Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Masih Marah karena Gagal? Begini Cara Kamu Bisa Berdamai

Masih Marah karena Gagal? Begini Cara Kamu Bisa Berdamai
ilustrasi bersedih (pexels.com/Thượng Hy)
Intinya Sih
  • Artikel menekankan pentingnya memaafkan diri sendiri atas kegagalan agar bisa melanjutkan hidup dengan lebih ringan dan sehat secara mental.
  • Ditekankan bahwa hasil usaha tidak sepenuhnya dapat dikontrol, sehingga fokus sebaiknya pada proses dan penerimaan diri, bukan menyalahkan diri berlebihan.
  • Memaafkan diri membuka peluang untuk masa depan yang lebih positif, meninggalkan energi negatif dari kegagalan, serta menjaga kesehatan mental tetap seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kegagalan dalam hal apa yang sampai saat ini masih kuat terekam dalam memorimu? Lebih dari sekadar kamu masih mengingatnya dengan jelas. Kamu bahkan marah pada diri sendiri akibat kegagalan tersebut.

Dirimu selalu merasa bodoh, malu, dan kurang berusaha. Kegagalan itu bisa terkait cita-cita yang gak teraih, hubungan pribadi, atau apa pun yang sempat diperjuangkan olehmu. Sampai kapan kamu akan membiarkan diri berada dalam tekanan mental seperti ini?

Apa pun kepahitan yang pernah dialami, mampu memaafkan diri sangat penting. Agar kamu dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik daripada sekarang. Meski sampai saat ini dirimu merasa itu tak mungkin saking sulitnya, sebenarnya prosesnya lebih mudah. Ini mirip dengan sekadar kamu melepaskan genggaman tangan. Pahami poin-poin berikut untukmu mampu berlapang dada.

1. Gagal adalah pengalaman yang sangat umum dalam kehidupan

banyak pikiran
ilustrasi banyak pikiran (pexels.com/ABNER LOBO)

Hidup ini panjang. Dunia ini luas. Setiap orang akan mengantongi lebih dari jutaan pengalaman sepanjang hidupnya. Dari sekian banyak kejadian yang dialami sendiri, sebagiannya pasti tidak menyenangkan.

Itulah yang kemudian dilabeli sebagai kegagalan. Seperti gagal masuk kampus impian, gagal mempertahankan rumah tangga, gagal membangun bisnis, dan sebagainya. Kalau kamu selalu tidak bisa memaafkan diri, betapa banyak luka dalam hatimu.

Setiap sikapmu yang menolak memaafkan diri atas kegagalan akan menimbulkan perasaan menderita. Kamu cuma perlu menyikapi kegagalan sebagai hal yang biasa. Siapa pun pernah dan bisa kembali gagal baik dalam konteks yang sama maupun berbeda.

2. Kamu juga tidak bisa sepenuhnya mengontrol hasil usahamu

merenung
ilustrasi merenung (pexels.com/HONG SON)

Semua orang sejatinya tahu aturan ini. Dirimu berjuang mati-matian, tapi tidak pernah mampu mengatur hasilnya. Terkadang faktor keberuntungan sangat nyata. Atau, ada orang yang telah berusaha lebih keras serta lama daripada kamu.

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan sikapmu terlalu membenci diri karena kegagalan. Bahkan ketika kegagalan seolah-olah datang bertubi-tubi. Jangan seakan-akan kamu mendesak diri sendiri untuk mempertanggungjawabkan segalanya.

Ikhtiar ada di tanganmu, tetapi tidak dengan hasil akhirnya. Seandainya dirimu hanya berpangku tangan dan bemalas-malasan, jelas kamu salah. Akan tetapi, setelah kerja keras belajarlah buat menerima apa pun hasilnya. Kendalikan apa yang bisa dikendalikan olehmu lalu lepaskan selebihnya.

3. Bayang-bayang kegagalan dan rasa bersalah memberatkan langkahmu

bersedih
ilustrasi bersedih (pexels.com/Rizky Sabriansyah)

Coba akui apa yang sekarang dirasakan olehmu. Sejak kamu membenci diri karena kegagalan di masa lalu, apakah hidupmu menjadi lebih ringan? Pasti tidak dan justru sebaliknya. Setiap langkah terkecil pun terasa berat bagimu.

Itu karena kemarahan pada diri menjadi beban yang paling berat. Kamu seakan-akan bertarung dengan diri sendiri. Seperti terdapat dua entitas dalam diri. Kalian tidak kompak.

Situasinya mirip kaki kanan dan kiri yang tak lagi bersedia berjalan beriringan. Malah dirimu menjadi tidak bisa berpindah ke mana pun. Berdamailah dengan diri sendiri seperti sebelum rentetan kegagalan menimpa. Itu akan menjadi sumber kekuatanmu dalam melangkah.

4. Jangan bersikap seakan-akan kamu gak berusaha keras

tekanan mental
ilustrasi tekanan mental (pexels.com/Minh Đức)

Kamu tahu betul sudah berjuang semaksimal mungkin untuk mencapai sesuatu. Dahulu, ketika perjuangan masih gencar dilakukan, dirimu seperti satu kekuatan utuh. Motivator terbaikmu ialah diri sendiri.

Namun, setelah hasilnya tidak memuaskan, kamu seperti mengkhianati sebagian dari diri sendiri. Dengan cara kamu tidak bisa memaafkannya atas kegagalan tersebut. Kamu seakan-akan meletakkan seluruh beban dosa di pundaknya.

Waktu boleh berlalu. Akan tetapi, jangan pernah kamu seperti mengingkari betapa luar biasa usaha yang sudah dikerahkan. Bukannya membenci diri atas kegagalan, semestinya kamu justru tetap kasih apresiasi tertinggi atas kerja kerasnya. Jangan tunggu pencapaian sesuai keinginan baru diapresiasi. Itu bakal bikin jiwamu terlalu lelah.

5. Mana lebih penting, kegagalan di masa lalu atau potensi sukses di masa depan?

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Kaique Jorge)

Apa yang nantinya akan didapatkan olehmu tergantung dari apa yang paling menarik perhatianmu. Apabila kamu terus berpaling pada pengalaman gagal kemudian sulit memaafkan diri, justru berbagai bentuk kegagalan lain akan lekat ke hidupmu. Energi yang dipancarkan olehmu ialah energi kegagalan.

Energi negatif tersebut bakal menarik realitas yang sama. Sehingga kamu seakan-akan hanya berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya. Jadilah magnet untuk keberhasilan di masa depan.

Caranya, dengan kamu terlebih dahulu memaafkan diri. Lalu fokus ke masa depan. Di sana terdapat peluang yang tak terbatas untukmu mencapai kesuksesan dalam hal apa pun. Prioritaskan hal tersebut dan stop memikirkan daftar kegagalan di masa lalu.

6. Semua hal yang tidak membahagiakan pantas ditinggalkan

merenung
ilustrasi merenung (pexels.com/Vietnam Photographer)

Hidup sebenarnya simpel. Sampai kamu sendiri yang membuatnya menjadi rumit. Kamu tidak diharuskan untuk terus bertahan dalam situasi yang gak mengenakkan buatmu. Manusia selalu punya banyak pilihan. Beda dengan makhluk lain yang kemampuannya lebih terbatas.

Sebatang pohon misalnya, gak bisa pindah ke pinggir sungai walaupun tanah tempatnya tumbuh gersang bukan main. Sementara kamu sebagai manusia yang sehat jasmani dan rohani dapat secara sadar memutuskan untuk meninggalkan semua hal yang tidak menyenangkan buatmu. Tak terkecuali rasa kecewa atas berbagai kegagalan.

Ingatan tentang kejadiannya jelas tidak bisa dihapus begitu saja. Momen gagal akan tetap membekas. Namun, dirimu masih dapat meninggalkan perasaan negatif atas pengalaman tersebut jauh di belakang.

Kamu harus memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan mental diri sendiri. Apalagi di bulan Mei yang bertepatan dengan mental health awareness month. Jangan kejam pada diri sendiri dengan terus menyalahkannya atas setiap kegagalan yang dialami.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Related Articles

See More