Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Orang Suka Bikin Pesimis? Lawan dengan Keteguhanmu

Kenapa Orang Suka Bikin Pesimis? Lawan dengan Keteguhanmu
ilustrasi percakapan (pexels.com/Vitaly Gariev)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti bagaimana pesimisme bisa menular dari orang sekitar dan memengaruhi keyakinan diri seseorang, membuat optimisme yang sudah dibangun mudah runtuh.
  • Dijelaskan bahwa penyebab orang membuat orang lain pesimis bisa karena sifatnya sendiri yang negatif, rasa iri terhadap keberhasilan, atau pengalaman buruk yang digeneralisasi.
  • Tidak semua ucapan bernada pesimis bermaksud buruk; sebagian justru bertujuan agar seseorang lebih waspada dan mampu mengantisipasi risiko sebelum mengambil langkah besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hidup akan terasa jauh lebih berat kalau dihadapi dengan pesimisme. Setiap hari kamu tidak bisa lepas dari kekhawatiran hingga putus asa, bahkan sebelum memulai. Pikiranmu lebih fokus ke kemungkinan-kemungkinan terburuk daripada terbaik. Perasaan pun otomatis terpengaruh dan menjadi mendung.

Masalahnya, pesimisme tidak semata-mata dapat muncul dari dalam diri. Ada juga rasa pesimis yang ditanamkan oleh orang di sekitarmu. Baik itu saudara atau teman. Setiap dirimu mendengar perkataannya, keyakinan akan sesuatu segera memudar.

Optimisme yang telah dibangun olehmu dalam diri bisa runtuh seketika. Padahal, sebenarnya rasa percaya dirimu memiliki dasar yang kuat. Akan tetapi, embusan pesimisme dari orang lain tetap dapat menggoyahkan keyakinan. Kira-kira, kenapa dia tega bikin pesimis?

1. Dia sendiri tipe orang yang pesimis

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/cottonbro studio)

Orang dengan sikap pesimistis sama dengan menyimpan energi negatif yang besar. Daya tularnya jauh lebih cepat daripada orang dengan optimisme atau pemilik energi positif. Seperti orang yang sakit butuh waktu cukup lama buat sembuh.

Namun, orang yang sehat tetap berisiko tertular penyakit yang mudah menyebar dari manusia ke manusia. Kamu gak bisa mengharapkan teman atau saudara dengan watak pesimistis memberimu suntikan energi yang makin membuatmu optimis. Dia akan selalu bekerja dengan cara sebaliknya.

Bahkan tanpa ia benar-benar menyadari, setiap ucapannya mengacaukan fokus dan keyakinanmu untuk berhasil. Bila ada orang pesimis di sekitarmu, menjaga jarak darinya lebih baik. Kalaupun itu sulit, selalu ingatkan diri bahwa karakternya memang begitu. Kamu tak perlu menjadi seperti dirinya.

2. Kamu terlihat mudah ragu dan dipengaruhi

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Dalam poin pertama, orang pesimis menularkan pesimismenya padamu tanpa kesengajaan. Ia otomatis saja menyebarkan pesimisme kepada siapa pun yang ada di dekatnya. Sementara pada poin ini, ada usaha yang disadari dari seseorang untuk bikin optimismemu berubah menjadi pesimisme.

Namun, dia melakukannya bukan tanpa pertimbangan atau alasan. Ia gak bakal berani sembarangan bikin siapa pun pesimis. Ia memperhatikan serta memilih targetnya. Kamu dipilih karena tampak gampang bimbang.

Itu tanda bahwa dirimu juga mudah dipengaruhi. Kalau dia berhadapan dengan orang yang pendiriannya teguh, bahkan keras kepala, tentu gentar dengan sendirinya. Ia tahu bahwa mencoba membuat orang berkarakter keras seperti itu berubah pandangan adalah kesia-siaan. Malah dia bakal didebat habis-habisan atau ucapannya sama sekali tak digubris.

3. Tidak senang melihat kemungkinan kamu akan berhasil

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/Edmond Dantès)

Kamu harus menjadi orang yang baik. Namun, jangan salah mengira bahwa kebaikanmu akan membuat semua orang menyukaimu. Dua hal tersebut bahkan sama sekali tidak berhubungan. Terkadang justru ada orang yang kurang menyukai hingga sangat membencimu karena kamu baik.

Orang yang punya penyakit hati seperti dengki tidak berharap dirimu berhasil dalam hal apa pun. Kabar buruk bagi mereka ketika melihat peluang itu ada padamu, bahkan cukup besar. Ia akan berusaha mencari cara supaya kemungkinan tersebut tidak menjadi nyata.

Salah satu caranya ialah dengan dia menghasutmu. Ia tahu tak bisa mencuri peluang keberhasilanmu secara langsung. Akan tetapi, bila dia mampu menggembosi optimismemu mungkin bakal berhasil. Optimismemu merupakan ancaman baginya.

4. Pengalamannya tentang sesuatu buruk terus lalu ia menggeneralisasi

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Sering kali orang berbicara semata-mata berdasarkan pengalamannya. Dia hanya memantulkan apa yang dialami sendiri secara berulang-ulang, kemudian disimpulkan. Contoh, kamu ingin membuka usaha sendiri di suatu bidang.

Dia sudah terlebih dahulu berkali-kali berusaha membuka usaha yang sama dan gagal. Nyaris mustahil baginya untuk membuatmu optimis dengan rencana itu. Ia bakal bilang usahamu gak akan berhasil. Perkataannya memang dapat terdengar sangat meyakinkan.

Dia bisa menyertakan alasan-alasan dan pengalamannya secara langsung. Namun, tidak berarti kamu juga pasti bakal gagal sepertinya. Saat konsep usaha dibuat dan dilaksanakan dengan lebih baik, tentu hasilnya sangat mungkin berbeda. Apalagi kamu membuat inovasi serta terus berusaha memahami kebutuhan masyarakat.

5. Dia hanya bermaksud agar kamu lebih berhati-hati dan mengantisipasi

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Maksud orang lain kadang diterima olehmu secara berbeda. Tidak semua orang pandai menyampaikan niat hati yang sesungguhnya pada orang lain melalui kalimat atau tindakan. Dapat pula kamu yang terlalu sensitif sehingga keliru mengartikan ucapannya.

Seseorang menyampaikan realitas yang bisa jadi lebih sulit daripada perkiraanmu. Kamu cepat memaknainya sebagai usaha buat bikin dirimu pesimis. Padahal, dari kenyataan tersebut dia cuma ingin kamu lebih berhati-hati.

Lakukan antisipasi yang tepat mumpung masih ada waktu. Ia tak mau hanya mengatakan hal-hal indah yang justru membuatmu terlena. Kamu bisa mengira dia sedang meracunimu dengan pesimisme. Sementara maksudnya sebetulnya baik dan ingin memperbesar peluang keberhasilanmu.

Ketika kamu merasa lebih mudah putus asa bersama orang yang bikin pesimis, ambil jarak yang cukup darinya. Biar dirimu tak lantas terpengaruh olehnya. Namun, bukan pula dirimu yang sepenuhnya mengabaikan perkataannya yang bisa menjadi hal penting untuk diwaspadai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us