ilustrasi orang sedang menatap layar laptop (pexels.com/Gustavo Fring)
Sejumlah alasan kenapa penyandang invisible disability kerap dianggap akting adalah karena bias kognitif dan rendahnya literasi masyarakat. Masyarakat kerap mengidentifikasikan sebuah penyakit dengan indikator fisik yang kasat mata, seperti wajah pucat, penggunaan alat bantu jalan, perban, dan luka yang terlihat. Nah, indikator semacam itu tentu gak ditemukan pada diri seorang pejuang penyakit kronis. Selain itu, literasi terkait invisible disability di antara masyarakat terbilang masih rendah. Minimnya informasi ini tentu akan melahirkan penghakiman sepihak. Seseorang mungkin akan baru percaya kalau sudah pingsan. Jadi, selama masih bisa tersenyum, sakitnya hanya akting atau pura-pura saja.
Berdasarkan faktor penyebab tersebut, sejumlah solusi yang bisa kita terapkan bersama untuk memutus stigma ialah dengan membudayakan validasi, alih-alih penghakiman. Literasi juga diperlukan seperti dengan melakukan kampanye edukasi terkait disabilitas tak tampak. Literasi yang meningkat bisa dibarengi dengan upaya mengakomodasi kebutuhan mereka.
Contoh upaya ini seperti inisiasi May I Have a Seat Please dari Singapura. Inisiasi ini membantu penumpang disabilitas tak tampak mendapatkan tempat duduk di transportasi umum. Selain itu, ada juga Help Mark dari Jepang. Program ini diinisiasi oleh pemerintah Tokyo untuk membantu penyandang disabilitas tak tampak. Sementara itu, di Indonesia, ada Lanyard Disabilitas Taktampak (IRA) sebagai bentuk kepedulian bagi pasien reumatik autoimun.
Jadi, berhenti mengukur tingkat keparahan sakit seseorang hanya dari apa yang terlihat, ya. Sehat itu anugerah dan menjadi manusia yang peka terhadap keterbatasan orang lain adalah pilihan yang berharga.