ilustrasi dua orang sedang berdebat (pexels.com/Kindel Media)
Ada titik ketika diskusi sudah tidak lagi menghasilkan pemahaman baru. Kalau setiap percakapan tentang demo selalu berakhir dengan saling mengejek, menganggap pihak lain bodoh, atau memaksakan kesimpulan sendiri, tidak ada gunanya terus mencari siapa yang paling benar. Kamu bisa tetap memegang pandangan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis tanpa harus membuat setiap teman menerima pandangan yang sama.
Kalimat sederhana seperti, “Gue paham kenapa lo terganggu sama dampaknya, tapi gue juga punya alasan kenapa gue melihat aksi sebagai cara menyampaikan aspirasi” kadang jauh lebih berguna daripada perdebatan panjang. Kalian tidak harus mencapai kesepakatan politik untuk tetap bisa makan bersama, bercanda, membahas pekerjaan, atau saling membantu ketika salah satu sedang membutuhkan teman. Pertemanan tidak selalu membutuhkan pandangan yang sama; yang lebih penting adalah masih ada rasa hormat ketika pandangan kalian memang berbeda.
Kalau kamu tetap ingin mencoba cara menjaga pertemanan meski berbeda sikap soal demo, tidak perlu memaksakan agar obrolan politik selalu berakhir dengan titik temu. Ada kalanya kamu cukup tahu bahwa temanmu punya alasan tersendiri untuk tidak turun ke jalan, sementara kamu punya alasan sendiri untuk menganggap menyampaikan aspirasi secara langsung tetap penting, terutama di negara demokrasi. Perbedaan itu boleh tetap ada, selama tidak membuat kalian kehilangan rasa hormat satu sama lain ketika membicarakannya.