman yang jauh lebih besar daripada aktivitas besar seperti liburan yang jarang terjadi. Konsistensi adalah bahasa kasih sayang yang paling mudah dipahami anak usia dini.

Ritual ini tidak perlu mewah atau terencana dengan rumit. Duduk bareng sambil makan malam tanpa gadget sudah cukup untuk membangun koneksi. Kuncinya adalah kamu benar-benar hadir di momen itu, bukan sekadar ada secara fisik sambil pikiran melayang ke pekerjaan.

2. Pisahkan waktu transisi antara kerja dan rumah

ilustrasi mandi
ilustrasi mandi (unsplash.com/ Victor Furtuna)

Salah satu alasan terbesar working parents susah hadir untuk anak adalah karena mereka belum benar-benar keluar dari mode kerja saat sudah sampai di rumah. Pikiran masih memproses rapat tadi, email yang belum dibalas, atau masalah yang belum selesai. Anak yang menyambut di pintu akhirnya mendapat versi kamu yang masih setengah di kantor.

Buat jeda kecil sebelum masuk ke rumah. Bisa 10 menit duduk diam di mobil sebelum masuk, berjalan kaki sebentar, atau sekadar mandi dan mengganti baju sebagai tanda perpindahan peran. Transisi yang disengaja membantu otak beralih dan membuat kamu lebih siap untuk hadir sepenuhnya untuk anak.

3. Fokus pada kualitas, bukan durasi waktu

ilustrasi bermain bersama anak
ilustrasi bermain bersama anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Working parents sering terjebak rasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak. Rasa bersalah itu wajar, tapi tidak produktif kalau hanya berhenti di sana. Waktu 2 jam yang berkualitas jauh lebih berdampak dibandingkan dengan 8 jam yang dihabiskan di ruangan yang sama, tapi tanpa interaksi sama sekali, semua sibuk dengan gadget masing-masing.

Hadir secara penuh artinya kamu benar-benar memerhatikan anak, merespons apa yang mereka ceritakan, dan ikut dalam dunia mereka meski hanya sebentar. Matikan notifikasi atau aktifkan mode hening, simpan ponsel, dan biarkan anak merasakanmu benar-benar ada. Anak yang merasa diperhatikan dengan penuh di waktu singkat akan tumbuh dengan rasa aman yang lebih kuat dibanding anak yang punya banyak waktu tapi orangtuanya tidak pernah benar-benar hadir.

4. Libatkan anak dalam aktivitas sehari-hari

ilustrasi memasak bersama anak
ilustrasi memasak bersama anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Tidak semua waktu bersama anak harus berbentuk aktivitas khusus. Memasak makan malam, berbelanja kebutuhan rumah, atau membereskan rumah bisa jadi momen kebersamaan kalau anak diajak terlibat. Anak usia dini justru senang merasa berguna dan dilibatkan dalam aktivitas orang dewasa.

Ajak anak mencuci sayur, minta mereka memilih menu makan malam, atau biarkan mereka membantu melipat handuk meski hasilnya tidak rapi. Aktivitas ini melatih kemandirian anak sekaligus mengisi waktu bersama tanpa perlu mengalokasikan slot khusus yang sering sulit dicari di hari kerja. Dua hal selesai dalam satu waktu tanpa ada yang merasa dikorbankan.

5. Komunikasikan rutinitas ke anak dengan bahasa mereka

ilustrasi ngorol dengan anak
ilustrasi ngorol dengan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Anak yang lebih besar dari usia 3 tahun sudah bisa memahami konsep sederhana tentang waktu dan rutinitas. Jelaskan kepada mereka bahwa kamu pergi kerja dan akan pulang, bukan sekadar menghilang tanpa penjelasan. Anak yang mengerti aktivitas harian orangtuanya cenderung lebih tenang dan tidak cemas saat ditinggal.

Gunakan bahasa yang konkret dan mudah dipahami sesuai usia anak. Bukan "Ayah/Bunda nanti pulang, kok!" tapi "Ayah/Bunda pulang kerja setelah kamu tidur siang atau pulang sekilas." Memberikan gambaran yang jelas membuat anak merasa dihargai dan dilibatkan dalam aktivitas keluarga, bukan sekadar menunggu tanpa tahu apa yang terjadi.

Kerja 9 to 5 memang menyita sebagian besar hari, tapi tidak harus menyita koneksi kamu dengan anak. Waktu yang tersisa di pagi dan malam hari lebih dari cukup kalau digunakan dengan sebaik-baiknya. Anak-anak tidak menghitung berapa jam yang mereka habiskan bersama orangtua, tapi anak-anak mengingat momen kebersamaan yang terjalin. Oleh sebab itu, tips tetap hadir untuk anak meski kerja 9 to 5 tiap hari bisa kamu coba lakukan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Related Articles

See More