Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Langkah Membangun Kembali Rasa Percaya Paska Dikecewakan 

5 Langkah Membangun Kembali Rasa Percaya Paska Dikecewakan
ilustrasi wanita (pexels.com/ALINE ROSENDO)

Tidak ada hubungan yang sempurna. Terkadang, kamu mengecewakan dan dikecewakan. Pengalamannya bisa berbeda-beda, tapi rasa sakitnya memberi trauma yang sama untuk kembali merasa percaya.

Meski demikian, menata ulang rasa percaya dapat menyembuhkan luka dan trauma masa lalumu. Kamu pun dapat bertumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan dewasa. Memulihkan rasa percaya paska dikecewakan dapat dimulai dengan melakukan lima langkah di bawah.

1.Menerima setiap perasaan negatif dari masa lalu dan menghadapinya

ilustrasi wanita (pexels.com/Riccardo)
ilustrasi wanita (pexels.com/Riccardo)

Sumber trauma adalah rasa sedih dan kecewa yang belum selesai dari masa lalu. Kamu kerap menyembunyikan dan mengesampingkan setiap perasaan itu dan membangun tembok tinggi. Kamu menutupi diri dengan dalih “tidak apa-apa”, padahal masih ada luka basah yang tterus disembunyikan.

Kalau kamu mau menang dari trauma masa lalu, kamu perlu menghadapi perasaanmu dengan jujur dan terbuka. Akui setiap emosi yang ada alih-alih terus menyangkalinya. Kalau terlalu sulit, kamu bisa mencari bantuan, entah pada orang terdekat, pemimpin rohani, atau konselor.

2. Evaluasi hubungan yang lama

ilustrasi wanita (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi wanita (pexels.com/cottonbro studio)

Evaluasi di sini tidak bermaksud mencari-cari kesalahan. Percaya, deh, kalau terus memelihara mentalitas korban, kamu tetap akan terus stuck di tempat yang sama. Evaluasi di sini berarti belajar dari hubunganmu yang lama, dan melihat apa yang bisa diperbaiki dari sana.

Kalau dulu, kamu sering merasa sungkan saat membangun batasan, sekarag kamu belajar untuk lebih tegas dan berani. Kalau dulu, kamu tipe people pleaser, sekarang kamu bisa lebih bijak dalam menetapkan prioritas. Ada banyak hal yang bisa dipelajari ketika kita berhasil berdamai dengan masa lalu.

3.Fokus pada perkembangan diri

ilustrasi wanita (pexels.com/Jill Burrow)
ilustrasi wanita (pexels.com/Jill Burrow)

Ketika mengalami pengkhianatan dan manipulasi dari orang lain, keadaan mentalmu pun makin jatuh. Bila diteruskan, lambat laun keadaanmu makin terpuruk. Berhenti untuk melihat hal-hal yang buruk.

Alihkan perhatian dan tenagamu untuk melakukan hal positif, terutama untuk mengembalikan kepercayaan dirimu lagi. Kelilingi diri dengan orang-orang positif yang mendukungmu, lakukan hal yang kamu sukai. Lambat laun, kamu akan menemukan dirimu lagi.

4.Beri waktu untuk penyembuhan

ilustrasi wanita (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi wanita (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Hal yang menghambat proses penyembuhan adalah ketika kamu kerap menyangkal luka. Walau dari luar kelihatannya baik-baik saja, sebenarnya kamu masih terluka.

Tidak apa-apa untuk mencari bantuan profesional ketika kamu benar-benar membutuhkannya. Beri waktu istirahat dari pekerjaan dan kesibukan, entah liburan, mengelilingi diri dengan orang terdekat, dan masih banyak lagi.

5.Berhenti menggenaralisasi semua orang

ilustrasi wanita (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi wanita (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Trauma membuat kita sulit untuk percaya pada orang lain. Kita langsung menganggap sama semua orang, termasuk orang baru. Tanpa berusaha untuk mengenal orang itu lebih dalam, kamu menutup diri dan membangun benteng dari orang lain.

Hal ini sebenarnya menutup kesempatanmu untuk membangun relasi dengan orang baru. Padahal, tidak semua orang bisa dipukul rata seperti itu.

Tidak mudah memulihkan rasa percaya yang telah rusak. Tapi, bukan berarti mustahil. Justru ini adalah peluang untukmu bisa bertumbuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Caroline Graciela Harmanto
EditorCaroline Graciela Harmanto
Follow Us