ilustrasi perempuan sedang berbelanja (unsplash.com/Arturo Rey)
Ada beberapa alasan yang membuat girl math mudah diterima di media sosial:
Hampir semua orang pernah mencari alasan untuk membenarkan sebuah pembelian. Misalnya, “mumpung diskon”, “sudah lama diincar”, atau “kalau dihitung per pemakaian sebenarnya murah”. Girl math mengubah kebiasaan tersebut menjadi candaan. Kita bisa menertawakan diri sendiri tanpa harus merasa terlalu serius soal kebiasaan belanja.
Topik keuangan sering kali terasa serius. Membicarakan pengeluaran, tabungan, atau kebiasaan konsumtif bahkan bisa membuat seseorang merasa dihakimi. Sebaliknya, girl math membicarakan uang dengan cara yang santai. Istilah ini tidak hadir sebagai nasihat keuangan, melainkan sebagai humor tentang berbagai cara manusia memperlakukan uang dalam kehidupan sehari-hari.
Meski terdengar konyol, beberapa contoh girl math sebenarnya berkaitan dengan cara manusia mengambil keputusan finansial. Salah satunya adalah menghitung biaya per pemakaian atau cost per use. Membeli barang mahal memang bisa terasa lebih masuk akal jika barang tersebut benar-benar digunakan dalam jangka panjang. Namun, perhitungan tersebut baru bermanfaat jika digunakan secara realistis, bukan sekadar sebagai alasan untuk berbelanja.
Begitu pula dengan pembayaran non-tunai. Ketika uang tidak benar-benar berpindah dari tangan kita, pengeluaran terkadang terasa tidak terlalu nyata. Inilah salah satu alasan mengapa membayar menggunakan kartu atau dompet digital bisa terasa berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan uang tunai.