"Nongkrong memberikan dukungan sosial yang penting, memungkinkan remaja untuk berbagi pengalaman dan perasaan mereka dalam lingkungan yang santai dan mendukung. Interaksi sosial yang terjadi saat nongkrong membantu mengurangi tekanan akademis dan sosial sekaligus meningkatkan kemampuan sosial dan emosional," tulis dalam jurnal tersebut.
"Nongkrong dapat menjadi cara yang efektif bagi remaja untuk mengatasi stres selama dilakukan dengan bijak dan dalam lingkungan yang positif," lanjutnya.
Kenapa Sekarang Mau Nongkrong Ngopi Aja Harus Mikir Dua Kali?

Dulu nongkrong sambil ngopi sering dianggap hal kecil yang normal dilakukan anak muda setelah pulang kerja atau kuliah. Cukup bawa uang belasan ribu, duduk beberapa jam, ngobrol santai, lalu pulang dengan kepala lebih ringan. Tapi sekarang, banyak orang mulai merasa bahkan untuk sekadar beli kopi dan duduk di coffee shop pun harus dipikir berkali-kali.
Bukan karena anak muda tiba-tiba jadi pelit atau tidak mau menikmati hidup. Masalahnya “in this economy”, biaya hidup naik jauh lebih cepat dibanding rasa aman finansial yang dimiliki banyak orang.
1. Nongkrong yang dulu murah, sekarang jadi pengeluaran tambahan

Budaya nongkrong sebenarnya bukan hal baru. Bahkan dalam banyak penelitian, nongkrong dianggap bagian penting dari hubungan sosial dan cara melepas stres. Jurnal dari Universitas Negeri Makassar berjudul "Nongkrong as a Form of Stress Coping among Teenagers in Makassar City" oleh Dyan Paramitha Darmayanti menyebut nongkrong menjadi salah satu bentuk coping stress bagi remaja dan anak muda karena memberi ruang untuk bercerita dan mendapat dukungan emosional.
Namun, situasinya berubah ketika nongkrong mulai identik dengan coffee shop modern, tempat estetik, menu mahal, dan tuntutan gaya hidup hingga bentuk aktualisasi diri. "Fenomena Ngopi di Coffee Shop Pada Gen Z" oleh Marsha Azzahra1, Ade Irfan Abdurahman, Alamsyah dari Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang, menyebutkan selain faktor kenyamanan, bentuk aktualisasi diri juga merupakan bagian dari satu kebutuhan yang wajib dipenuhi. Salahnya satunya adalah kebiasan anak muda khususnya generasi Z untuk ngopi di coffee shop yang erat kaitannya dengan bagian dari kebutuhan aktualisasi diri mereka.
Akibatnya, aktivitas yang dulu sederhana jadi terasa lebih mahal secara tidak langsung. Sekali nongkrong bisa habis Rp50 ribu sampai Rp100 ribu tanpa terasa. Kalau dilakukan beberapa kali seminggu, jumlahnya mulai mengganggu pengeluaran bulanan, terutama untuk anak muda dengan gaji pas-pasan.
2. Tekanan sosial membuat nongkrong terasa 'wajib'

Masalahnya bukan cuma harga kopi. Banyak anak muda merasa ada tekanan sosial untuk tetap ikut nongkrong agar tidak dianggap menjauh dari pertemanan. Bahkan ketika kondisi keuangan sedang sulit, sebagian orang tetap memaksakan diri demi menjaga relasi sosial.
Padahal, 'biaya sosial' seperti nongkrong, traktiran, dan ikut gaya teman ini bukan tidak mungkin bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulannya. Sementara untuk gen Z, pergi ngopi di coffee shop merupakan sebuah fenomena populer. Pasalnya ketika mereka di coffee shop, selain membeli makan dan minuman, tetapi juga membeli nilai-nilai prestise sehingga tak jarang gen Z ngopi di coffee shop hanya untuk memperoleh status sosial yang dianggap tinggi oleh orang lain.
"Dengan mengikuti tren yang sedang ada, remaja akan merasa mendapatkan pengakuan sosial atas dirinya sebagai individu yang gaul atau eksis. Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh remaja dalam beraktualisasi diri, salah satunya adalah dengan mengikuti budaya nongkrong di kedai kopi," tulis dalam penelitian Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang.
Jadi ketika semua teman nongkrong di tempat tertentu, muncul rasa takut tertinggal atau dianggap tidak gaul atau eksis jika tidak ikut. Akhirnya, nongkrong bukan lagi murni soal menikmati waktu santai, tetapi juga menjaga posisi sosial.
3. Biaya hidup naik, ruang 'bernapas' makin sempit

Banyak anak muda sebenarnya tidak keberatan sesekali menikmati kopi mahal. Masalahnya, sekarang hampir semua kebutuhan dasar ikut naik. Harga sewa tempat tinggal, makanan, transportasi, internet, sampai kebutuhan keluarga terus bertambah.
Penelitian tentang tekanan finansial dan kesehatan mental berjudul Incorporating Financial Hardship in Measuring the Mental Health Impact of Housing Stress dari Cornell University, menemukan bahwa kesulitan ekonomi dan tekanan biaya hidup seperti sewa tempat tinggal, punya dampak nyata terhadap kesehatan mental seseorang. Orang yang mengalami tekanan finansial cenderung lebih mudah cemas dan merasa tidak aman terhadap masa depan.
Itulah kenapa bagi yang punya gaji pas-pasan, terkadang bisa cepat habis karena memenuhi kebutuhan dasar saja. Jadi, untuk nongkrong ngopi yang dulu terasa kecil, sekarang bisa menyedot pengeluaran cukup besar.
4. Coffee shop sekarang bukan sekadar tempat ngopi

Penelitian dari IPB University berjudul Purchasing Decisions and Consumer Preferences of Millennials and Zoomers at Coffee Shops, menunjukkan bahwa generasi muda memilih coffee shop bukan hanya karena rasa kopi, tetapi juga karena suasana, kenyamanan, dan pengalaman sosial yang diberikan tempat tersebut. Artinya, yang dibeli sekarang bukan cuma minuman.
Orang juga membayar tempat estetik, WiFi, suasana tenang, playlist musik, sampai rasa 'terlihat produktif' ketika membuka laptop di cafe. Di titik ini, nongkrong berubah menjadi pengalaman gaya hidup.
"Kedai kopi bukan lagi sekadar tempat untuk menikmati minuman, tetapi telah menjadi ruang sosial dan bagian dari gaya hidup," hasil penelitian Universitas Pakuan dalam jurnal Changes In Gen Z Travel Preferences In Filling Leisure Time At Coffee Shop, Jabarano Coffee Dago menambahkan.
Karena itu, banyak anak muda mengalami konflik batin. Mereka butuh tempat untuk healing dan bersosialisasi, tetapi di sisi lain sadar bahwa gaya hidup seperti itu tidak murah jika dilakukan terus-menerus.
5. Anak muda jadi 'serba bersalah' saat menikmati hidup

Yang cukup menyedihkan, banyak orang sekarang mulai merasa 'bersalah' bahkan saat mencoba menikmati hidup sebentar. Nongkrong jadi terasa seperti pemborosan, padahal dulu itu bagian normal dari kehidupan sosial.
Perasaan seperti ini makin umum muncul ketika kondisi ekonomi tidak stabil. Orang jadi sulit membedakan antara self reward yang sehat dan perilaku konsumtif. Akibatnya, banyak anak muda hidup dalam mode bertahan terus-menerus tanpa benar-benar menikmati hasil kerja mereka sendiri.
Padahal, sebagai manusia kita tetap membutuhkan hiburan, relasi sosial, dan ruang istirahat mental. Masalahnya bukan pada nongkrong atau ngopinya, tetapi pada kondisi ekonomi yang membuat aktivitas sederhana terasa seperti kemewahan.
Pada akhirnya, alasan kenapa sekarang nongkrong ngopi terasa harus dipikir dua kali bukan semata karena harga kopi mahal. Masalah utamanya adalah biaya hidup yang terus naik hingga peluang kerja yang makin sulit dicari, sementara rasa aman secara finansial semakin menurun.



















