Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Manfaat Sastra bagi Anak Muda Urban, Sudahkah Kamu Membaca?

5 Manfaat Sastra bagi Anak Muda Urban, Sudahkah Kamu Membaca?
ilustrasi orang sedang membaca (pexels.com/Jini Phm)
Intinya Sih
  • Sastra menawarkan ruang jeda dari derasnya media sosial, membantu anak muda urban menenangkan pikiran melalui novel, puisi, atau cerpen tanpa distraksi notifikasi.
  • Membaca sastra melatih empati lewat beragam karakter dan latar belakang, sekaligus memperkaya kosakata, kemampuan menganalisis, serta sikap kritis terhadap informasi.
  • Karya sastra dapat menjadi media refleksi untuk menemukan jati diri dan memahami nilai lintas generasi, sambil memperkuat pelestarian budaya serta kearifan lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menjalani keseharian pada era sekarang, semua bisa cepat kilat. Untuk berkomunikasi pun tinggal membuka ponsel sudah langsung terhubung. Terlebih lagi, bagi anak muda, media sosial jadi bagian dalam kesehariannya. Bangun tidur saja sudah langsung membuka ponsel untuk membaca notifikasi pada media sosialnya.

Di tengah ini semua, apakah perlu rehat sebentar sambil bertanya dalam hati, adakah sesuatu yang kurang? Ya, bisa jadi jawabannya ada pada sastra. Sastra bisa menjadi kebutuhan bagi anak muda urban di tengah riuhnya aktivitas media sosial.

1. Sebagai ruang hening untuk dapatkan kembali ketenangan

ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/cottonbro)

Bagi kalangan muda yang begitu asyiknya bermain media sosial bahkan ketika waktunya jeda pun tetap dilakukan, tentu banyak informasi yang diserap sehari-hari. Ada yang sekadar mencari informasi hiburan, gosip, sampai urusan drama percintaan. Saking banyaknya sampai lupa waktu, bahkan memprosesnya secara bijaksana untuk memilih dan memilah pun kerap diabaikan. Ketika penat dirasakan, stres menumpuk, sastra bisa jadi penyelamat agar diri kembali rileks.

Salah satunya ketika ada waktu luang untuk membaca karya sastra seperti novel, membaca bait indah dalam puisi, atau menikmati bacaan cerpen yang diajak masuk dalam kehidupan dimensi berbeda sesuai alur pengarangnya. Kebisingan yang semula membuat penak, bisa teralihkan ke imajinasi yang menyenangkan. Saat membaca sebuah karya sastra, alangkah baiknya mematikan dulu notifikasi lain yang kemungkinan jadi distraksi. Dengan begitu, pikiran kembali segar sembari merenungkan narasi dalam cerita yang memotivasi.

2. Membantu diri melatih berempati dalam memahami sudut pandang berbeda

ilustrasi orang mendengarkan (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi orang mendengarkan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dengan segala algoritmanya, media sosial menghubungkan interaksi dengan hal serupa yang paling banyak diikuti. Ketika mampu menyeimbangkan dengan kegiatan lain secara langsung di dunia nyata, maka membantu kita untuk memahami berbagai perspektif manusia. Memiliki hobi dalam bersastra juga jadi jembatan sekaligus cara mengasah diri agar punya empati, terutama ketika menghadapi perbedaan sudut pandang.

Saat terus konsisten menekuni hobi menikmati karya sastra, maka juga melatih diri untuk gak gampang menghakimi orang lain, apalagi saat ada perbedaan. Memahami berbagai karakter yang diceritakan, latar belakangnya, itu mengajak seseorang untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal tersebut mengajarkan untuk bagaimana memahami yang orang lain rasakan yang biasa disebut dengan empati.

Empati bagian dari diri yang penting untuk dilatih, apalagi bagi anak muda urban yang kesehariannya ada di lingkungan beragam. Sastra mampu membuka mata hingga hati yang bikin seseorang makin bijaksana ketika berinteraksi dengan sesama makhluk.

3. Ruang belajar menambah kosakata hingga mengasah kemampuan berpikir kritis

ilustrasi sekelompok orang berkumpul dan berbicara (pexels.com/Peter Kambey)
ilustrasi sekelompok orang berkumpul dan berbicara (pexels.com/Peter Kambey)

Bahasa yang digunakan di media sosial itu simpel, bahkan kerap banyak singkatannya, dan itu oke saja. Namun, kalau itu jalan yang dijadikan satu-satuya untuk belajar bahasa, maka lama-lama kemampuan seseorang untuk merangkai kalimat bermakna indah sekaligus ada jiwanya akan lama bertumbuhnya.

Sastra itu sebagai gudangnya bahasa. Penulisnya kerap menggunakan variasi diksi beragam, strukturnya juga macam-macam. Maka, dengan rajin membaca karya sastra, secara otomatis juga bisa menambah perbendaharaan kata. Tak hanya itu, semakin ditekuni lagi membaca sambil menikmatinya, maka kemampuan menganalisis, menafsirkan kalimat demi kalimat, hingga menemukan makna tersembunyi juga kian meningkat.

Karya sastra mampu mengasah seseorang memahami sebuah informasi dengan tenang, sehingga gak mudah menelan mentah begitu saja ketika diberi tahu informasi yang belum jelas kebenarannya.

4. Membantu menemukan jati diri sambil bertahap berefleksi

ilustrasi refleksi diri sebelum tidur (pexels.com/Thiha Soe)
ilustrasi refleksi diri sebelum tidur (pexels.com/Thiha Soe)

Kehidupan anak muda perkotaan kerap diwarnai dengan pencarian jati diri. Fase ini memang memunculkan dorongan untuk tampil terus sempurna ikut tren yang lagi viral. Ada bagusnya ketika mampu menyeimbangkan, namun jika kondisi diri belum mumpuni tapi ingin memaksakan, maka repot sendiri. Bahkan, saat semua sulit terkendali, bisa bikin seperti kehilangan jati diri.

Sastra bisa jadi cermin melihat diri secara lebih jujur. Pernah sampai selesai membaca sebuah novel? Ada banyak karakter di dalam ceritanya yang memiliki perjuangan berbeda. Melalui pemahaman maknanya, itu bisa membuat seseorang menemukan sesuatu yang sefrekuensi dengan dirinya. Ketika itu mulai dirasakan, maka gak lagi merasa sendirian berjuang dalam hidup ini. Bahkan, inspirasi tersebut bisa membantu seseorang bertahap menemukan versi dirinya yang terbaik. Sastra jadi ruang aman dan nyaman untuk melakukan refleksi diri tanpa perlu mengkhawatirkan komentar miring atau dihakimi.

Jadi jembatan untukmu membangun fondasi diri yang semakin tangguh, gak sebatas identitas diri yang dibangun lewat validasi berdasarkan like maupun komentar saja.

5. Juga sebagai pelestarian budaya

ilustrasi sebuah percakapan antara dua orang (pexels.com/arvi refo)
ilustrasi sebuah percakapan antara dua orang (pexels.com/arvi refo)

Jika diamati, tren perkembangan media sosial cepat sekali datang dan pergi, apalagi terkait hal viral hari ini, bisa jadi beberapa minggu kemudian sudah dilupakan massa. Uniknya sastra, itu punya daya tarik yang kuat dan bertahan lama.

Sebagai contoh, karya sastra kerap mengangkat tema-tema yang tetap relevan dari zaman ke zaman seperti romansa, perjuangan, kemanusiaan, hingga keadilan. Ketika mau menikmati karya sastra tersebut, anak muda di perkotaan bisa belajar tentang caranya agar terhubung dengan pola pikir dan pengalaman generasi sebelum mereka. Bisa memahami seperti apa nenek moyang memandang dunia, cara mereka menjalani keseharian, hingga nilai-nilai baik yang mereka miliki.

Bisa bernostalgia sekaligus menguatkan fondasi pelestarian budaya pada masa yang terus banyak perubahan. Sastra jadi ruang yang menghubungkan kehidupan sebelumnya, sekarang, dan yang akan datang. Semangat berliterasi sambil menjaga kearifan lokal.

Nah, bagaimana setelah menyimak beberapa penjelasan tadi bahwa anak muda urban ternyata juga perlu sastra? Ada banyak penawaran baiknya ketika mau meluangkan waktu untuk jeda sejenak sambil menikmati karya sastra yang sesuai minat. Rileks sejenak di tengah padatnya rutinitas media sosialmu. Dalam sehari ada 24 jam, luangkan waktu membaca minimal 15 sampai 30 menit saja secara rutin, maka pikiran lebih fresh, sekaligus membantumu kembali menemukan arti hidup sebagai manusia sejati.

Yuk, coba beri ruang jeda untukmu bersastra dan rasakan sendiri perbedaannya. Kalau sudah menemukan karya yang cocok, di antara lembaran buku atau bacaannya, kamu bisa benar-benar merasakan kebahagiaan yang bahkan sulit diungkapkan, namun begitu lancar hati mensyukuri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More