ilustrasi ngobrol (pexels.com/ Ivan Samkov)
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika menolak adalah memberikan terlalu banyak alasan. Karena merasa bersalah, kamu mungkin menjelaskan jadwal secara panjang lebar, meminta maaf berkali-kali, atau memberikan alasan yang sebenarnya tidak perlu.
Akibatnya, penolakan terdengar seperti permintaan izin dan membuat orang lain merasa masih bisa membujukmu. Psikiater bersertifikat sekaligus Clinical Assistant Professor of Psychiatry di Northeast Ohio Medical University, Dimitrios Tsatiris, M.D., menjelaskan bahwa batas yang sehat perlu disampaikan secara jelas.
"Saat menetapkan batasan dengan anggota keluarga atau teman, pastikan kamu menyatakan batasan tersebut dengan jelas. Saat berkomunikasi, cobalah untuk tidak menjelaskan secara berlebihan. Penjelasan yang berlebihan 'mengundang' seseorang untuk membantu menyelesaikan konflik kamu. Saran yang tidak diminta ini mungkin ditawarkan dengan niat membantu, tetapi bisa menyebabkan masalah dengan batasanmu," jelasnya dalam Psychology Today.
Kamu bisa menggunakan kalimat seperti, “Terima kasih sudah mengajakku, tetapi kali ini aku tidak bisa ikut,” atau “Aku belum bisa membantu untuk hal itu.” Jika memang perlu, tambahkan alasan singkat seperti, “Aku sudah punya agenda lain.” Kamu tidak harus membuat alasan yang rumit agar penolakanmu dianggap valid. Semakin jelas pesanmu, semakin kecil kemungkinan orang lain salah memahami keputusanmu.